“Penyembuhan adalah tentang menerima rasa sakit dan menemukan cara untuk berdamai dengan perasaan itu. Dalam lautan kehidupan, rasa sakit
adalah gelombang pasang dan surut yang akan secara terus menerus merajutmu
menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”
Perjalanan
dari rumah sakit menuju rumah kali ini terasa jadi sangat jauh untuk Luiz
Fernandes dan Halilintar. Sepanjang jalan Halilintar muntah terus karena efek
chemo yang di jalani semalam masih tetap terasa. Anak bungsu Fernandes ini
sudah sangat terkuras energinya, namun masih bisa bertanya, “Pa, Nenek di rumah ya?”.
“Iya Nak, memangnya
kenapa?”, tanya Fernandes
bingung.
“Kalau begitu jangan
langsung pulang Pa! Bisa mampir nggak ke supermarket sebentar? Tolong papa
beliin makanan ringan lagi dong Pa… Kasihan Nenek nanti kalau melihat aku
begini nanti”,
jawab Halilintar. Ternyata ia sedang mencemaskan reaksi neneknya di rumah
melihat kondisinya yang lemas karena kebanyakan muntah.
“Ok deh Bos!”, sambung Fernandes lagi sambil
tersenyum penuh arti pada Toby anak sulungnya.
Toby
pun hanya tersenyum pahit sambil mengurut urut leher adiknya di kursi belakang
mobil.
Sesampai
di rumah, di depan gerbang sudah berdiri menunggu Ny. Hector Fernandes, Nenek
Halilintar dengan muka gelisah dan sangat murung. Mobil belum terparkir
sempurna, Ny. Hector sudah bergegas membuka pintu belakang, dan langsung
memeluk Halilintar erat sekali.
“Cucuku!... kuat
sekali kamu sayang?”,
ujarnya sambil menangis. “Kalau papa mu
dulu, baru sakit perut saja sudah menangis terus dia itu”, tambah ibu
Fernandes lagi sambil menuntun Halilintar berjalan masuk ke dalam rumah.
Dengan
wajah di buat lucu sekali, dan sedikit menggoyang-goyang kepalanya, Halilintar
berkata pada Neneknya, “Nenek lebay ah…Ini
kan sudah 14 kali, gampil ini maaaah!”.
Fernandes
buru buru mengalihkan pandangannya ke-arah lain, ada air mata yang tanpa
permisi mengalir di pipinya. Ia menyusutnya perlahan dengan gerakan yang tak
terlihat, dan kembali menatap puteranya dengan senyum. Begitu tabah Si Bungsu
ini.
Ia tak ingin orang lain bersedih karena keadaannya, sampai ia memaksakan
diri bercanda, padahal Fernandes tahu sekali, anaknya masih sangat mual dan
pasti juga pusing karena perasaan mual yang sangat mengganggu itu.
Halilintar
menoleh pada Fernandes lagi, “Pa!...Kan
sudah di rumah. Maskernya sudah boleh di lepas ya?”.
Dokter
memang menyarankan agar Halilintar tetap mempergunakan masker pada waktu berada
di tempat umum, karena pertahanan tubuhnya pada saat menjalani chemoteraphy
sedang tidak ada sama sekali.
Fernandes
mengangguk sambil membimbing tangan anak bungsu yang sangat ia kasihi ini masuk
ke kamar tidur dan meminta Toby untuk ikut menemani Halilintar.
Setelah
itu Fernandes , pamit pada kedua anaknya akan keluar rumah sebentar untuk sebuah
urusan penting.
**********************************
Sudah
pukul 19:00 sore ini, dan Maria Pedrosa belum muncul juga. Ia tidak ikut pulang
tadi karena harus melanjutkan pekerjaannya di rumahsakit. Saat ini, Luiz
Fernandes duduk di depan rumah dan sebentar sebentar melihat ke ujung jalan
berharap sepeda motor yang biasa di kendarai Maria segera terlihat.
Ya,
Fernandes terlihat gelisah sekali. Ada sesuatu yang akan di kabarkannya pada
Maria.
Upaya
yang dilakukan Fernandes ke pihak gereja demi sebuah restu atau ijin untuk
menikah lagi dengan Maria, upaya yang ke-tujuh kalinya gagal lagi hari ini.
“Kami tidak mungkin
menerima perceraianmu Luiz,,karena meski sah secara hukum negara, perceraian
itu kami pandang tidak sah secara hukum gereja! Kamu sendiri kan tahu hukum “”Apa
yang di persatukan ALLAH tidak akan dapat di pisahkan oleh manusia kecuali
karena kematian dan…zinah!”,
demikian penjelasan Pdt. Hores Hesekiel Fernandes tadi sore.
“Tapi perceraian saya
memang karena alasan perzinahan yang di lakukan Dolores Bapa!”, jawab Fernandes dengan suara sangat
putus asa. Suaranya hampir terdengar seperti tangisan pelan bagi Pdt. Hesekiel.
“Mana??? Coba di mana
itu tertulis pada Amar Putusan Pengadilan perceraianmu Luiz?? Coba tunjukkan!”, kali ini Pdt. Hesekiel suaranya
meninggi dalam berbicara.
Secara
jujur di dalam hati kecilnya, sebenarnya Pendeta ini sudah lama kenal Fernandes.
Bahkan sejak ia masih bersekolah pada tingkat lanjutan. Ia tahu betul Fernandes
tidak berdusta.
Ia masih ingat semua. Pendeta ini masih ingat masa remaja Luiz
Fernandes.
Ketika Miguel Hector
Fernandes, ayah dari Luiz Fernandes yang adalah seorang pemeluk agama muslim
memaksa Luiz untuk berpindah agama, Luiz Fernandes memilih untuk keluar dari
rumah dan menggelandang di terminal bis
di kota Almeria, mengais rejeki dengan menjadi pengemudi angkutan kota disana sambil
terus bersekolah di pagi hari, karena ia sangat mencintai agamanya…Kristen.
Ya,
Luiz Fernandes sangat mencintai TUHAN. Dan itu bisa ia lihat sampai sekarang. Bertindak
seperti pengemis, Luiz Fernandes lebih memilih terus berupaya mendapatkan
pengakuan atas perceraiannya dari pihak gereja, terus berupaya menemui setiap
gereja dan pendeta yang ia kenal, dari pada melakukan hal mudah, berpindah
agama menjadi seorang muslim, dan bisa segera menikah dengan nona Maria. Hal
itu pasti di sukai oleh kakak sepupu jauh-nya, Miguel.
Kesulitan yang di alami
Luiz saat ini mendapat pengakuan karena alasan perceraiannya ketidak-harmonisan
keluarga. Itu yang tertulis pada Amar Putusan Pengadilan. Dan Sang Pendeta juga
tahu alasan Luiz tidak menuliskan perzinahan Dolores sebagai alasan adalah karena
pertimbangan kemanusiaan.(Baca; CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 2 )
Tapi,
ia tak berdaya menolong Fernandes. Ia tahu restu dan pengakuan dari pihaknya akan
memancing reaksi keras dari umat, terutama karena ia tahu betul berdasarkan
penuturan Fernandes, keluarga Maria tidak menyetujui rencana pernikahan Maria
dengan keponakannya ini.
Fernandes
pun pamit pada Pendeta Hesekiel. Dengan wajah sangat sedih, ia hanya minta agar
di doakan. Dan, di luar dugaan, Sang Pendeta menyodorkan secarik kerats yang ia
sudah tulis sebelumnya.Fernandes menerima kertas itu, mencium tangan Sang Pendeta
dan segera keluar dari gereja itu.
Sesampai
di dalam mobil, Fernandes tak segera bergerak. Ia mengeluarkan kertas pemberian
Pdt. Hesekiel dan membacanya terlebih dahulu. Hmm, hanya sebaris kalimat dari
ayat Alkitab!
“Ketuklah pintu, maka
kepadamu akan di bukakan…Mintalah, maka kepadamu akan di berikan!”
Tiba
tiba Fernandes melihat secercah sinar yang mengganggu penglihatannya. Sinar
dari lampu sepeda motor yang di kendarai Maria.
“Selamat
malam Luizzz!..”, sapa Maria dari atas sepeda motornya.
Bersambung..



