Jumat, 03 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 12



Penyembuhan adalah tentang menerima rasa sakit dan menemukan cara untuk berdamai dengan perasaan itu. Dalam lautan kehidupan, rasa sakit adalah gelombang pasang dan surut yang akan secara terus menerus merajutmu menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”



Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah kali ini terasa jadi sangat jauh untuk Luiz Fernandes dan Halilintar. Sepanjang jalan Halilintar muntah terus karena efek chemo yang di jalani semalam masih tetap terasa. Anak bungsu Fernandes ini sudah sangat terkuras energinya, namun masih bisa bertanya, “Pa, Nenek di rumah ya?”.

“Iya Nak, memangnya kenapa?”, tanya Fernandes bingung.

“Kalau begitu jangan langsung pulang Pa! Bisa mampir nggak ke supermarket sebentar? Tolong papa beliin makanan ringan lagi dong Pa… Kasihan Nenek nanti kalau melihat aku begini nanti”, jawab Halilintar. Ternyata ia sedang mencemaskan reaksi neneknya di rumah melihat kondisinya yang lemas karena kebanyakan muntah.

“Ok deh Bos!”, sambung Fernandes lagi sambil tersenyum penuh arti pada Toby anak sulungnya.
Toby pun hanya tersenyum pahit sambil mengurut urut leher adiknya di kursi belakang mobil.

Sesampai di rumah, di depan gerbang sudah berdiri menunggu Ny. Hector Fernandes, Nenek Halilintar dengan muka gelisah dan sangat murung. Mobil belum terparkir sempurna, Ny. Hector sudah bergegas membuka pintu belakang, dan langsung memeluk Halilintar erat sekali.

“Cucuku!... kuat sekali kamu sayang?”, ujarnya sambil menangis. “Kalau papa mu dulu, baru sakit perut saja sudah menangis terus dia itu”, tambah ibu Fernandes lagi sambil menuntun Halilintar berjalan masuk ke dalam rumah.

Dengan wajah di buat lucu sekali, dan sedikit menggoyang-goyang kepalanya, Halilintar berkata pada Neneknya, “Nenek lebay ah…Ini kan sudah 14 kali, gampil ini maaaah!”.

Fernandes buru buru mengalihkan pandangannya ke-arah lain, ada air mata yang tanpa permisi mengalir di pipinya. Ia menyusutnya perlahan dengan gerakan yang tak terlihat, dan kembali menatap puteranya dengan senyum. Begitu tabah Si Bungsu ini. 
Ia tak ingin orang lain bersedih karena keadaannya, sampai ia memaksakan diri bercanda, padahal Fernandes tahu sekali, anaknya masih sangat mual dan pasti juga pusing karena perasaan mual yang sangat mengganggu itu.

Halilintar menoleh pada Fernandes lagi, “Pa!...Kan sudah di rumah. Maskernya sudah boleh di lepas ya?”.

Dokter memang menyarankan agar Halilintar tetap mempergunakan masker pada waktu berada di tempat umum, karena pertahanan tubuhnya pada saat menjalani chemoteraphy sedang tidak ada sama sekali.

Fernandes mengangguk sambil membimbing tangan anak bungsu yang sangat ia kasihi ini masuk ke kamar tidur dan meminta Toby untuk ikut menemani Halilintar. 

Setelah itu Fernandes , pamit pada kedua anaknya akan keluar rumah sebentar untuk sebuah urusan penting.

**********************************


Sudah pukul 19:00 sore ini, dan Maria Pedrosa belum muncul juga. Ia tidak ikut pulang tadi karena harus melanjutkan pekerjaannya di rumahsakit. Saat ini, Luiz Fernandes duduk di depan rumah dan sebentar sebentar melihat ke ujung jalan berharap sepeda motor yang biasa di kendarai Maria segera terlihat.
Ya, Fernandes terlihat gelisah sekali. Ada sesuatu yang akan di kabarkannya pada Maria.

Upaya yang dilakukan Fernandes ke pihak gereja demi sebuah restu atau ijin untuk menikah lagi dengan Maria, upaya yang ke-tujuh kalinya gagal lagi hari ini.

“Kami tidak mungkin menerima perceraianmu Luiz,,karena meski sah secara hukum negara, perceraian itu kami pandang tidak sah secara hukum gereja! Kamu sendiri kan tahu hukum “”Apa yang di persatukan ALLAH tidak akan dapat di pisahkan oleh manusia kecuali karena kematian dan…zinah!”, demikian penjelasan Pdt. Hores Hesekiel Fernandes tadi sore.

“Tapi perceraian saya memang karena alasan perzinahan yang di lakukan Dolores Bapa!”, jawab Fernandes dengan suara sangat putus asa. Suaranya hampir terdengar seperti tangisan pelan bagi Pdt. Hesekiel.

“Mana??? Coba di mana itu tertulis pada Amar Putusan Pengadilan perceraianmu Luiz?? Coba tunjukkan!”, kali ini Pdt. Hesekiel suaranya meninggi dalam berbicara.

Secara jujur di dalam hati kecilnya, sebenarnya Pendeta ini sudah lama kenal Fernandes. Bahkan sejak ia masih bersekolah pada tingkat lanjutan. Ia tahu betul Fernandes tidak berdusta. 
Ia masih ingat semua. Pendeta ini masih ingat masa remaja Luiz Fernandes. 

Ketika  Miguel Hector Fernandes, ayah dari Luiz Fernandes yang adalah seorang pemeluk agama muslim memaksa Luiz untuk berpindah agama, Luiz Fernandes memilih untuk keluar dari rumah dan menggelandang  di terminal bis di kota Almeria, mengais rejeki dengan menjadi pengemudi angkutan kota disana sambil terus bersekolah di pagi hari, karena ia sangat mencintai agamanya…Kristen.

Ya, Luiz Fernandes sangat mencintai TUHAN. Dan itu bisa ia lihat sampai sekarang. Bertindak seperti pengemis, Luiz Fernandes lebih memilih terus berupaya mendapatkan pengakuan atas perceraiannya dari pihak gereja, terus berupaya menemui setiap gereja dan pendeta yang ia kenal, dari pada melakukan hal mudah, berpindah agama menjadi seorang muslim, dan bisa segera menikah dengan nona Maria. Hal itu pasti di sukai oleh kakak sepupu jauh-nya, Miguel. 

Kesulitan yang di alami Luiz saat ini mendapat pengakuan karena alasan perceraiannya ketidak-harmonisan keluarga. Itu yang tertulis pada Amar Putusan Pengadilan. Dan Sang Pendeta juga tahu alasan Luiz tidak menuliskan perzinahan Dolores sebagai alasan adalah karena pertimbangan kemanusiaan.(Baca; CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 2 )

Tapi, ia tak berdaya menolong Fernandes. Ia tahu restu dan pengakuan dari pihaknya akan memancing reaksi keras dari umat, terutama karena ia tahu betul berdasarkan penuturan Fernandes, keluarga Maria tidak menyetujui rencana pernikahan Maria dengan keponakannya ini.

Fernandes pun pamit pada Pendeta Hesekiel. Dengan wajah sangat sedih, ia hanya minta agar di doakan. Dan, di luar dugaan, Sang Pendeta menyodorkan secarik kerats yang ia sudah tulis sebelumnya.Fernandes menerima kertas itu, mencium tangan Sang Pendeta dan segera keluar dari gereja itu.

Sesampai di dalam mobil, Fernandes tak segera bergerak. Ia mengeluarkan kertas pemberian Pdt. Hesekiel dan membacanya terlebih dahulu. Hmm, hanya sebaris kalimat dari ayat Alkitab!

“Ketuklah pintu, maka kepadamu akan di bukakan…Mintalah, maka kepadamu akan di berikan!”


Tiba tiba Fernandes melihat secercah sinar yang mengganggu penglihatannya. Sinar dari lampu sepeda motor yang di kendarai Maria.

“Selamat malam Luizzz!..”, sapa Maria dari atas sepeda motornya.




Bersambung..

Rabu, 01 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 11

 
 







”Meski kau punya seribu alasan untuk marah, kau masih punya satu alasan lain untuk menahannya. Alasan untuk tetap berbahagia!!”



"Jangan lupa Halilintar check in di rumahsakit hari ini jam 17:00 yaa.. ", hanya pesan itu yang di baca Fernandes di Whatsapp Messenger dari Maria.  Ia melirik arloji di tangannya.  
Hmm... Sudah pukul dua lewat sepuluh menit. Di benahi nya berkas-berkasnya,  dan segera beranjak ke ruangan Mr. Lee. 

Baru saja dia akan mengetuk pintu, Bosnya yang sedang berbicara di telepon,  melirik dan memberi kode pada Fernandes dengan mengibas-ngibaskan tangan... menutup microfon telepon sebentar dan berujar pelan hampir mirip  bahasa bibir, ”Salam pada anakmu yaa!“.

"Glekk!!...kok dia tahu aku mau bilang apa ya?",Fernandes melongo di depan pintu Mr.  James Lee. 
"Ah sudahlah...  Aku bisa telepon nanti sambil jalan", fikir Fernandes sambil berlari kecil ke ruangannya.

Ting!!  Ting!!  Notifikasi Whatsapp nya berbunyi lagi. Sambil berlari kecil menuju lift ia membaca pesannya. Maria mengingatkan perjalanan dari kantornya menuju rumah untuk menjemput Halilintar akan memakan waktu sekitar dua jam,  sementara dari rumah ke rumahsakit akan menempuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit. 

Begitu keluar lift,  Fernandes berpapasan dengan Mr. Chan yang baru kembali dari makan siang. 

"Buru buru mau ke rumahsakit ya Pak Fernandes..? ", tanya Mr. Chan.

"Iya nih Pak... Saya duluan ya", ujar Fernandes cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat ia memarkir mobil. 

Begitu mobil keluar halaman parkir,  Fernandes meraih telepon selularnya dan menelepon ibunya. 

"Kamu sudah sampai di mana Nak? Halilintar sudah berpakaian dan siap siap dari tadi. Tapi Luiz,, Kok baru siap siap di rumah saja dia sudah muntah muntah ya? ", Ibunya langsung berbicara begitu pembicaraan tersambung. Pada waktu mengatakan kata "muntah" tadi ibunya setengah berbisik. 

Hhh... Fernandes lega. Halilintar siap untuk menjalani chemo teraphy yang ke 14.
"Kau memang pantas menyandang gelar Halilintar itu anakku", bisik Fernandes pada dirinya. 

Setelah di jemput ayahnya untuk berangkat bersama ke rumahsakit dimana Maria Pedrosa sudah menunggu,  Halilintarpun masuk ruang perawatan dimana proses chemo akan berjalan.

.......................................................................

Dan akhirnya proses chemo teraphy pun selesai pada pukul 24:00 tengah malam,  setelah berjalan selama tidak kurang dari empat jam. Tak terlukiskan betapa menderitanya Si Putera Halilintar menjalani proses ini. Berulang kali muntah sepanjang proses membuatnya sangat kehilangan tenaga. Luiz Fernandes maupun Maria Pedrosa tak terhindar dari rasa sedih menyaksikan perjuangan Hallintar.

Meski begitu,  tak sedikitpun terlihat ada rasa jera di wajah Halilintar. Ia malah meminta pada ayahnya agar di belikan cemilan atau makanan kecil yang memberi tenaga ekstra padanya dan paling tidak mengalihkan perhatiannya dari aroma menusuk obat chemo yang masuk lewat nadinya dan membuatnya tak bisa berhenti muntah-muntah. 

Menjelang pagi, saat anak nya dan Maria sudah terlelap,  tiba tiba notifikasi Whatsapp nya berbunyi. Fernandes terkejut.  Ia melihat arloji di tangannya,, sudah pukul 4:00 pagi hari. 

"Siapa yang kirim pesan se-pagi ini..?? ", Fernandes bingung dan segera meraih telepon selularnya.  Tak lupa ia mengambil juga kaca-mata plus miliknya yang tergeletak di samping kepala Halilintar dan berjalan keluar kamar menuju koridor rumahsakit untuk membaca pesan itu. 

"Apa???... Mau apa Dolores mengirim pesan sepagi ini???? ", Fernandes  kaget luar biasa membaca nama dari si pengirim pesan. 

"Sayang.. ! Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesali semuanya. Sebenarnya akupun hancur dengan keadaan rumahtangga kita Luiz! 
Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu..  Aku benar benar tak rela kalau kau benar benar akan menikahi Nona Maria Pedrosa! TUHAN pun tak akan mengijinkannya Luiz!! ", muka Fernandes langsung merah padam membaca pesan dari mantan isterinya itu. 

Bukannya perduli dan bertanya tentang keadaan Halilintar, perempuan yang kini sangat di benci Fernandes ini malah berusaha merayu lagi. 
Fernandes mengepalkan tangan pertanda ia sangat emosi. 

"Setelah enam tahun berlalu tanpa penyesalan dan kata maaf,  sekarang karena kehadiran Maria,  manusia ini mau merusak kehidupanku lagi", kini bukannya hanya mengepalkan tangannya Fernandes bahkan memukul dinding tempatnya bersandar. 
Tapi selanjutnya ia kaget sendiri. Suara dinding yang ia pukul,  membuat seorang pria yang tidur di ujung koridor tersentak bangun. 

Fernandes buru buru menepuk tangan lagi sambil memutar mutar mata dan kepalanya berpura pura terganggu oleh seekor nyamuk di sekitar kepalanya. 

"Waaah..  Walau ruangan ber-AC ternyata ada nyamuk juga ya Pak", Fernandes menyapa orang itu sekenanya sambil cengengesan karena merasa serba salah.  Muka orang itu terlihat cemberut marah karena terganggu. 
Fernandes kembali termenung. Perempuan ini benar benar berhasil membuatnya terpancing emosi kali ini. Meski telah mengubur dalam-dalam segala yang berkaitan dengan Dolores, pesan ini yang di kirim sepagi ini membuat kebenciannya terusik lagi. Perbuatan orang ini yang telah membuat ibunya akhirnya terkena serangan jantung, anak anaknya sempat drop mentalnya,dan juga yang menyebabkan  Fernandes harus berjuang sendiri menanggung akibat itu selama lebih dari enam tahun. Kini semua kepahitan itu berputar lagi bak film dokumenter di kepalanya.

"Bagimana mungkin orang ini mampu mengetik kata kata rayuan lagi setelah semua yang di perbuatnya??", Fernandes benar benar tak habis fikir.

"Kamu nggak tidur ya Luiz..?", Fernandes tersentak kaget, Maria tiba tiba sudah ada di belakangnya. Rupanya ia terbangun dan akhirnya menyusul keluar kamar melihat Fernandes tak ada lagi di sofa kamar perawatan.

"Sini...! Duduk sini Maria.. ", ajak Fernandes lembut sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya. 








Senin, 30 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 10











“Meratapi dan menyesali masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Bangkit dan perbaiki setiap kesalahan yang ada”.







“Saya fikir, tindakan ini bukanlah tindakan bijaksana. Customer kita akan menganggap perusahaan kita terlalu arogan dengan mengajukan Surat seperti ini. Mereka sudah memberikan lahan mereka untuk di dirikan signage bagi kita sebagai sarana iklan Pak!”, Fernandes menjelaskan argumentasinya dengan berapi-api pada Marketing Head Division, Mr. Tommy Chan.

“Lantas menurut Bapak, kita harus bagaimana? Ini permintaan Ibu pemilik perusahaan ini…Saya bisa apa?”, jawab Mr. Tommy Chan memelas.

“Tidak apa apa Pak,,Kita tetap melaksanakan perintah tersebut. Tetapi jangan begini redaksinya..Ini terlalu arogan! Tolong di rubah menjadi bentuk Tanda Terima saja , dan bukan syarat pendirian fasilitas signage”, tambah Fernandes lagi.

“Ya sudah Pak, saya percaya Bapak tahu yang terbaik. Jangan sampai langkah saya menghalangi terobosan apapun yang divisi bapak lakukan. Ok! Saya akan minta sekretaris saya mengedit redaksinya dan nanti langsung di ajukan ke Bapak lagi..Saya permisi dulu!”, Mr. Chan akhirnya pamit keluar ruangan Fernandes.

Fernandes menarik nafas dalam.. Hampir saja Surat itu terkirim ke customer mereka. Dan ia bisa membayangkan reaksi dari orang orang seperti Tuan Adolfo atau Tuan Alvaro membaca redaksi itu.

Setengah jam kemudian, Neva sekretaris Mr. Tommy Chan datang lagi dan menyodorkan selembar Surat. Fernandes membaca kata demi kata yang tertulis di Surat tersebut dengan teliti, mencoret dan menambahkan beberapa kata dan akhirnya menanda-tanganinya.

“Looks Ok Neva,,Terimakasih ya! Dan tolong bilang terima kasih juga pada Mr. Chan..Kalau sudah selesai, beritahu saya segera ya, saya akan atur orang saya untuk mengeksekusinya”, ujar Fernandes sambil menyerahkan Surat itu kembali pada Neva.

Ting!...Ting! Bunyi notifikasi Whatsapp Messenger di telepon nya. Fernandes meraih telepon nya dan melihat. 

“Luiz..!”, hanya kata itu yang ada di kolom pesan. Ia melihat ke atas screen dan..”hmm..”.
 
Amara Oliveria Bonaro adalah sepupu dari pihak ayahnya. Ibu Amara, Nyonya Verdelita Fernandes yang menikah dengan seorang terpandang bernama Alfredo Bonaro adalah kakak kandung ayah Fernandes. 
Kakak sepupunya yang sedang sibuk menyusun disertasi untuk program doctoral nya ini memang kebiasaan hanya mengetik namanya saja ketika membuka percakapan di chatting. 
Amara ini adalah sepupunya yang ia rasa paling dekat dengan dirinya di antara sepupu-sepupunya yang lain. Fernandes tersenyum membacanya..

“Iya kakak ku yang cantik?”, Fernandes mengetik balasan dengan sangat cepat.

Hampir lima belas menit ia habiskan berbalas-balasan pesan dengan Amara yang belakangan membuat wajahnya muram. Kakak sepupunya ini memberitahu bahwa berita miring tentang dirinya sebenarnya bersumber dari cerita bohong yang di hembuskan oleh Leandro adiknya. Ya, Leandro Ritchie Fernandes adalah adik kandung dari Luiz Fernandes. 
Menurut Amara, Leandro lah yang sering mengatakan bahwa Luiz Fernandes suka sekali berganti-ganti wanita. Berita miring ini tentu saja membuat beberapa keluarga tidak senang dan bahkan merasa Luiz Fernandes sudah melalui jalan yang salah.

“Terus menurut Kakak bagaimana?”, tanya Fernandes ingin menyelidik pendapat dan pandangan Kakak sepupu yang ia sayangi ini.

“Ya menurut ku, kamu nggak usah fikirkan lah Luiz. Ke Mama sih sedapat mungkin Kakak sudah klarifikasi apa yang sebenarnya. Tapi yaaah,,ke orang lain memang bukan urusan kakak sih. Sepanjang apa yang sedang kamu jalani sudah benar menurut kamu, jalani saja Luiz”, Amara dengan cepat membalas.

Fernandes termenung sesaat. Entah untuk alasan apa Leandro melakukan ini. Padahal meski sejak pertama Halilintar jatuh sakit Leandro tidak menghubungi nya sama sekali apalagi menjenguk, Fernandes tidak ingin berfikir negative pada adiknya ini. Ia justru mengatakan pada ibunya kalau Leandro sedang sibuk sekali.

Tok..Tok..Tok! Pintu ruangan kerja Fernandes di ketuk meski sedang terbuka lebar. Fernandes tersenyum melihat orang yang berdiri di depan pintu. Mr. James Lee.

“Apa yang Pak Fernandes fikirkan hmm? Muka sampai di tekuk seperti itu Pak Fernandes..? Nggak enak di lihat orang lho!”, sambil tersenyum Mr. Lee berjalan masuk ke ruangan Fernandes dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan Fernandes.

Bos-nya yang satu ini memang sering kali datang ke ruangan nya untuk sekedar bercakap-cakap. Kadang Fernandes yang bercerita panjang lebar tentang keadaannya maupun keadaan anaknya. 
Di saat lain Mr. Lee yang banyak bercerita tentang dirinya. Fernandes tidak berani untuk menyimpulkan bahwa mereka cukup akrab, namun dalam keadaan tertentu yang memaksa Fernandes mengambil keputusan keputusan pribadi, meski tidak berhubungan dengan pekerjaan, Mr. Lee orang yang sering ia minta pendapat.

“Benar kata sepupu anda Pak Fernandes!.. Anda tidak perlu membiarkan penilaian orang mempengaruhi keputusan dan jalan hidup anda kalau anda memang sudah meyakini itu benar. Apalagi setahu saya, anda ini rajin sekali berdoa. Saya fikir, anda pasti mendoakan dulu keputusan anda sebelum mengeksekusinya kan?”, Mr. Lee memberi tanggapan serius setelah mendengar penuturan Fernandes.

Fernandes kemudian menarik nafas panjang. Terlihat ia lega sekali. Pendapat dua orang ini yang jelas ber-pendidikan tinggi dan ber-wawasan luas rasanya cukup sebagai pertimbangan dan kekuatan baginya.

Mr. Lee kemudian membicarakan maksud kedatangannya ke ruangan Fernandes sebelumnya. Mereka berdiskusi cukup alot. Terlihat Fernandes sampai mengambil secarik kertas, mencorat coret dan menggambar di sana-sini sambil berbicara memberi penjelasan. Tak cukup satu lembar, ia pun mengambil lagi kertas lainnya. Mr. Lee pun memanggut manggut tanda mengerti apa yang Fernandes sampaikan.

Tak lama, Mr. Lee tersenyum sambil berdiri. Raut wajahnya terlihat sangat puas. Kemudian ia pun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Fernandes.

“Saya beruntung bertemu anda Pak Fernandes! Saya tidak habis fikir Mafioso-mafioso itu tidak dapat melihat potensi yang anda miliki…”, Mr. Lee menutup pembicaraan dengan suara mantap sambil bersalaman dengan Fernandes.

“Ah Bapak terlalu berlebihan mengungkapkannya Pak…”, dengan raut muka malu Fernandes menjawab sambil tersenyum pada Mr. Lee.

Sepeninggal Mr. Lee, Fernandes membuka laptopnya dan memeriksa beberapa file yang sebelumnya telah ia buat.

Ting..! Ting..! Notifikasi berbunyi lagi. Ia melihat, kali ini dari orang yang ia tunggu tunggu. Maria Pedrosa!





CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 9







“Cinta adalah seberapa baik engkau dapat menyembunyikan tangis. Seberapa berhasil engkau mengubahnya menjadi sebuah tawa”.


Seperti biasa, pagi ini Luiz Fernandes berkendara menuju kantornya sambil mendengar lagu The Power Of Love. Wajahnya tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian malam, hari ini tepat satu bulan yang lalu. Ya pada pukul tujuh malam tanggal 29 September 2016 menjadi momen yang sangat berkesan baginya.

Luiz Fernandes gelisah luar biasa. Sebentar sebentar ia melirik arloji di tangannya. Sebelum duduk di taman ini di belakang rumahnya, ia sudah memberi pesan pada Ibunya, pada Toby dan Halilintar, bila Maria Pedrosa pulang dari bekerja, tolong beritahu bahwa ia menunggu di taman belakang. Ia bertekad akan memberanikan diri bicara serius dengan Maria kali ini.

Bayangan seseorang terlihat akan keluar dari pintu belakang rumah, dan keringat Fernandes tiba tiba menjadi luar biasa deras keluar. Ia panik

”TUHAN! Bantu aku agar berani kali ini. Beri petunjukmu ya TUHAN!”, Fernandes berbisik pada dirinya sendiri.

Akhirnya yang di nanti-nanti benar-benar keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju Fernandes. Maria Pedrosa terlihat sudah mandi dan berdandan setelah pulang bekerja tadi. Dan,,,,,

”Oh TUHAN! Dia berdandan…”, bisik Fernandes lagi entah panik karena apa.

“Kamu sudah lama pulang Luiz?”, sapa Maria dengan senyumannya yang khas sambil duduk di kursi taman di depan Fernandes.

”Hmm,,I..Iya Maria! Hmm..aku..aku…”,Fernandes terdengar sangat gugup sekali.

”Aku..sengaja pulang lebih awal hari ini”. Akhirnya ia mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Hahahaha…kamu kenapa Luiz?”, Maria tertawa lucu sekali melihat kegugupan Fernandes. 

“Kamu persis seperti copet yang akan di proses verbal polisi sehabis beraksi dan tertangkap! Kamu kenapa?”, lanjut Maria lagi.

Fernandes tersenyum kecut. Ia tahu, tingkahnya jadi sangat konyol kalau begini. Tapi mau bagaimana? Ia tak sanggup melawan debaran jantungnya yang jadi tambah kelewatan nakalnya. Berdetak tanpa irama, persis bedug yang di pukul anak-anak kecil di malam takbiran.

“Maria…ehmm…aku.. aku mau bicara se..seriuss dddengan kkkamu mmmalam ini be..bebe..bolehkan? Tapi…ehm…ehm…aku..harap..jjjangan sa….salah paham yaaa?”, kata kata ini jadi tak jelas artinya karena Fernandes luar biasa takut memulai topik yang sebenarnya ingin ia bicarakan. 

Maria memalingkan muka ke sisi yang lain sekejap, tersenyum senyum lucu dan berbisik sendiri di dalam hati.

 “Hmmm…sepertinya aku tahu Luiz mau bicara apa! Matanya tak bisa berdusta”. 

Kali ini dia benar benar ingin menggoda Fernandes lebih jauh. Ia memasang muka cemas terlebih dahulu dan berpaling lagi menghadap Fernandes.

“Ma..ma..maaf Luiz….!Mungkin aku terlalu lama pulang ya? Sehingga aku ku…ku…rang sesuai me..me..nurut penilaianmu mengurus Halilintar? Kalaupun kkkkamu mau pecat aku sekarang…aku ppppasrah Luizz!..”, Maria pura-pura meniru kegugupan Fernandes dan bertingkah seolah menjadi sangat khawatir akan di pecat.

Mata Fernandes pun terbeliak karena kaget dengan reaksi Maria. Ia tak menyangka Maria akan salah paham sebelum ia berbicara banyak.

” Aduh…! Bukan..Bukan itu Maria! Sumpah demi TUHAN bukan itu!!!”, cepat sekali Fernandes berbicara sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

Maria berpaling lagi dan melepaskan rasa lucu dalam hatinya sambil tersenyum. Ia tak ingin Fernandes melihat senyumannya kali ini.

“Terus? Ini masalah apa Luiz?...Bicaralah! Aku terikat kontrak kerja denganmu sampai dengan tanggal  Dua Puluh Tiga Mei Dua Ribu Tujuh Belas. Aku wajib mendengar kalau ada keluhan mu atas kinerjaku”, Maria sengaja menekankan soal Kontrak Pekerjaan di antara mereka berdua untuk menggoda Luiz Fernandes lagi.

“Beughhhhhh…!!!”, di ingatkan bahwa mereka terikat kontrak kerja secara professional membuat Fernandes lemas dan berniat mengurungkan saja niat nya berbicara malam ini. Ia tak boleh melanggar itu dan menyalah gunakan kontrak kerja itu. 

Tapi tunggu dulu!!!! Tadi ia sekilas sempat melihat senyum Maria yang di sembunyikan saat berpaling sebentar.

“Jangan..Jangan??”, Fernandes menarik nafas lega setelah menyadari bahwa Maria pasti sedang mengerjainya. 

“Maria tahu apa yang akan aku bicarakan!”, bisik hati Fernandes sambil memandang dalam ke mata Maria.

Di pandangi seperti itu, Maria salah tingkah dan mukanya memerah. Kini, ia yang merasa tertangkap basah seperti copet yang ingin melarikan diri dari kejaran polisi.

“Apaan sih Luiz??..Kenapa kamu memandang seperti itu?”, tanya Maria sambil tertunduk sangat malu.

Luiz Fernandes tersenyum. Ia paham situasinya sekarang, dan ia ingin menikmati permainan yang di ciptakan Maria ini. Ia mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Maria, terus memandang matanya… 
Pelan namun pasti, ia memajukan wajahnya mendekati wajah Maria..

Dekat…semakin dekat..semakin dekat sampai nafas hangat nya dapat di rasakan Maria. Tinggal satu centimeter lagi jarak antara bibir Fernandes dan hidung Maria, tiba-tiba Fernandes berdiri, berbalik membelakangi Maria dan berkata dengan suara tegas.

 ”Aku memang merasa Kontrak Kerja itu harus di tinjau ulang Maria!”.

Mengingat momen itu, Fernandes terus tersenyum lebar. Malam itu Maria menangis haru saat Fernandes mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Maria. Dan sebagai jawaban, pada momen itu juga Maria hanya menunjukkkan kartu identitasnya yang sudah resmi tertulis berstatus janda.

“Hmm..janda memang lebih yahud di banding gadis yaa?”, canda Fernandes kemudian membuat Maria tergelak dan mencubit Fernandes keras sekali.

“Aduh…ampun…ampun!”, Fernandes meringis karena Maria tak mau melepaskan cubitannya.

“Ayo bilang bahwa kamu tak akan meninggalkan janda ini untuk alasan apapun! Cepat..!”, Maria berpura pura galak.

“Iya..Iya…Aku bersumpah akan tetap mencintai Maria Pedrosa di dalam suka maupun duka di seluruh jalan hidupku!”, jawab Fernandes masih sambil meringis.

Siluet di balik gorden jendela belakang rumah, yang sedari tadi diam di sana, bergerak dan menghilang.

“Kalian belum tahu masalah apa yang kan kalian hadapi! Tak akan semudah membalik tangan untuk meyakinkan semua orang bahwa apa yang kalian kini rasakan benar-benar tulus anakku!”, Nyonya Alejandra Hector Fernandes bergumam sambil berjalan dari balik gorden dan mengusap air matanya.

“Papaaaa…!”, Halilintar kini berdiri di pintu memanggil Fernandes. Rupanya ia pun gelisah tidurnya malam ini dan mencari ayah nya.

Fernandes cepat cepat berdiri, menyodorkan secarik kertas pada Maria dan beranjak ke arah Halilintar dengan tergopoh gopoh.

Sepeninggal Fernandes, Maria membuka kertas itu dan mulai membaca….

"Pintaku Cinta"


Bila cinta itu nyata
Beri aku lebih dari kata
Manjakan aku lebih lama
Jangan pernah sertai dengan luka
Biar ku tau kau kini ada
Biar ku rasa cinta itu memang indah
Dan dari dirimulah itu asalnya
Karena...
Apalah arti rasa cinta
Bila kau nenti tak ada
Bila hanya sekadar kata
Kuingin wujudnya, jadilah pendamping setia
Kuingin rasakannya, jadilah belahan jiwa
Dan itu hanya denganmu,,,
Maria Pedrosa...

“Begitu lembut hatimu Luiz….Mampukah aku menolak cinta mu yang sedemikan hangat?”, Maria berbisik sambil mendekap kertas itu di dadanya.

“Cieeeee…cieeeee…….!”, Maria tersentak kaget. Ia berpaling dan….Toby ada di belakangnya. Toby tersenyum senyum melihat Maria dan memberi tahu Nenek nya memanggil Maria untuk makan malam bersama.