Rabu, 01 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 11

 
 







”Meski kau punya seribu alasan untuk marah, kau masih punya satu alasan lain untuk menahannya. Alasan untuk tetap berbahagia!!”



"Jangan lupa Halilintar check in di rumahsakit hari ini jam 17:00 yaa.. ", hanya pesan itu yang di baca Fernandes di Whatsapp Messenger dari Maria.  Ia melirik arloji di tangannya.  
Hmm... Sudah pukul dua lewat sepuluh menit. Di benahi nya berkas-berkasnya,  dan segera beranjak ke ruangan Mr. Lee. 

Baru saja dia akan mengetuk pintu, Bosnya yang sedang berbicara di telepon,  melirik dan memberi kode pada Fernandes dengan mengibas-ngibaskan tangan... menutup microfon telepon sebentar dan berujar pelan hampir mirip  bahasa bibir, ”Salam pada anakmu yaa!“.

"Glekk!!...kok dia tahu aku mau bilang apa ya?",Fernandes melongo di depan pintu Mr.  James Lee. 
"Ah sudahlah...  Aku bisa telepon nanti sambil jalan", fikir Fernandes sambil berlari kecil ke ruangannya.

Ting!!  Ting!!  Notifikasi Whatsapp nya berbunyi lagi. Sambil berlari kecil menuju lift ia membaca pesannya. Maria mengingatkan perjalanan dari kantornya menuju rumah untuk menjemput Halilintar akan memakan waktu sekitar dua jam,  sementara dari rumah ke rumahsakit akan menempuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit. 

Begitu keluar lift,  Fernandes berpapasan dengan Mr. Chan yang baru kembali dari makan siang. 

"Buru buru mau ke rumahsakit ya Pak Fernandes..? ", tanya Mr. Chan.

"Iya nih Pak... Saya duluan ya", ujar Fernandes cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat ia memarkir mobil. 

Begitu mobil keluar halaman parkir,  Fernandes meraih telepon selularnya dan menelepon ibunya. 

"Kamu sudah sampai di mana Nak? Halilintar sudah berpakaian dan siap siap dari tadi. Tapi Luiz,, Kok baru siap siap di rumah saja dia sudah muntah muntah ya? ", Ibunya langsung berbicara begitu pembicaraan tersambung. Pada waktu mengatakan kata "muntah" tadi ibunya setengah berbisik. 

Hhh... Fernandes lega. Halilintar siap untuk menjalani chemo teraphy yang ke 14.
"Kau memang pantas menyandang gelar Halilintar itu anakku", bisik Fernandes pada dirinya. 

Setelah di jemput ayahnya untuk berangkat bersama ke rumahsakit dimana Maria Pedrosa sudah menunggu,  Halilintarpun masuk ruang perawatan dimana proses chemo akan berjalan.

.......................................................................

Dan akhirnya proses chemo teraphy pun selesai pada pukul 24:00 tengah malam,  setelah berjalan selama tidak kurang dari empat jam. Tak terlukiskan betapa menderitanya Si Putera Halilintar menjalani proses ini. Berulang kali muntah sepanjang proses membuatnya sangat kehilangan tenaga. Luiz Fernandes maupun Maria Pedrosa tak terhindar dari rasa sedih menyaksikan perjuangan Hallintar.

Meski begitu,  tak sedikitpun terlihat ada rasa jera di wajah Halilintar. Ia malah meminta pada ayahnya agar di belikan cemilan atau makanan kecil yang memberi tenaga ekstra padanya dan paling tidak mengalihkan perhatiannya dari aroma menusuk obat chemo yang masuk lewat nadinya dan membuatnya tak bisa berhenti muntah-muntah. 

Menjelang pagi, saat anak nya dan Maria sudah terlelap,  tiba tiba notifikasi Whatsapp nya berbunyi. Fernandes terkejut.  Ia melihat arloji di tangannya,, sudah pukul 4:00 pagi hari. 

"Siapa yang kirim pesan se-pagi ini..?? ", Fernandes bingung dan segera meraih telepon selularnya.  Tak lupa ia mengambil juga kaca-mata plus miliknya yang tergeletak di samping kepala Halilintar dan berjalan keluar kamar menuju koridor rumahsakit untuk membaca pesan itu. 

"Apa???... Mau apa Dolores mengirim pesan sepagi ini???? ", Fernandes  kaget luar biasa membaca nama dari si pengirim pesan. 

"Sayang.. ! Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesali semuanya. Sebenarnya akupun hancur dengan keadaan rumahtangga kita Luiz! 
Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu..  Aku benar benar tak rela kalau kau benar benar akan menikahi Nona Maria Pedrosa! TUHAN pun tak akan mengijinkannya Luiz!! ", muka Fernandes langsung merah padam membaca pesan dari mantan isterinya itu. 

Bukannya perduli dan bertanya tentang keadaan Halilintar, perempuan yang kini sangat di benci Fernandes ini malah berusaha merayu lagi. 
Fernandes mengepalkan tangan pertanda ia sangat emosi. 

"Setelah enam tahun berlalu tanpa penyesalan dan kata maaf,  sekarang karena kehadiran Maria,  manusia ini mau merusak kehidupanku lagi", kini bukannya hanya mengepalkan tangannya Fernandes bahkan memukul dinding tempatnya bersandar. 
Tapi selanjutnya ia kaget sendiri. Suara dinding yang ia pukul,  membuat seorang pria yang tidur di ujung koridor tersentak bangun. 

Fernandes buru buru menepuk tangan lagi sambil memutar mutar mata dan kepalanya berpura pura terganggu oleh seekor nyamuk di sekitar kepalanya. 

"Waaah..  Walau ruangan ber-AC ternyata ada nyamuk juga ya Pak", Fernandes menyapa orang itu sekenanya sambil cengengesan karena merasa serba salah.  Muka orang itu terlihat cemberut marah karena terganggu. 
Fernandes kembali termenung. Perempuan ini benar benar berhasil membuatnya terpancing emosi kali ini. Meski telah mengubur dalam-dalam segala yang berkaitan dengan Dolores, pesan ini yang di kirim sepagi ini membuat kebenciannya terusik lagi. Perbuatan orang ini yang telah membuat ibunya akhirnya terkena serangan jantung, anak anaknya sempat drop mentalnya,dan juga yang menyebabkan  Fernandes harus berjuang sendiri menanggung akibat itu selama lebih dari enam tahun. Kini semua kepahitan itu berputar lagi bak film dokumenter di kepalanya.

"Bagimana mungkin orang ini mampu mengetik kata kata rayuan lagi setelah semua yang di perbuatnya??", Fernandes benar benar tak habis fikir.

"Kamu nggak tidur ya Luiz..?", Fernandes tersentak kaget, Maria tiba tiba sudah ada di belakangnya. Rupanya ia terbangun dan akhirnya menyusul keluar kamar melihat Fernandes tak ada lagi di sofa kamar perawatan.

"Sini...! Duduk sini Maria.. ", ajak Fernandes lembut sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya. 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar