”Meski kau punya seribu alasan untuk marah, kau masih punya satu alasan lain untuk menahannya. Alasan untuk tetap berbahagia!!”
"Jangan
lupa Halilintar check in di rumahsakit hari ini jam 17:00 yaa.. ",
hanya pesan itu yang di baca Fernandes di Whatsapp Messenger dari Maria.
Ia melirik arloji di tangannya.
Hmm... Sudah pukul dua lewat sepuluh menit. Di benahi nya berkas-berkasnya, dan segera beranjak ke ruangan Mr. Lee.
Baru
saja dia akan mengetuk pintu, Bosnya yang sedang berbicara di telepon,
melirik dan memberi kode pada Fernandes dengan mengibas-ngibaskan
tangan... menutup microfon telepon sebentar dan berujar pelan hampir mirip bahasa bibir, ”Salam pada anakmu yaa!“.
"Glekk!!...kok dia tahu aku mau bilang apa ya?",Fernandes melongo di depan pintu Mr. James Lee.
"Ah sudahlah... Aku bisa telepon nanti sambil jalan", fikir Fernandes sambil berlari kecil ke ruangannya.
Ting!!
Ting!! Notifikasi Whatsapp nya berbunyi lagi. Sambil berlari kecil
menuju lift ia membaca pesannya. Maria mengingatkan perjalanan dari
kantornya menuju rumah untuk menjemput Halilintar akan memakan waktu
sekitar dua jam, sementara dari rumah ke rumahsakit akan menempuh waktu
sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit.
Begitu keluar lift, Fernandes berpapasan dengan Mr. Chan yang baru kembali dari makan siang.
"Buru buru mau ke rumahsakit ya Pak Fernandes..? ", tanya Mr. Chan.
"Iya nih Pak... Saya duluan ya", ujar Fernandes cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat ia memarkir mobil.
Begitu mobil keluar halaman parkir, Fernandes meraih telepon selularnya dan menelepon ibunya.
"Kamu
sudah sampai di mana Nak? Halilintar sudah berpakaian dan siap siap
dari tadi. Tapi Luiz,, Kok baru siap siap di rumah saja dia sudah muntah
muntah ya? ", Ibunya langsung berbicara begitu pembicaraan tersambung.
Pada waktu mengatakan kata "muntah" tadi ibunya setengah berbisik.
Hhh... Fernandes lega. Halilintar siap untuk menjalani chemo teraphy yang ke 14.
"Kau memang pantas menyandang gelar Halilintar itu anakku", bisik Fernandes pada dirinya.
Setelah
di jemput ayahnya untuk berangkat bersama ke rumahsakit dimana Maria
Pedrosa sudah menunggu, Halilintarpun masuk ruang perawatan dimana
proses chemo akan berjalan.
.......................................................................
Dan
akhirnya proses chemo teraphy pun selesai pada pukul 24:00 tengah
malam, setelah berjalan selama tidak kurang dari empat jam. Tak
terlukiskan betapa menderitanya Si Putera Halilintar menjalani proses
ini. Berulang kali muntah sepanjang proses membuatnya sangat kehilangan
tenaga. Luiz Fernandes maupun Maria Pedrosa tak terhindar dari rasa
sedih menyaksikan perjuangan Hallintar.
Meski
begitu, tak sedikitpun terlihat ada rasa jera di wajah Halilintar. Ia
malah meminta pada ayahnya agar di belikan cemilan atau makanan kecil
yang memberi tenaga ekstra padanya dan paling tidak mengalihkan
perhatiannya dari aroma menusuk obat chemo yang masuk lewat nadinya dan
membuatnya tak bisa berhenti muntah-muntah.
Menjelang
pagi, saat anak nya dan Maria sudah terlelap, tiba tiba notifikasi
Whatsapp nya berbunyi. Fernandes terkejut. Ia melihat arloji di
tangannya,, sudah pukul 4:00 pagi hari.
"Siapa
yang kirim pesan se-pagi ini..?? ", Fernandes bingung dan segera meraih
telepon selularnya. Tak lupa ia mengambil juga kaca-mata plus miliknya
yang tergeletak di samping kepala Halilintar dan berjalan keluar kamar
menuju koridor rumahsakit untuk membaca pesan itu.
"Apa???... Mau apa Dolores mengirim pesan sepagi ini???? ", Fernandes kaget luar biasa membaca nama dari si pengirim pesan.
"Sayang..
! Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesali
semuanya. Sebenarnya akupun hancur dengan keadaan rumahtangga kita
Luiz!
Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu.. Aku benar
benar tak rela kalau kau benar benar akan menikahi Nona Maria Pedrosa!
TUHAN pun tak akan mengijinkannya Luiz!! ", muka Fernandes langsung
merah padam membaca pesan dari mantan isterinya itu.
Bukannya
perduli dan bertanya tentang keadaan Halilintar, perempuan yang kini
sangat di benci Fernandes ini malah berusaha merayu lagi.
Fernandes mengepalkan tangan pertanda ia sangat emosi.
"Setelah
enam tahun berlalu tanpa penyesalan dan kata maaf, sekarang karena
kehadiran Maria, manusia ini mau merusak kehidupanku lagi", kini
bukannya hanya mengepalkan tangannya Fernandes bahkan memukul dinding
tempatnya bersandar.
Tapi selanjutnya ia kaget sendiri. Suara dinding
yang ia pukul, membuat seorang pria yang tidur di ujung koridor
tersentak bangun.
Fernandes
buru buru menepuk tangan lagi sambil memutar mutar mata dan kepalanya
berpura pura terganggu oleh seekor nyamuk di sekitar kepalanya.
"Waaah..
Walau ruangan ber-AC ternyata ada nyamuk juga ya Pak", Fernandes
menyapa orang itu sekenanya sambil cengengesan karena merasa serba
salah. Muka orang itu terlihat cemberut marah karena terganggu.
Fernandes kembali termenung. Perempuan ini benar benar berhasil membuatnya terpancing emosi kali ini. Meski telah mengubur dalam-dalam segala yang berkaitan dengan Dolores, pesan ini yang di kirim sepagi ini membuat kebenciannya terusik lagi. Perbuatan orang ini yang telah membuat ibunya akhirnya terkena serangan jantung, anak anaknya sempat drop mentalnya,dan juga yang menyebabkan Fernandes harus berjuang sendiri menanggung akibat itu selama lebih dari enam tahun. Kini semua kepahitan itu berputar lagi bak film dokumenter di kepalanya.
"Bagimana mungkin orang ini mampu mengetik kata kata rayuan lagi setelah semua yang di perbuatnya??", Fernandes benar benar tak habis fikir.
"Kamu nggak tidur ya Luiz..?", Fernandes tersentak kaget, Maria tiba tiba sudah ada di belakangnya. Rupanya ia terbangun dan akhirnya menyusul keluar kamar melihat Fernandes tak ada lagi di sofa kamar perawatan.
"Sini...! Duduk sini Maria.. ", ajak Fernandes lembut sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar