“Sewaktu tidak ada lagi harapan di depan mu, maka diamlah!
Tetapi apabila masih ada setitik peluang
yang bisa engkau dapatkan, berteriaklah sekencang mungkin!”
Begitu
kembali dengan tiga bungkus nasi di tangannya, Fernandes memanggil Toby keluar
ruang perawatan dan memintaya segera mencuci tangan dahulu. Di dalam, Maria
Pedrosa sedang asyik berbicara sambil tersenyum senyum dengan Halilintar.
“Ayoooo…Lagi pada
ngomongin apa sih?’,
sapa Fernandes pada mereka berdua sambil tersenyum membuka bungkus nasi yang
baru di belinya yang dibalas dengan lirikan lucu oleh Maria dan Halilintar. Tak
lama Toby pun muncul dan bergabung dengan mereka.
“Ini lho Luiz…! Halilintar
bilang, ia berubah pikiran. Dari pada kita ke San Sebastian lebih baik perjalanannya di tunda saja sampai akhir tahun
nanti. Dia ingin sekali mengunjungi kakeknya ke Valencia. Disana juga kan ada
pantai Saplaya. Apalagi ini sudah bulan Oktober. Kan tinggal dua bulan lagi
saja”, lanjut
Maria lagi sambil menyuapkan nasi sedikit pada Halilintar dan kemudian menyuap
untuk dirinya sendiri seolah mewakili berbicara pada Luiz Fernandes.
“Hmm,,ide yang bagus
itu Pa! Aku juga ingin melihat keadaan kakek. Rasanya asyik bicara sama kakek
tentang sejarah Pa..”, tukas
Toby pula setelah mendengar penuturan Maria.
“Bagaimana keadaanmu
anakku?”, tanya
Fernandes pada Halilintar lembut seolah tidak menanggapi usulan Maria dan Toby
puteranya.
“Masih pusing Pa... Memangnya
aku tadi nangis nangis ya Pa waktu di bius? Kata Kak Toby aku begitu…”, jawab Halilintar lemah.
“Iya Nak…Tapi kamu
nggak ingat kan? Berarti nggak apa apa dong? Oh iya…Memang nya kamu mau kita ke
Valencia aja akhir tahun nanti?”,
tanya Fernandes lagi sambil mengelus kepala anak bungsunya.
“Iya Pa..! Boleh
nggak?”, mata
Halilintar menyelidik ragu ragu mengatakan ini pada ayahnya.
“Tentu saja boleh
anakku,,Tapi bagaimana dengan rencana kita ke San Sebastian? Nggak usah aja
Nak?”, lanjut
Fernandes lagi. Halilintar pun mengangguk di ikuti senyum Maria dan Toby di
sampingnya.
“Ya sudah, sekarang
kamu istirahat lagi kalau makannya sudah selesai ya sayang. Papa mau telephone
kantor sebentar”,kata
Fernandes sambil meraih telepon selular miliknya di meja kecil dekat tempat
tidur Halilintar.
Ia berjalan keluar kamar sambil menekan nomor telepon Mr.
James Lee yang adalah Bos-nya di kantor.
“Hallo Pak Fernandes,
bagaimana kabar anak anda? Sudah selesaikah tindakannya?”, suara dari seberang langsung
terdengar menyapa ramah begitu tersambung.
“Sudah selesai
Pak..Dan dia baik baik saja meski masih sedikit pusing akibat pengaruh bius
tadi. Hanya…Mungkin saya terpaksa masuk kantor agak siang besok. Anak saya
masih harus di rawat satu malam lagi untuk memastikan keadaannya baik baik saja
pasca tindakan itu. Bagaimana Pak? Apakah Bapak keberatan?”, Luiz Fernandes memberi informasi
yang jelas pada Bosnya itu sembari meminta izin untuk masuk agak siang ke
kantor besok.
“Tentu saja tidak apa
Pak Fernandes..System Organisasi yang Bapak rancang amat mudah di jalankan anak
buah Bapak. Anda tidak perlu terlalu risau. Mereka mengerti apa yang harus di
lakukan. Take your time…”, jawab
Mr. Lee dengan cepat menanggapi permintaan ijin Fernandes.
Baru
saja ia menutup pembicaraanya, telepon di tangannya berbunyi kembali.
”Hmm..Ibu!”, bisik Fernandes pelan setelah
melihat siapa yang ber-telepon.
“Ya bu?”, jawab Fernandes yang langsung di
balas oleh Ibunya.
“Bagaimana cucuku
Luiz…? Baik baik sajakah? Apakah dia menangis tadi? Pasti sakit sekali jarum
sebesar itu menusuk tulang kan Luiz..?”, Ibunya langsung mencecar Fernandes dengan sederet
pertanyaan.
Fernandes
pun tersenyum, “Tenang saja Ibu..Dia baik
baik saja. Apakah Ibu dan Nenek sudah makan siang?”
“Tenang…Tenang!! Kamu
di sana kan lihat dia! Ibu kan tidak! Bagaimana bisa tenang? Terus..?Sekarang
dia sedang apa Luiz?....Hallo…? Luiz! Hallo!”, Ibunya seperti tidak sabar terus
berbicara dan bertanya dengan suara yang cemas.
“Sudahlah
Ibu..Percaya saja. Halilintar jauh lebih kuat dari kita semua. Sekarang dia
baru saja mau istirahat setelah makan siang. Ibu kok tidak jawab pertanyaanku?
Ibu dan Nenek sudah makan siang kan? Nona Alaura masak kan?”, Fernandes bertanya lagi sambil
menyebut nama Asisten Rumah Tangga yang ia pekerjakan di rumahnya.
“Sudah Nak…Ya! Alaura
juga masak kok. Ya sudah kalau begitu. Kapan dia bisa di bawa pulang?”, lanjut Ibunya lagi yang langsung
di balas dengan keterangan lengkap oleh Fernandes.
Seraya ia menutup
pembicaraan di telepon Fernandes melihat Dr.Diane Constance yang menangani
anaknya berjalan melintas tidak jauh darinya. Sepertinya hendak melakukan
kunjungan ke ruang perawatan di seberang sana.
Fernandes
kemudian duduk di bawah pohon tidak jauh dari pintu Ruang Perawatan Halilintar.
Ia mengeluarkan lagi telepon selular miliknya tapi kali ini dia tidak hendak me
nelepon seseorang. Ia ingin menuliskan sesuatu.
Semarak matamu berhias bintang
kejora
Indah senyummu bagai permata
Engkau putra Sang Halilintar yang perkasa
Yang hadir binarkan ceria dan tawa
Mengapa sinarmu begitu redup wahai buah hatiku tercinta
Mengapa mendung bisa tutupi indah senyummu yang ceria
Pedih hatiku lihat engkau meringis menderita
Sang angkara murka yang datang t'lah buat kekasihku merana
Oh Khalik Semesta..
Tolong pindahkan semua yang ia rasa
Ijinkan itu semua aku yang menanggungnya..
Dan bukan dia..
Kalau pun itu harus ku bayar dengan nyawa,,aku rela
Ku mohon Ya TUHAN pencipta Alam Semesta..
Hadirkan lagi senyuman indah si bintang kejora..
Jangan ijinkan ia menangis lagi dan sengsara..
Indah senyummu bagai permata
Engkau putra Sang Halilintar yang perkasa
Yang hadir binarkan ceria dan tawa
Mengapa sinarmu begitu redup wahai buah hatiku tercinta
Mengapa mendung bisa tutupi indah senyummu yang ceria
Pedih hatiku lihat engkau meringis menderita
Sang angkara murka yang datang t'lah buat kekasihku merana
Oh Khalik Semesta..
Tolong pindahkan semua yang ia rasa
Ijinkan itu semua aku yang menanggungnya..
Dan bukan dia..
Kalau pun itu harus ku bayar dengan nyawa,,aku rela
Ku mohon Ya TUHAN pencipta Alam Semesta..
Hadirkan lagi senyuman indah si bintang kejora..
Jangan ijinkan ia menangis lagi dan sengsara..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar