Senin, 30 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 9







“Cinta adalah seberapa baik engkau dapat menyembunyikan tangis. Seberapa berhasil engkau mengubahnya menjadi sebuah tawa”.


Seperti biasa, pagi ini Luiz Fernandes berkendara menuju kantornya sambil mendengar lagu The Power Of Love. Wajahnya tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian malam, hari ini tepat satu bulan yang lalu. Ya pada pukul tujuh malam tanggal 29 September 2016 menjadi momen yang sangat berkesan baginya.

Luiz Fernandes gelisah luar biasa. Sebentar sebentar ia melirik arloji di tangannya. Sebelum duduk di taman ini di belakang rumahnya, ia sudah memberi pesan pada Ibunya, pada Toby dan Halilintar, bila Maria Pedrosa pulang dari bekerja, tolong beritahu bahwa ia menunggu di taman belakang. Ia bertekad akan memberanikan diri bicara serius dengan Maria kali ini.

Bayangan seseorang terlihat akan keluar dari pintu belakang rumah, dan keringat Fernandes tiba tiba menjadi luar biasa deras keluar. Ia panik

”TUHAN! Bantu aku agar berani kali ini. Beri petunjukmu ya TUHAN!”, Fernandes berbisik pada dirinya sendiri.

Akhirnya yang di nanti-nanti benar-benar keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju Fernandes. Maria Pedrosa terlihat sudah mandi dan berdandan setelah pulang bekerja tadi. Dan,,,,,

”Oh TUHAN! Dia berdandan…”, bisik Fernandes lagi entah panik karena apa.

“Kamu sudah lama pulang Luiz?”, sapa Maria dengan senyumannya yang khas sambil duduk di kursi taman di depan Fernandes.

”Hmm,,I..Iya Maria! Hmm..aku..aku…”,Fernandes terdengar sangat gugup sekali.

”Aku..sengaja pulang lebih awal hari ini”. Akhirnya ia mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Hahahaha…kamu kenapa Luiz?”, Maria tertawa lucu sekali melihat kegugupan Fernandes. 

“Kamu persis seperti copet yang akan di proses verbal polisi sehabis beraksi dan tertangkap! Kamu kenapa?”, lanjut Maria lagi.

Fernandes tersenyum kecut. Ia tahu, tingkahnya jadi sangat konyol kalau begini. Tapi mau bagaimana? Ia tak sanggup melawan debaran jantungnya yang jadi tambah kelewatan nakalnya. Berdetak tanpa irama, persis bedug yang di pukul anak-anak kecil di malam takbiran.

“Maria…ehmm…aku.. aku mau bicara se..seriuss dddengan kkkamu mmmalam ini be..bebe..bolehkan? Tapi…ehm…ehm…aku..harap..jjjangan sa….salah paham yaaa?”, kata kata ini jadi tak jelas artinya karena Fernandes luar biasa takut memulai topik yang sebenarnya ingin ia bicarakan. 

Maria memalingkan muka ke sisi yang lain sekejap, tersenyum senyum lucu dan berbisik sendiri di dalam hati.

 “Hmmm…sepertinya aku tahu Luiz mau bicara apa! Matanya tak bisa berdusta”. 

Kali ini dia benar benar ingin menggoda Fernandes lebih jauh. Ia memasang muka cemas terlebih dahulu dan berpaling lagi menghadap Fernandes.

“Ma..ma..maaf Luiz….!Mungkin aku terlalu lama pulang ya? Sehingga aku ku…ku…rang sesuai me..me..nurut penilaianmu mengurus Halilintar? Kalaupun kkkkamu mau pecat aku sekarang…aku ppppasrah Luizz!..”, Maria pura-pura meniru kegugupan Fernandes dan bertingkah seolah menjadi sangat khawatir akan di pecat.

Mata Fernandes pun terbeliak karena kaget dengan reaksi Maria. Ia tak menyangka Maria akan salah paham sebelum ia berbicara banyak.

” Aduh…! Bukan..Bukan itu Maria! Sumpah demi TUHAN bukan itu!!!”, cepat sekali Fernandes berbicara sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

Maria berpaling lagi dan melepaskan rasa lucu dalam hatinya sambil tersenyum. Ia tak ingin Fernandes melihat senyumannya kali ini.

“Terus? Ini masalah apa Luiz?...Bicaralah! Aku terikat kontrak kerja denganmu sampai dengan tanggal  Dua Puluh Tiga Mei Dua Ribu Tujuh Belas. Aku wajib mendengar kalau ada keluhan mu atas kinerjaku”, Maria sengaja menekankan soal Kontrak Pekerjaan di antara mereka berdua untuk menggoda Luiz Fernandes lagi.

“Beughhhhhh…!!!”, di ingatkan bahwa mereka terikat kontrak kerja secara professional membuat Fernandes lemas dan berniat mengurungkan saja niat nya berbicara malam ini. Ia tak boleh melanggar itu dan menyalah gunakan kontrak kerja itu. 

Tapi tunggu dulu!!!! Tadi ia sekilas sempat melihat senyum Maria yang di sembunyikan saat berpaling sebentar.

“Jangan..Jangan??”, Fernandes menarik nafas lega setelah menyadari bahwa Maria pasti sedang mengerjainya. 

“Maria tahu apa yang akan aku bicarakan!”, bisik hati Fernandes sambil memandang dalam ke mata Maria.

Di pandangi seperti itu, Maria salah tingkah dan mukanya memerah. Kini, ia yang merasa tertangkap basah seperti copet yang ingin melarikan diri dari kejaran polisi.

“Apaan sih Luiz??..Kenapa kamu memandang seperti itu?”, tanya Maria sambil tertunduk sangat malu.

Luiz Fernandes tersenyum. Ia paham situasinya sekarang, dan ia ingin menikmati permainan yang di ciptakan Maria ini. Ia mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Maria, terus memandang matanya… 
Pelan namun pasti, ia memajukan wajahnya mendekati wajah Maria..

Dekat…semakin dekat..semakin dekat sampai nafas hangat nya dapat di rasakan Maria. Tinggal satu centimeter lagi jarak antara bibir Fernandes dan hidung Maria, tiba-tiba Fernandes berdiri, berbalik membelakangi Maria dan berkata dengan suara tegas.

 ”Aku memang merasa Kontrak Kerja itu harus di tinjau ulang Maria!”.

Mengingat momen itu, Fernandes terus tersenyum lebar. Malam itu Maria menangis haru saat Fernandes mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Maria. Dan sebagai jawaban, pada momen itu juga Maria hanya menunjukkkan kartu identitasnya yang sudah resmi tertulis berstatus janda.

“Hmm..janda memang lebih yahud di banding gadis yaa?”, canda Fernandes kemudian membuat Maria tergelak dan mencubit Fernandes keras sekali.

“Aduh…ampun…ampun!”, Fernandes meringis karena Maria tak mau melepaskan cubitannya.

“Ayo bilang bahwa kamu tak akan meninggalkan janda ini untuk alasan apapun! Cepat..!”, Maria berpura pura galak.

“Iya..Iya…Aku bersumpah akan tetap mencintai Maria Pedrosa di dalam suka maupun duka di seluruh jalan hidupku!”, jawab Fernandes masih sambil meringis.

Siluet di balik gorden jendela belakang rumah, yang sedari tadi diam di sana, bergerak dan menghilang.

“Kalian belum tahu masalah apa yang kan kalian hadapi! Tak akan semudah membalik tangan untuk meyakinkan semua orang bahwa apa yang kalian kini rasakan benar-benar tulus anakku!”, Nyonya Alejandra Hector Fernandes bergumam sambil berjalan dari balik gorden dan mengusap air matanya.

“Papaaaa…!”, Halilintar kini berdiri di pintu memanggil Fernandes. Rupanya ia pun gelisah tidurnya malam ini dan mencari ayah nya.

Fernandes cepat cepat berdiri, menyodorkan secarik kertas pada Maria dan beranjak ke arah Halilintar dengan tergopoh gopoh.

Sepeninggal Fernandes, Maria membuka kertas itu dan mulai membaca….

"Pintaku Cinta"


Bila cinta itu nyata
Beri aku lebih dari kata
Manjakan aku lebih lama
Jangan pernah sertai dengan luka
Biar ku tau kau kini ada
Biar ku rasa cinta itu memang indah
Dan dari dirimulah itu asalnya
Karena...
Apalah arti rasa cinta
Bila kau nenti tak ada
Bila hanya sekadar kata
Kuingin wujudnya, jadilah pendamping setia
Kuingin rasakannya, jadilah belahan jiwa
Dan itu hanya denganmu,,,
Maria Pedrosa...

“Begitu lembut hatimu Luiz….Mampukah aku menolak cinta mu yang sedemikan hangat?”, Maria berbisik sambil mendekap kertas itu di dadanya.

“Cieeeee…cieeeee…….!”, Maria tersentak kaget. Ia berpaling dan….Toby ada di belakangnya. Toby tersenyum senyum melihat Maria dan memberi tahu Nenek nya memanggil Maria untuk makan malam bersama.



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar