“Cinta adalah seberapa baik engkau
dapat menyembunyikan tangis. Seberapa berhasil engkau mengubahnya menjadi
sebuah tawa”.
Seperti biasa, pagi ini Luiz Fernandes berkendara menuju kantornya sambil mendengar lagu The Power Of Love. Wajahnya tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian malam, hari ini tepat satu bulan yang lalu. Ya pada pukul tujuh malam tanggal 29 September 2016 menjadi momen yang sangat berkesan baginya.
Luiz
Fernandes gelisah luar biasa. Sebentar sebentar ia melirik arloji di tangannya.
Sebelum duduk di taman ini di belakang rumahnya, ia sudah memberi pesan pada
Ibunya, pada Toby dan Halilintar, bila Maria Pedrosa pulang dari bekerja,
tolong beritahu bahwa ia menunggu di taman belakang. Ia bertekad akan
memberanikan diri bicara serius dengan Maria kali ini.
Bayangan
seseorang terlihat akan keluar dari pintu belakang rumah, dan keringat
Fernandes tiba tiba menjadi luar biasa deras keluar. Ia panik…
”TUHAN! Bantu aku
agar berani kali ini. Beri petunjukmu ya TUHAN!”, Fernandes berbisik pada dirinya
sendiri.
Akhirnya
yang di nanti-nanti benar-benar keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju
Fernandes. Maria Pedrosa terlihat sudah mandi dan berdandan setelah pulang
bekerja tadi. Dan,,,,,
”Oh TUHAN! Dia
berdandan…”, bisik
Fernandes lagi entah panik karena apa.
“Kamu sudah lama
pulang Luiz?”,
sapa Maria dengan senyumannya yang khas sambil duduk di kursi taman di depan
Fernandes.
”Hmm,,I..Iya Maria!
Hmm..aku..aku…”,Fernandes
terdengar sangat gugup sekali.
”Aku..sengaja pulang
lebih awal hari ini”.
Akhirnya ia mampu menyelesaikan kalimatnya.
“Hahahaha…kamu kenapa
Luiz?”, Maria
tertawa lucu sekali melihat kegugupan Fernandes.
“Kamu persis seperti
copet yang akan di proses verbal polisi sehabis beraksi dan tertangkap! Kamu
kenapa?”, lanjut
Maria lagi.
Fernandes
tersenyum kecut. Ia tahu, tingkahnya jadi sangat konyol kalau begini. Tapi mau
bagaimana? Ia tak sanggup melawan debaran jantungnya yang jadi tambah kelewatan
nakalnya. Berdetak tanpa irama, persis bedug yang di pukul anak-anak kecil di
malam takbiran.
“Maria…ehmm…aku.. aku
mau bicara se..seriuss dddengan kkkamu mmmalam ini be..bebe..bolehkan?
Tapi…ehm…ehm…aku..harap..jjjangan sa….salah paham yaaa?”, kata kata ini jadi tak jelas
artinya karena Fernandes luar biasa takut memulai topik yang sebenarnya ingin
ia bicarakan.
Maria
memalingkan muka ke sisi yang lain sekejap, tersenyum senyum lucu dan berbisik
sendiri di dalam hati.
“Hmmm…sepertinya
aku tahu Luiz mau bicara apa! Matanya tak bisa berdusta”.
Kali
ini dia benar benar ingin menggoda Fernandes lebih jauh. Ia memasang muka cemas
terlebih dahulu dan berpaling lagi menghadap Fernandes.
“Ma..ma..maaf Luiz….!Mungkin
aku terlalu lama pulang ya? Sehingga aku ku…ku…rang sesuai me..me..nurut
penilaianmu mengurus Halilintar? Kalaupun kkkkamu mau pecat aku sekarang…aku
ppppasrah Luizz!..”,
Maria pura-pura meniru kegugupan Fernandes dan bertingkah seolah menjadi sangat
khawatir akan di pecat.
Mata
Fernandes pun terbeliak karena kaget dengan reaksi Maria. Ia tak menyangka Maria akan salah paham sebelum ia berbicara
banyak.
” Aduh…! Bukan..Bukan
itu Maria! Sumpah demi TUHAN bukan itu!!!”, cepat sekali Fernandes berbicara sambil
mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
Maria
berpaling lagi dan melepaskan rasa lucu dalam hatinya sambil tersenyum. Ia tak
ingin Fernandes melihat senyumannya kali ini.
“Terus? Ini masalah
apa Luiz?...Bicaralah! Aku terikat kontrak kerja denganmu sampai dengan
tanggal Dua Puluh Tiga Mei Dua Ribu
Tujuh Belas. Aku wajib mendengar kalau ada keluhan mu atas kinerjaku”, Maria sengaja menekankan soal
Kontrak Pekerjaan di antara mereka berdua untuk menggoda Luiz Fernandes lagi.
“Beughhhhhh…!!!”, di ingatkan bahwa mereka terikat
kontrak kerja secara professional membuat Fernandes lemas dan berniat
mengurungkan saja niat nya berbicara malam ini. Ia tak boleh melanggar itu dan
menyalah gunakan kontrak kerja itu.
Tapi
tunggu dulu!!!! Tadi ia sekilas sempat melihat senyum Maria yang di sembunyikan
saat berpaling sebentar.
“Jangan..Jangan??”, Fernandes menarik nafas lega
setelah menyadari bahwa Maria pasti sedang mengerjainya.
“Maria tahu apa yang
akan aku bicarakan!”,
bisik hati Fernandes sambil memandang dalam ke mata Maria.
Di
pandangi seperti itu, Maria salah tingkah dan mukanya memerah. Kini, ia yang
merasa tertangkap basah seperti copet yang ingin melarikan diri dari kejaran
polisi.
“Apaan sih
Luiz??..Kenapa kamu memandang seperti itu?”, tanya Maria sambil tertunduk sangat malu.
Luiz
Fernandes tersenyum. Ia paham situasinya sekarang, dan ia ingin menikmati
permainan yang di ciptakan Maria ini. Ia mengulurkan tangannya, mengangkat dagu
Maria, terus memandang matanya…
Pelan namun pasti, ia memajukan wajahnya
mendekati wajah Maria..
Dekat…semakin
dekat..semakin dekat sampai nafas hangat nya dapat di rasakan Maria. Tinggal
satu centimeter lagi jarak antara bibir Fernandes dan hidung Maria, tiba-tiba
Fernandes berdiri, berbalik membelakangi Maria dan berkata dengan suara tegas.
”Aku memang merasa Kontrak Kerja itu harus
di tinjau ulang Maria!”.
Mengingat
momen itu, Fernandes terus tersenyum lebar. Malam itu Maria menangis haru saat
Fernandes mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Maria. Dan sebagai jawaban, pada
momen itu juga Maria hanya menunjukkkan kartu identitasnya yang sudah resmi
tertulis berstatus janda.
“Hmm..janda memang
lebih yahud di banding gadis yaa?”,
canda Fernandes kemudian membuat Maria tergelak dan mencubit Fernandes keras
sekali.
“Aduh…ampun…ampun!”, Fernandes meringis karena Maria
tak mau melepaskan cubitannya.
“Ayo bilang bahwa
kamu tak akan meninggalkan janda ini untuk alasan apapun! Cepat..!”, Maria berpura pura galak.
“Iya..Iya…Aku
bersumpah akan tetap mencintai Maria Pedrosa di dalam suka maupun duka di
seluruh jalan hidupku!”,
jawab Fernandes masih sambil meringis.
Siluet
di balik gorden jendela belakang rumah, yang sedari tadi diam di sana, bergerak
dan menghilang.
“Kalian belum tahu
masalah apa yang kan kalian hadapi! Tak akan semudah membalik tangan untuk
meyakinkan semua orang bahwa apa yang kalian kini rasakan benar-benar tulus
anakku!”, Nyonya
Alejandra Hector Fernandes bergumam sambil berjalan dari balik gorden dan mengusap
air matanya.
“Papaaaa…!”, Halilintar kini berdiri di pintu
memanggil Fernandes. Rupanya ia pun gelisah tidurnya malam ini dan mencari ayah
nya.
Fernandes
cepat cepat berdiri, menyodorkan secarik kertas pada Maria dan beranjak ke arah
Halilintar dengan tergopoh gopoh.
Sepeninggal
Fernandes, Maria membuka kertas itu dan mulai membaca….
"Pintaku Cinta"
Bila cinta itu nyata
Beri aku lebih dari kata
Manjakan aku lebih lama
Jangan pernah sertai dengan luka
Biar ku tau kau kini ada
Biar ku rasa cinta itu memang indah
Dan dari dirimulah itu asalnya
Karena...
Apalah arti rasa cinta
Bila kau nenti tak ada
Bila hanya sekadar kata
Kuingin wujudnya, jadilah pendamping setia
Kuingin rasakannya, jadilah belahan jiwa
Dan itu hanya denganmu,,,
Bila cinta itu nyata
Beri aku lebih dari kata
Manjakan aku lebih lama
Jangan pernah sertai dengan luka
Biar ku tau kau kini ada
Biar ku rasa cinta itu memang indah
Dan dari dirimulah itu asalnya
Karena...
Apalah arti rasa cinta
Bila kau nenti tak ada
Bila hanya sekadar kata
Kuingin wujudnya, jadilah pendamping setia
Kuingin rasakannya, jadilah belahan jiwa
Dan itu hanya denganmu,,,
Maria Pedrosa...
“Begitu lembut hatimu
Luiz….Mampukah aku menolak cinta mu yang sedemikan hangat?”, Maria berbisik sambil mendekap
kertas itu di dadanya.
“Cieeeee…cieeeee…….!”, Maria tersentak kaget. Ia
berpaling dan….Toby ada di belakangnya. Toby tersenyum senyum melihat Maria dan
memberi tahu Nenek nya memanggil Maria untuk makan malam bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar