“Jangan terpuruk ketika kamu tengah
berada dalam situasi terburuk. Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin
kamu lebih kuat dari sebelumnya.”
Sudah
pukul sebelas malam ini, dan Maria Pedrosa masih belum juga bisa terpejam.
Sepulang dari Rumahsakit tadi ada begitu banyak percakapan yang berkesan
baginya. Ia tersenyum senyum sendiri sambil menatap langit langit kamar
mengingat semua pertanyaan pertanyaan kritis dari Toby sepanjang perjalanan
pulang.
Begitu juga dengan pertanyaan pertanyaan si kecil Halilintar. Ia begitu
takjub dengan cara Fernandes memberi penjelasan pada kedua anaknya. Begitu
terperinci, sabar dan penuh inspirasi.
Fernandes terdengar begitu piawai memacu
semangat kedua puteranya lewat semua penjelasan penjelasannya meski sambil
mengemudi kendaraan mereka.
Tak lupa, Fernandes pun dengan cara nya yang sangat
pintar, selalu mengajak kedua buah hatinya itu untuk mengagungkan TUHAN karena
semua perbuatan kasih yang telah mereka terima. Melihat ini semua, Maria
teringat mendiang ayahnya sendiri. Airmatanya menetes…
“Hhh, kalau saja kau
masih hidup Ayah…Pasti ayah pun tersenyum melihat kebahagiaanku sekarang”, bisik Maria pelan.
Paginya,
Maria tersentak bangun. Ia melihat Alaura Sang Asisten Rumahtangga Luiz Fernandes
tak lagi ada di sampingnya. Berarti sudah siang! Maria pun tergopoh gopoh
keluar kamar, melirik sekilas pada jam dinding di ruang tamu. Sudah pukul 6:00!
Hmm, ia melihat Fernandes sudah sibuk menata tas kerjanya, sambil memberi
arahan dan instruksi pada Toby terkait jam pulang sekolahnya, sementara Toby
pun terlihat sedang sibuk memasang dasi dan berdandan. Setelah berteriak kecil
mengucapkan selamat pagi pada semua, Maria pun langsung masuk kamar mandi.
Setelah
selesai berdandan, Maria keluar kamar dan siap berangkat bekerja. Ia melihat,
Luiz Fernandes , Toby
dan Halilintar sudah duduk di meja makan menunggunya sarapan bersama. Maria
tersenyum lagi pada mereka dan bergabung, mengambil posisi duduk di kursi
sebelah Fernandes.
Sebelum
sarapan Luiz Fernandes membuka Alkitab di tangannya, membaca satu ayat dari
sana dengan suara keras. Kemudian meminta semua memberi tanggapan atau kesan
tentang ayat yang baru di bacakannya.
“Ya, Saudara Tobias
Halden Fernandes! Silahkan..”,
Fernandes mempersilahkan ketika Toby mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Dan
Toby pun berbicara.
Acara
membaca kitab suci di tutup oleh Luiz Fernandes dengan doa sekaligus doa untuk
sarapan yang akan mereka santap pagi ini.
“TUHAN..Hamba hamba MU ini datang dan
menundukkan kepala di hadapan hadirat MU yang suci. Kami mau ucapkan rasa
syukur yang tak terhingga untuk semua ungkapan kasih yang telah ENGKAU
tunjukkan pada keluarga kami hingga kami pun dapat tetap menikmati sukacita
menjalani hidup meski di tengah cobaan dan problem yang melanda kami. Hari ini
pun kami tak ingin melepaskan tangan kami dari tuntunanMU yang kuat ya TUHAN!
Ijinkan kami terus berharap dan berpasrah pada MU dan mohon kiranya ENGKAU mau
mengajar kami untuk dapat selalu menyenangkan hati MU melalui semua tindakan,
tutur kata maupun cara kami berfikir. Kami percaya meski raga kami di rongrong
oleh ketidak sempurnaan, roh kudus MU dapat selalu ada untuk kami dan
mengingatkan kami di seluruh jalan dan hembusan nafas kami hari ini. Mohon juga
ya TUHAN, sudilah kiranya memberi berkat MU atas makanan yang sebentar lagi
akan kami santap ini, agar dapat menjadi kekuatan, kesegaran dan tenaga dinamis
bagi kami. Hamba hamba Mu ini adalah manusia manusia bodoh dan tidak
sempurna,,karena itu kami masih sering kali melakukan perkara perkara yang tidak ENGKAU perkenan. Mohon juga kira
nya ENGKAU sudi berbelas kasihan atas kami dan mengampuni kami ya TUHAN. Kami
pun sudah selayaknya harus juga
mengampuni siapapun yang bersalah atas kami.
Akhirnya,,seluruh
kehidupan kami, permohonan bodoh dan tak
sempurna ini kami serahkan dalam tangan MU ya TUHAN dan kami sampaikan ini
hanya karena pengorbanan Putera MU, Yesus Kristus yang kami kasihi,,,Amiiin!”
Maria
kaget dalam hati. Ia mendengar getaran pada suara Fernandes di sepanjang doa
yang ia sampaikan.
Ajaib,
ia pun melirik Alaura yang beragama muslim ikut menyatakan amin dengan suara
sangat pelan di akhir doa Fernandes tadi. Maria pun sempat melihat Luiz
Fernandes menghapus sudut matanya sekilas sebelum mulai bersantap.
“Oh,,Luiz! Andai saja
aku telah mengenalmu seperti ini sejak lama”, Maria membathin sedih.
Siang
ini, saat makan di Rumahsakit tempatnya bekerja, Verna Rosalba, sahabat Maria
mendekati dan berbisik, “Bagaimana
keadaan anaknya Pak Fernandes sekarang Kak?”.
“Sedikit membaik
Ros..hari kamis nanti dia akan menjalani chemo teraphy lagi”, jawab Maria.
“Bagaimana awalnya
sih Kak? Kok bisa tiba tiba begitu? Terdiagnosa penyakit berbahaya memang tidak
ada gejala gejala awal ya Kak?”, tanya
Rosalba lagi.
Maria
pun bercerita bahwa Halilintar itu sebenarnya ada di bawah pengawasan Luiz
Fernandes sejak berusia delapan tahun. Dan tak ada sedikitpun tanda tanda ia
akan mengidap penyakit seperti itu. Namun pada akhir tahun dua ribu lima belas
lalu, Luiz Fernandes mengalami masalah dengan perusahaan Italia tempatnya
bekerja yang mengakibatkan ia harus mengajukan Surat Pengunduran diri pada
waktu yang sama.
Demi penyelamatan keadaan finansial, Luiz Fernandes pun sempat
bergabung dengan sebuah perusahaan kontraktor milik saudaranya. Namun
konsekwensinya adalah ia harus mau melakukan perjalanan dinas keluar kota
apabila di butuhkan.
Karena itu Fernandes akhirnya menghubungi Dolores Poldie
mantan isterinya dan berharap ia bisa menitipkan kedua anaknya pada mantan
isterinya itu untuk sementara waktu.
Namun baru sebulan itu berlangsung
Fernandes mendapat telepon bahwa anak bungsunya Helio Nestor Fernandes yang
biasa ia panggil Halilintar itu mengalami masalah dengan penglihatannya sebelah
kanan.
Karena
itu, ia langsung pulang dan begitu melihat keadaanya, ia pun langsung melarikan
Halilintar ke rumahsakit. Tapi sungguh mengagetkan, dokter yang menangani
Halilintar menyatakan bahwa meski baru satu malam, Halilintar telah kehilangan
penglihatannya sebelah kanan. Dokter pun merekomendasikan agar Halilintar yang
baru berusia sepuluh tahun itu, segera di bawa ke rumah sakit yang khusus
menangani mata anak karena ia menemukan ada nanah di dalam kornea mata
Halilintar.
Di
rumah sakit mata yang di tunjuk tersebut keadaan mata Halilintar justru semakin
hari semakin memburuk bahkan sampai mengalami pembengkakan luar biasa. Hampir
tiga bulan Luiz Fernandes dan Halilintar di pingpong kesana kemari oleh para
dokter mata yang menangani kasusnya untuk mengetahui apa penyebab kerusakan
fatal dari mata Halilintar.
Pemeriksaan demi pemeriksaan yang sangat
menyakitkan di lalui namun tetap tidak di temukan jawaban. Tak terhitung lagi
entah berapa kali Luiz Fernandes harus meraung-raung menangis dan memohon
kepada para dokter agar segera menemukan akar masalah mata anaknya itu, karena
tak tahan melihat penderitaan dan tangisan perih dari Halilintar. Tak terhitung
pula entah berapa ratus atau bahkan ribu Euro yang telah di habiskan untuk
menjalani semua proses pemeriksaan.
Sampai
pada akhirnya semua dokter menyerah dan mengatakan bahwa mata Halilintar tak
mungkin lagi terselamatkan. Jalan satu satunya hanya operasi pencangkokan
protesa atau bola mata palsu pada mata Halilintar untuk mencegah penyakit itu
menjalar ke mata yang kiri.
Pada
saat itulah, salah satu dokter mencurigai adanya titik titik putih pada bola
mata Halilintar yang rusak. Ia pun segera merekomendasikan agar Halilintar di
bawa ke Rumah Sakit Pusat Khusus Kanker Di Spanyol untuk menjalani lagi Test
MRI, yang akhirnya di lanjutkan dengan Test BMP ( Bone Marrow Puncture).
“Dan…dari sini lah
seluruh ceritanya dimulai Ros! Kalau kamu ingin melihat video nya, aku punya di HP ini Ros”,
Maria mengakhiri ceritanya sambil menunjukkan videonya pada Rosalba.
“Ya ampun…TUHAN!”, Verna Rosalba menyusut airmatanya
setelah mendengar seluruh cerita Maria temannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar