Senin, 30 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 10











“Meratapi dan menyesali masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Bangkit dan perbaiki setiap kesalahan yang ada”.







“Saya fikir, tindakan ini bukanlah tindakan bijaksana. Customer kita akan menganggap perusahaan kita terlalu arogan dengan mengajukan Surat seperti ini. Mereka sudah memberikan lahan mereka untuk di dirikan signage bagi kita sebagai sarana iklan Pak!”, Fernandes menjelaskan argumentasinya dengan berapi-api pada Marketing Head Division, Mr. Tommy Chan.

“Lantas menurut Bapak, kita harus bagaimana? Ini permintaan Ibu pemilik perusahaan ini…Saya bisa apa?”, jawab Mr. Tommy Chan memelas.

“Tidak apa apa Pak,,Kita tetap melaksanakan perintah tersebut. Tetapi jangan begini redaksinya..Ini terlalu arogan! Tolong di rubah menjadi bentuk Tanda Terima saja , dan bukan syarat pendirian fasilitas signage”, tambah Fernandes lagi.

“Ya sudah Pak, saya percaya Bapak tahu yang terbaik. Jangan sampai langkah saya menghalangi terobosan apapun yang divisi bapak lakukan. Ok! Saya akan minta sekretaris saya mengedit redaksinya dan nanti langsung di ajukan ke Bapak lagi..Saya permisi dulu!”, Mr. Chan akhirnya pamit keluar ruangan Fernandes.

Fernandes menarik nafas dalam.. Hampir saja Surat itu terkirim ke customer mereka. Dan ia bisa membayangkan reaksi dari orang orang seperti Tuan Adolfo atau Tuan Alvaro membaca redaksi itu.

Setengah jam kemudian, Neva sekretaris Mr. Tommy Chan datang lagi dan menyodorkan selembar Surat. Fernandes membaca kata demi kata yang tertulis di Surat tersebut dengan teliti, mencoret dan menambahkan beberapa kata dan akhirnya menanda-tanganinya.

“Looks Ok Neva,,Terimakasih ya! Dan tolong bilang terima kasih juga pada Mr. Chan..Kalau sudah selesai, beritahu saya segera ya, saya akan atur orang saya untuk mengeksekusinya”, ujar Fernandes sambil menyerahkan Surat itu kembali pada Neva.

Ting!...Ting! Bunyi notifikasi Whatsapp Messenger di telepon nya. Fernandes meraih telepon nya dan melihat. 

“Luiz..!”, hanya kata itu yang ada di kolom pesan. Ia melihat ke atas screen dan..”hmm..”.
 
Amara Oliveria Bonaro adalah sepupu dari pihak ayahnya. Ibu Amara, Nyonya Verdelita Fernandes yang menikah dengan seorang terpandang bernama Alfredo Bonaro adalah kakak kandung ayah Fernandes. 
Kakak sepupunya yang sedang sibuk menyusun disertasi untuk program doctoral nya ini memang kebiasaan hanya mengetik namanya saja ketika membuka percakapan di chatting. 
Amara ini adalah sepupunya yang ia rasa paling dekat dengan dirinya di antara sepupu-sepupunya yang lain. Fernandes tersenyum membacanya..

“Iya kakak ku yang cantik?”, Fernandes mengetik balasan dengan sangat cepat.

Hampir lima belas menit ia habiskan berbalas-balasan pesan dengan Amara yang belakangan membuat wajahnya muram. Kakak sepupunya ini memberitahu bahwa berita miring tentang dirinya sebenarnya bersumber dari cerita bohong yang di hembuskan oleh Leandro adiknya. Ya, Leandro Ritchie Fernandes adalah adik kandung dari Luiz Fernandes. 
Menurut Amara, Leandro lah yang sering mengatakan bahwa Luiz Fernandes suka sekali berganti-ganti wanita. Berita miring ini tentu saja membuat beberapa keluarga tidak senang dan bahkan merasa Luiz Fernandes sudah melalui jalan yang salah.

“Terus menurut Kakak bagaimana?”, tanya Fernandes ingin menyelidik pendapat dan pandangan Kakak sepupu yang ia sayangi ini.

“Ya menurut ku, kamu nggak usah fikirkan lah Luiz. Ke Mama sih sedapat mungkin Kakak sudah klarifikasi apa yang sebenarnya. Tapi yaaah,,ke orang lain memang bukan urusan kakak sih. Sepanjang apa yang sedang kamu jalani sudah benar menurut kamu, jalani saja Luiz”, Amara dengan cepat membalas.

Fernandes termenung sesaat. Entah untuk alasan apa Leandro melakukan ini. Padahal meski sejak pertama Halilintar jatuh sakit Leandro tidak menghubungi nya sama sekali apalagi menjenguk, Fernandes tidak ingin berfikir negative pada adiknya ini. Ia justru mengatakan pada ibunya kalau Leandro sedang sibuk sekali.

Tok..Tok..Tok! Pintu ruangan kerja Fernandes di ketuk meski sedang terbuka lebar. Fernandes tersenyum melihat orang yang berdiri di depan pintu. Mr. James Lee.

“Apa yang Pak Fernandes fikirkan hmm? Muka sampai di tekuk seperti itu Pak Fernandes..? Nggak enak di lihat orang lho!”, sambil tersenyum Mr. Lee berjalan masuk ke ruangan Fernandes dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan Fernandes.

Bos-nya yang satu ini memang sering kali datang ke ruangan nya untuk sekedar bercakap-cakap. Kadang Fernandes yang bercerita panjang lebar tentang keadaannya maupun keadaan anaknya. 
Di saat lain Mr. Lee yang banyak bercerita tentang dirinya. Fernandes tidak berani untuk menyimpulkan bahwa mereka cukup akrab, namun dalam keadaan tertentu yang memaksa Fernandes mengambil keputusan keputusan pribadi, meski tidak berhubungan dengan pekerjaan, Mr. Lee orang yang sering ia minta pendapat.

“Benar kata sepupu anda Pak Fernandes!.. Anda tidak perlu membiarkan penilaian orang mempengaruhi keputusan dan jalan hidup anda kalau anda memang sudah meyakini itu benar. Apalagi setahu saya, anda ini rajin sekali berdoa. Saya fikir, anda pasti mendoakan dulu keputusan anda sebelum mengeksekusinya kan?”, Mr. Lee memberi tanggapan serius setelah mendengar penuturan Fernandes.

Fernandes kemudian menarik nafas panjang. Terlihat ia lega sekali. Pendapat dua orang ini yang jelas ber-pendidikan tinggi dan ber-wawasan luas rasanya cukup sebagai pertimbangan dan kekuatan baginya.

Mr. Lee kemudian membicarakan maksud kedatangannya ke ruangan Fernandes sebelumnya. Mereka berdiskusi cukup alot. Terlihat Fernandes sampai mengambil secarik kertas, mencorat coret dan menggambar di sana-sini sambil berbicara memberi penjelasan. Tak cukup satu lembar, ia pun mengambil lagi kertas lainnya. Mr. Lee pun memanggut manggut tanda mengerti apa yang Fernandes sampaikan.

Tak lama, Mr. Lee tersenyum sambil berdiri. Raut wajahnya terlihat sangat puas. Kemudian ia pun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Fernandes.

“Saya beruntung bertemu anda Pak Fernandes! Saya tidak habis fikir Mafioso-mafioso itu tidak dapat melihat potensi yang anda miliki…”, Mr. Lee menutup pembicaraan dengan suara mantap sambil bersalaman dengan Fernandes.

“Ah Bapak terlalu berlebihan mengungkapkannya Pak…”, dengan raut muka malu Fernandes menjawab sambil tersenyum pada Mr. Lee.

Sepeninggal Mr. Lee, Fernandes membuka laptopnya dan memeriksa beberapa file yang sebelumnya telah ia buat.

Ting..! Ting..! Notifikasi berbunyi lagi. Ia melihat, kali ini dari orang yang ia tunggu tunggu. Maria Pedrosa!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar