“Meratapi dan menyesali masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Bangkit dan perbaiki setiap kesalahan yang ada”.
“Saya fikir, tindakan
ini bukanlah tindakan bijaksana. Customer kita akan menganggap perusahaan kita
terlalu arogan dengan mengajukan Surat seperti ini. Mereka sudah memberikan
lahan mereka untuk di dirikan signage bagi kita sebagai sarana iklan Pak!”, Fernandes menjelaskan
argumentasinya dengan berapi-api pada Marketing Head Division, Mr. Tommy Chan.
“Lantas menurut
Bapak, kita harus bagaimana? Ini permintaan Ibu pemilik perusahaan ini…Saya
bisa apa?”, jawab Mr.
Tommy Chan memelas.
“Tidak apa apa
Pak,,Kita tetap melaksanakan perintah tersebut. Tetapi jangan begini
redaksinya..Ini terlalu arogan! Tolong di rubah menjadi bentuk Tanda Terima
saja , dan bukan syarat pendirian fasilitas signage”, tambah Fernandes lagi.
“Ya sudah Pak, saya
percaya Bapak tahu yang terbaik. Jangan sampai langkah saya menghalangi
terobosan apapun yang divisi bapak lakukan. Ok! Saya akan minta sekretaris saya
mengedit redaksinya dan nanti langsung di ajukan ke Bapak lagi..Saya permisi
dulu!”, Mr. Chan
akhirnya pamit keluar ruangan Fernandes.
Fernandes
menarik nafas dalam.. Hampir saja Surat itu terkirim ke customer mereka. Dan ia
bisa membayangkan reaksi dari orang orang seperti Tuan Adolfo atau Tuan Alvaro
membaca redaksi itu.
Setengah
jam kemudian, Neva sekretaris Mr. Tommy Chan datang lagi dan menyodorkan
selembar Surat. Fernandes membaca kata demi kata yang tertulis di Surat
tersebut dengan teliti, mencoret dan menambahkan beberapa kata dan akhirnya
menanda-tanganinya.
“Looks
Ok Neva,,Terimakasih ya! Dan tolong bilang terima kasih juga pada Mr. Chan..Kalau
sudah selesai, beritahu saya segera ya, saya akan atur orang saya untuk
mengeksekusinya”, ujar Fernandes sambil menyerahkan Surat itu kembali pada
Neva.
Ting!...Ting!
Bunyi notifikasi Whatsapp Messenger di telepon nya. Fernandes meraih
telepon nya dan melihat.
“Luiz..!”, hanya kata itu yang ada di kolom pesan.
Ia melihat ke atas screen dan..”hmm..”.
Amara
Oliveria Bonaro adalah sepupu dari pihak ayahnya. Ibu Amara, Nyonya Verdelita
Fernandes yang menikah dengan seorang terpandang bernama Alfredo Bonaro adalah
kakak kandung ayah Fernandes.
Kakak sepupunya yang sedang sibuk menyusun
disertasi untuk program doctoral nya ini memang kebiasaan hanya mengetik
namanya saja ketika membuka percakapan di chatting.
Amara ini adalah sepupunya
yang ia rasa paling dekat dengan dirinya di antara sepupu-sepupunya yang lain. Fernandes
tersenyum membacanya..
“Iya kakak ku yang cantik?”, Fernandes mengetik balasan dengan sangat cepat.
Hampir
lima belas menit ia habiskan berbalas-balasan pesan dengan Amara yang belakangan membuat wajahnya muram. Kakak sepupunya ini memberitahu bahwa berita miring tentang
dirinya sebenarnya bersumber dari cerita bohong yang di hembuskan oleh Leandro
adiknya. Ya, Leandro Ritchie Fernandes adalah adik kandung dari Luiz Fernandes.
Menurut Amara, Leandro lah yang sering mengatakan bahwa Luiz Fernandes suka
sekali berganti-ganti wanita. Berita miring ini tentu saja membuat beberapa
keluarga tidak senang dan bahkan merasa Luiz Fernandes sudah melalui jalan yang
salah.
“Terus menurut Kakak
bagaimana?”, tanya
Fernandes ingin menyelidik pendapat dan pandangan Kakak sepupu yang ia sayangi
ini.
“Ya menurut ku, kamu
nggak usah fikirkan lah Luiz. Ke Mama sih sedapat mungkin Kakak sudah
klarifikasi apa yang sebenarnya. Tapi yaaah,,ke orang lain memang bukan urusan
kakak sih. Sepanjang apa yang sedang kamu jalani sudah benar menurut kamu,
jalani saja Luiz”,
Amara dengan cepat membalas.
Fernandes
termenung sesaat. Entah untuk alasan apa Leandro melakukan ini. Padahal meski
sejak pertama Halilintar jatuh sakit Leandro tidak menghubungi nya sama sekali
apalagi menjenguk, Fernandes tidak ingin berfikir negative pada adiknya ini. Ia
justru mengatakan pada ibunya kalau Leandro sedang sibuk sekali.
Tok..Tok..Tok!
Pintu ruangan kerja Fernandes di ketuk meski sedang terbuka lebar. Fernandes
tersenyum melihat orang yang berdiri di depan pintu. Mr. James Lee.
“Apa yang Pak
Fernandes fikirkan hmm? Muka sampai di tekuk seperti itu Pak Fernandes..? Nggak
enak di lihat orang lho!”,
sambil tersenyum Mr. Lee berjalan masuk ke ruangan Fernandes dan langsung
menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan Fernandes.
Bos-nya
yang satu ini memang sering kali datang ke ruangan nya untuk sekedar
bercakap-cakap. Kadang Fernandes yang bercerita panjang lebar tentang
keadaannya maupun keadaan anaknya.
Di saat lain Mr. Lee yang banyak bercerita
tentang dirinya. Fernandes tidak berani untuk menyimpulkan bahwa mereka cukup
akrab, namun dalam keadaan tertentu yang memaksa Fernandes mengambil keputusan keputusan
pribadi, meski tidak berhubungan dengan pekerjaan, Mr. Lee orang yang sering ia
minta pendapat.
“Benar kata sepupu
anda Pak Fernandes!.. Anda tidak perlu membiarkan penilaian orang mempengaruhi
keputusan dan jalan hidup anda kalau anda memang sudah meyakini itu benar.
Apalagi setahu saya, anda ini rajin sekali berdoa. Saya fikir, anda pasti
mendoakan dulu keputusan anda sebelum mengeksekusinya kan?”, Mr. Lee memberi tanggapan serius
setelah mendengar penuturan Fernandes.
Fernandes
kemudian menarik nafas panjang. Terlihat ia lega sekali. Pendapat dua orang ini
yang jelas ber-pendidikan tinggi dan ber-wawasan luas rasanya cukup sebagai
pertimbangan dan kekuatan baginya.
Mr.
Lee kemudian membicarakan maksud kedatangannya ke ruangan Fernandes sebelumnya.
Mereka berdiskusi cukup alot. Terlihat Fernandes sampai mengambil secarik
kertas, mencorat coret dan menggambar di sana-sini sambil berbicara memberi
penjelasan. Tak cukup satu lembar, ia pun mengambil lagi kertas lainnya. Mr.
Lee pun memanggut manggut tanda mengerti apa yang Fernandes sampaikan.
Tak
lama, Mr. Lee tersenyum sambil berdiri. Raut wajahnya terlihat sangat puas.
Kemudian ia pun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Fernandes.
“Saya beruntung
bertemu anda Pak Fernandes! Saya tidak habis fikir Mafioso-mafioso itu tidak
dapat melihat potensi yang anda miliki…”, Mr. Lee menutup pembicaraan dengan suara mantap
sambil bersalaman dengan Fernandes.
“Ah Bapak terlalu
berlebihan mengungkapkannya Pak…”,
dengan raut muka malu Fernandes menjawab sambil tersenyum pada Mr. Lee.
Sepeninggal
Mr. Lee, Fernandes membuka laptopnya dan memeriksa beberapa file yang
sebelumnya telah ia buat.
Ting..!
Ting..! Notifikasi berbunyi lagi. Ia melihat, kali ini dari orang yang ia
tunggu tunggu. Maria Pedrosa!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar