Edward Farel datang tergopoh-gopoh sambil berkata,
"Pak Luiz tidak boleh terpancing!",..." Apa yang diniatkan sudah
baik, mohon bapak tidak emosi". Wajah Fernandes terlihat begitu marah
mendengar semua ujaran Farel.
Pagi ini Fernandes begitu marah, sampai wajahnya
merah padam. Ia mengambil telephone selularnya dan menekan nomor nomor
telephone pengacaranya Edward Farell dengan tangan bergetar. Tiga jam kemudian,
mobil pengacara yang beragama muslim ini masuk ke pekarangan rumah Fernandes.
"Saya
kan sudah bilang ke bapak sebelumnya, mengganti delik gugatan perceraian saya
akan melemahkan posisi saya sebagai penggugat!!! Kenapa bapak tidak
mendengarkan saya? Sekarang lihat! Dolores telah menyebarkan hasutan di gereja
dan di muka umum bahwa saya menggugat cerai karena saya lebih menyayangi ibu dari
pada isteri saya!", Fernandes langsung menyemprot pengacaranya dengan
deretan kalimat marah seperti meriam saat pengacara itu masuk dan muncul di
ruang tamu rumahnya.
Sang pengacarapun kemudian menghela nafas panjang sambil
bersiap untuk duduk di sofa.
Fernandes kemudian mengangkat gelas kopinya,
menerawang sambil terus mengenang kejadian tujuh tahun lalu saat ia pertama
kali menggugat cerai Dolores Poldie mantan isterinya. Ada begitu banyak
perdebatan antara dirinya dengan Farel Edward pada waktu itu.
"Agama saya tidak mengijinkan seorang suami menggugat cerai isteri hanya karena tidak lagi harmonis!"
"Tapi bapak kan tidak menggugat cerai berdasarkan hukum agama? Bapak saya wakili dalam hukum negara.Jangan lupa itu!"
"Tapi
inilah akibat yang harus saya tanggung! Masyarakat sosial justru mendakwa saya
telah berbuat semena mena karena tidak menggugat cerai dengan alasan
sebenarnya."
"Apalah artinya itu Pak? Coba bapak bayangkan betapa tercorengnya muka seluruh keluarga Dolores yang tidak tahu menahu masalah ini kalau bapak menggugat dengan dengan delik aduan seburuk itu? Ini soal kemanusiaan Pak Luiz! Itu aib yang seumur hidup akan menekan mental semua keluarga mereka yang tidak ikut bersalah dalam hal ini?"
"Apa
urusan saya dengan itu??? Lagipula itu yang sebenarnya terjadi kan? Seharusnya
Dolores dan saudara kandungnya itu tahu resiko itu saat melakukan perkara
menjijikkan itu!!!"
"..Oke!!..Oke..!!Bapak memang tidak perlu perduli dengan nasib mereka. Tapi bagaimana dengan Toby dan Halilintar?? Delik aduan bapak akan di lanjutkan secara hukum untuk membuat mereka mendapat ganjaran, karena hal ini di atur juga dalam Undang Undang di negara ini. Jadi tidak hanya sekedar kemenangan dalam perkara perceraian. Semua orang di kota ini bahkan mungkin seluruh Spanyol akan membicarakan perkara ini. Bagaimana Toby dan Halilintar akan bertumbuh sebagai remaja nanti di bawah tekanan rasa malu karena cerita itu??"
Bugggggghhhh!!! Kata kata Farel telak menghantam ulu hati Fernandes. Ia terhenyak. Matanya pun berkaca kaca karena marah, sedih dan merasa sangat tidak berdaya. Ya..Toby dan Halilintar harus ia pikirkan juga perasaan mereka.
"Ya
TUHAN ku...mengapa ketidak adilan ini harus terjadi lagi?? Haruskan ku
korbankan lagi diriku menjadi bulan-bulanan dan cibiran karena mempertimbangkan
perasaan dan kepentingan banyak orang? Terus, bagaimana dengan
perasaanku??", Luis Fernandes merintih terbungkuk di tempatnya
berdiri.
Ia tak mungkin tega kalau di hadapkan pada perasaan kedua buah hati
yang sangat ia cintai ini. Dalam keadaan seperti ini ia menjadi sangat
terpuruk. Menangis pun tak akan membuat perasaannya lega.
Di khianati, di
bodohi selama sembilan tahun oleh Dolores, namun tak bisa dan tak berdaya untuk
bahkan sekedar mengibaskan tangan karena itu bisa membuat banyak orang akan
ikut tenggelam termasuk kedua puteranya.
"
Hhhh.......", Fernandes menghela nafas panjang. Kenangan ini telah
membuatnya terluka lagi. Air mata nya bergulir tak terasa.
Di angkatnya lagi gelas kopi di meja. Baru saja ia akan minum, Fernandes tersentak dengan bunyi ketukan pintu rumahnya. Ia berdiri menuju pintu untuk membuka. Sebelumnya, Fernandes mengintip dari gorden jendela untuk melihat siapa yang datang. Ia terhenyak! Maria datang. Ya Maria Pedrosa.
"Sudah
dua minggu sejak ia ku beri nomor telephone selular teman pengacaraku,,kenapa
baru sekarang ia datang?", Fernandes menggumam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar