Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 2









Edward Farel datang tergopoh-gopoh sambil berkata, "Pak Luiz tidak boleh terpancing!",..." Apa yang diniatkan sudah baik, mohon bapak tidak emosi". Wajah Fernandes terlihat begitu marah mendengar semua ujaran Farel.


Pagi ini Fernandes begitu marah, sampai wajahnya merah padam. Ia mengambil telephone selularnya dan menekan nomor nomor telephone pengacaranya Edward Farell dengan tangan bergetar. Tiga jam kemudian, mobil pengacara yang beragama muslim ini masuk ke pekarangan rumah Fernandes.

"Saya kan sudah bilang ke bapak sebelumnya, mengganti delik gugatan perceraian saya akan melemahkan posisi saya sebagai penggugat!!! Kenapa bapak tidak mendengarkan saya? Sekarang lihat! Dolores telah menyebarkan hasutan di gereja dan di muka umum bahwa saya menggugat cerai karena saya lebih menyayangi ibu dari pada isteri saya!", Fernandes langsung menyemprot pengacaranya dengan deretan kalimat marah seperti meriam saat pengacara itu masuk dan muncul di ruang tamu rumahnya. 

Sang pengacarapun kemudian menghela nafas panjang sambil bersiap untuk duduk di sofa.

Fernandes kemudian mengangkat gelas kopinya, menerawang sambil terus mengenang kejadian tujuh tahun lalu saat ia pertama kali menggugat cerai Dolores Poldie mantan isterinya. Ada begitu banyak perdebatan antara dirinya dengan Farel Edward pada waktu itu.

"Agama saya tidak mengijinkan seorang suami menggugat cerai isteri hanya karena tidak lagi harmonis!"

"Tapi bapak kan tidak menggugat cerai berdasarkan hukum agama? Bapak saya wakili dalam hukum negara.Jangan lupa itu!"

"Tapi inilah akibat yang harus saya tanggung! Masyarakat sosial justru mendakwa saya telah berbuat semena mena karena tidak menggugat cerai dengan alasan sebenarnya."

"Apalah artinya itu Pak? Coba bapak bayangkan betapa tercorengnya muka seluruh keluarga Dolores yang tidak tahu menahu masalah ini kalau bapak menggugat dengan dengan delik aduan seburuk itu? Ini soal kemanusiaan Pak Luiz! Itu aib yang seumur hidup akan menekan mental semua keluarga mereka yang tidak ikut bersalah dalam hal ini?"

"Apa urusan saya dengan itu??? Lagipula itu yang sebenarnya terjadi kan? Seharusnya Dolores dan saudara kandungnya itu tahu resiko itu saat melakukan perkara menjijikkan itu!!!"

"..Oke!!..Oke..!!Bapak memang tidak perlu perduli dengan nasib mereka. Tapi bagaimana dengan Toby dan Halilintar?? Delik aduan bapak akan di lanjutkan secara hukum untuk membuat mereka mendapat ganjaran, karena hal ini di atur juga dalam Undang Undang di negara ini. Jadi tidak hanya sekedar kemenangan dalam perkara perceraian. Semua orang di kota ini bahkan mungkin seluruh Spanyol akan membicarakan perkara ini. Bagaimana Toby dan Halilintar akan bertumbuh sebagai remaja nanti di bawah tekanan rasa malu karena cerita itu??"

Bugggggghhhh!!! Kata kata Farel telak menghantam ulu hati Fernandes. Ia terhenyak. Matanya pun berkaca kaca karena marah, sedih dan merasa sangat tidak berdaya. Ya..Toby dan Halilintar harus ia pikirkan juga perasaan mereka. 

"Ya TUHAN ku...mengapa ketidak adilan ini harus terjadi lagi?? Haruskan ku korbankan lagi diriku menjadi bulan-bulanan dan cibiran karena mempertimbangkan perasaan dan kepentingan banyak orang? Terus, bagaimana dengan perasaanku??", Luis Fernandes merintih terbungkuk di tempatnya berdiri. 
Ia tak mungkin tega kalau di hadapkan pada perasaan kedua buah hati yang sangat ia cintai ini. Dalam keadaan seperti ini ia menjadi sangat terpuruk. Menangis pun tak akan membuat perasaannya lega. 
Di khianati, di bodohi selama sembilan tahun oleh Dolores, namun tak bisa dan tak berdaya untuk bahkan sekedar mengibaskan tangan karena itu bisa membuat banyak orang akan ikut tenggelam termasuk kedua puteranya.

" Hhhh.......", Fernandes menghela nafas panjang. Kenangan ini telah membuatnya terluka lagi. Air mata nya bergulir tak terasa.

Di angkatnya lagi gelas kopi di meja. Baru saja ia akan minum, Fernandes tersentak dengan bunyi ketukan pintu rumahnya. Ia berdiri menuju pintu untuk membuka. Sebelumnya, Fernandes mengintip dari gorden jendela untuk melihat siapa yang datang. Ia terhenyak! Maria datang. Ya Maria Pedrosa.

"Sudah dua minggu sejak ia ku beri nomor telephone selular teman pengacaraku,,kenapa baru sekarang ia datang?", Fernandes menggumam.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar