Jumat, 03 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 12



Penyembuhan adalah tentang menerima rasa sakit dan menemukan cara untuk berdamai dengan perasaan itu. Dalam lautan kehidupan, rasa sakit adalah gelombang pasang dan surut yang akan secara terus menerus merajutmu menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”



Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah kali ini terasa jadi sangat jauh untuk Luiz Fernandes dan Halilintar. Sepanjang jalan Halilintar muntah terus karena efek chemo yang di jalani semalam masih tetap terasa. Anak bungsu Fernandes ini sudah sangat terkuras energinya, namun masih bisa bertanya, “Pa, Nenek di rumah ya?”.

“Iya Nak, memangnya kenapa?”, tanya Fernandes bingung.

“Kalau begitu jangan langsung pulang Pa! Bisa mampir nggak ke supermarket sebentar? Tolong papa beliin makanan ringan lagi dong Pa… Kasihan Nenek nanti kalau melihat aku begini nanti”, jawab Halilintar. Ternyata ia sedang mencemaskan reaksi neneknya di rumah melihat kondisinya yang lemas karena kebanyakan muntah.

“Ok deh Bos!”, sambung Fernandes lagi sambil tersenyum penuh arti pada Toby anak sulungnya.
Toby pun hanya tersenyum pahit sambil mengurut urut leher adiknya di kursi belakang mobil.

Sesampai di rumah, di depan gerbang sudah berdiri menunggu Ny. Hector Fernandes, Nenek Halilintar dengan muka gelisah dan sangat murung. Mobil belum terparkir sempurna, Ny. Hector sudah bergegas membuka pintu belakang, dan langsung memeluk Halilintar erat sekali.

“Cucuku!... kuat sekali kamu sayang?”, ujarnya sambil menangis. “Kalau papa mu dulu, baru sakit perut saja sudah menangis terus dia itu”, tambah ibu Fernandes lagi sambil menuntun Halilintar berjalan masuk ke dalam rumah.

Dengan wajah di buat lucu sekali, dan sedikit menggoyang-goyang kepalanya, Halilintar berkata pada Neneknya, “Nenek lebay ah…Ini kan sudah 14 kali, gampil ini maaaah!”.

Fernandes buru buru mengalihkan pandangannya ke-arah lain, ada air mata yang tanpa permisi mengalir di pipinya. Ia menyusutnya perlahan dengan gerakan yang tak terlihat, dan kembali menatap puteranya dengan senyum. Begitu tabah Si Bungsu ini. 
Ia tak ingin orang lain bersedih karena keadaannya, sampai ia memaksakan diri bercanda, padahal Fernandes tahu sekali, anaknya masih sangat mual dan pasti juga pusing karena perasaan mual yang sangat mengganggu itu.

Halilintar menoleh pada Fernandes lagi, “Pa!...Kan sudah di rumah. Maskernya sudah boleh di lepas ya?”.

Dokter memang menyarankan agar Halilintar tetap mempergunakan masker pada waktu berada di tempat umum, karena pertahanan tubuhnya pada saat menjalani chemoteraphy sedang tidak ada sama sekali.

Fernandes mengangguk sambil membimbing tangan anak bungsu yang sangat ia kasihi ini masuk ke kamar tidur dan meminta Toby untuk ikut menemani Halilintar. 

Setelah itu Fernandes , pamit pada kedua anaknya akan keluar rumah sebentar untuk sebuah urusan penting.

**********************************


Sudah pukul 19:00 sore ini, dan Maria Pedrosa belum muncul juga. Ia tidak ikut pulang tadi karena harus melanjutkan pekerjaannya di rumahsakit. Saat ini, Luiz Fernandes duduk di depan rumah dan sebentar sebentar melihat ke ujung jalan berharap sepeda motor yang biasa di kendarai Maria segera terlihat.
Ya, Fernandes terlihat gelisah sekali. Ada sesuatu yang akan di kabarkannya pada Maria.

Upaya yang dilakukan Fernandes ke pihak gereja demi sebuah restu atau ijin untuk menikah lagi dengan Maria, upaya yang ke-tujuh kalinya gagal lagi hari ini.

“Kami tidak mungkin menerima perceraianmu Luiz,,karena meski sah secara hukum negara, perceraian itu kami pandang tidak sah secara hukum gereja! Kamu sendiri kan tahu hukum “”Apa yang di persatukan ALLAH tidak akan dapat di pisahkan oleh manusia kecuali karena kematian dan…zinah!”, demikian penjelasan Pdt. Hores Hesekiel Fernandes tadi sore.

“Tapi perceraian saya memang karena alasan perzinahan yang di lakukan Dolores Bapa!”, jawab Fernandes dengan suara sangat putus asa. Suaranya hampir terdengar seperti tangisan pelan bagi Pdt. Hesekiel.

“Mana??? Coba di mana itu tertulis pada Amar Putusan Pengadilan perceraianmu Luiz?? Coba tunjukkan!”, kali ini Pdt. Hesekiel suaranya meninggi dalam berbicara.

Secara jujur di dalam hati kecilnya, sebenarnya Pendeta ini sudah lama kenal Fernandes. Bahkan sejak ia masih bersekolah pada tingkat lanjutan. Ia tahu betul Fernandes tidak berdusta. 
Ia masih ingat semua. Pendeta ini masih ingat masa remaja Luiz Fernandes. 

Ketika  Miguel Hector Fernandes, ayah dari Luiz Fernandes yang adalah seorang pemeluk agama muslim memaksa Luiz untuk berpindah agama, Luiz Fernandes memilih untuk keluar dari rumah dan menggelandang  di terminal bis di kota Almeria, mengais rejeki dengan menjadi pengemudi angkutan kota disana sambil terus bersekolah di pagi hari, karena ia sangat mencintai agamanya…Kristen.

Ya, Luiz Fernandes sangat mencintai TUHAN. Dan itu bisa ia lihat sampai sekarang. Bertindak seperti pengemis, Luiz Fernandes lebih memilih terus berupaya mendapatkan pengakuan atas perceraiannya dari pihak gereja, terus berupaya menemui setiap gereja dan pendeta yang ia kenal, dari pada melakukan hal mudah, berpindah agama menjadi seorang muslim, dan bisa segera menikah dengan nona Maria. Hal itu pasti di sukai oleh kakak sepupu jauh-nya, Miguel. 

Kesulitan yang di alami Luiz saat ini mendapat pengakuan karena alasan perceraiannya ketidak-harmonisan keluarga. Itu yang tertulis pada Amar Putusan Pengadilan. Dan Sang Pendeta juga tahu alasan Luiz tidak menuliskan perzinahan Dolores sebagai alasan adalah karena pertimbangan kemanusiaan.(Baca; CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 2 )

Tapi, ia tak berdaya menolong Fernandes. Ia tahu restu dan pengakuan dari pihaknya akan memancing reaksi keras dari umat, terutama karena ia tahu betul berdasarkan penuturan Fernandes, keluarga Maria tidak menyetujui rencana pernikahan Maria dengan keponakannya ini.

Fernandes pun pamit pada Pendeta Hesekiel. Dengan wajah sangat sedih, ia hanya minta agar di doakan. Dan, di luar dugaan, Sang Pendeta menyodorkan secarik kerats yang ia sudah tulis sebelumnya.Fernandes menerima kertas itu, mencium tangan Sang Pendeta dan segera keluar dari gereja itu.

Sesampai di dalam mobil, Fernandes tak segera bergerak. Ia mengeluarkan kertas pemberian Pdt. Hesekiel dan membacanya terlebih dahulu. Hmm, hanya sebaris kalimat dari ayat Alkitab!

“Ketuklah pintu, maka kepadamu akan di bukakan…Mintalah, maka kepadamu akan di berikan!”


Tiba tiba Fernandes melihat secercah sinar yang mengganggu penglihatannya. Sinar dari lampu sepeda motor yang di kendarai Maria.

“Selamat malam Luizzz!..”, sapa Maria dari atas sepeda motornya.




Bersambung..

Rabu, 01 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 11

 
 







”Meski kau punya seribu alasan untuk marah, kau masih punya satu alasan lain untuk menahannya. Alasan untuk tetap berbahagia!!”



"Jangan lupa Halilintar check in di rumahsakit hari ini jam 17:00 yaa.. ", hanya pesan itu yang di baca Fernandes di Whatsapp Messenger dari Maria.  Ia melirik arloji di tangannya.  
Hmm... Sudah pukul dua lewat sepuluh menit. Di benahi nya berkas-berkasnya,  dan segera beranjak ke ruangan Mr. Lee. 

Baru saja dia akan mengetuk pintu, Bosnya yang sedang berbicara di telepon,  melirik dan memberi kode pada Fernandes dengan mengibas-ngibaskan tangan... menutup microfon telepon sebentar dan berujar pelan hampir mirip  bahasa bibir, ”Salam pada anakmu yaa!“.

"Glekk!!...kok dia tahu aku mau bilang apa ya?",Fernandes melongo di depan pintu Mr.  James Lee. 
"Ah sudahlah...  Aku bisa telepon nanti sambil jalan", fikir Fernandes sambil berlari kecil ke ruangannya.

Ting!!  Ting!!  Notifikasi Whatsapp nya berbunyi lagi. Sambil berlari kecil menuju lift ia membaca pesannya. Maria mengingatkan perjalanan dari kantornya menuju rumah untuk menjemput Halilintar akan memakan waktu sekitar dua jam,  sementara dari rumah ke rumahsakit akan menempuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit. 

Begitu keluar lift,  Fernandes berpapasan dengan Mr. Chan yang baru kembali dari makan siang. 

"Buru buru mau ke rumahsakit ya Pak Fernandes..? ", tanya Mr. Chan.

"Iya nih Pak... Saya duluan ya", ujar Fernandes cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat ia memarkir mobil. 

Begitu mobil keluar halaman parkir,  Fernandes meraih telepon selularnya dan menelepon ibunya. 

"Kamu sudah sampai di mana Nak? Halilintar sudah berpakaian dan siap siap dari tadi. Tapi Luiz,, Kok baru siap siap di rumah saja dia sudah muntah muntah ya? ", Ibunya langsung berbicara begitu pembicaraan tersambung. Pada waktu mengatakan kata "muntah" tadi ibunya setengah berbisik. 

Hhh... Fernandes lega. Halilintar siap untuk menjalani chemo teraphy yang ke 14.
"Kau memang pantas menyandang gelar Halilintar itu anakku", bisik Fernandes pada dirinya. 

Setelah di jemput ayahnya untuk berangkat bersama ke rumahsakit dimana Maria Pedrosa sudah menunggu,  Halilintarpun masuk ruang perawatan dimana proses chemo akan berjalan.

.......................................................................

Dan akhirnya proses chemo teraphy pun selesai pada pukul 24:00 tengah malam,  setelah berjalan selama tidak kurang dari empat jam. Tak terlukiskan betapa menderitanya Si Putera Halilintar menjalani proses ini. Berulang kali muntah sepanjang proses membuatnya sangat kehilangan tenaga. Luiz Fernandes maupun Maria Pedrosa tak terhindar dari rasa sedih menyaksikan perjuangan Hallintar.

Meski begitu,  tak sedikitpun terlihat ada rasa jera di wajah Halilintar. Ia malah meminta pada ayahnya agar di belikan cemilan atau makanan kecil yang memberi tenaga ekstra padanya dan paling tidak mengalihkan perhatiannya dari aroma menusuk obat chemo yang masuk lewat nadinya dan membuatnya tak bisa berhenti muntah-muntah. 

Menjelang pagi, saat anak nya dan Maria sudah terlelap,  tiba tiba notifikasi Whatsapp nya berbunyi. Fernandes terkejut.  Ia melihat arloji di tangannya,, sudah pukul 4:00 pagi hari. 

"Siapa yang kirim pesan se-pagi ini..?? ", Fernandes bingung dan segera meraih telepon selularnya.  Tak lupa ia mengambil juga kaca-mata plus miliknya yang tergeletak di samping kepala Halilintar dan berjalan keluar kamar menuju koridor rumahsakit untuk membaca pesan itu. 

"Apa???... Mau apa Dolores mengirim pesan sepagi ini???? ", Fernandes  kaget luar biasa membaca nama dari si pengirim pesan. 

"Sayang.. ! Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesali semuanya. Sebenarnya akupun hancur dengan keadaan rumahtangga kita Luiz! 
Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu..  Aku benar benar tak rela kalau kau benar benar akan menikahi Nona Maria Pedrosa! TUHAN pun tak akan mengijinkannya Luiz!! ", muka Fernandes langsung merah padam membaca pesan dari mantan isterinya itu. 

Bukannya perduli dan bertanya tentang keadaan Halilintar, perempuan yang kini sangat di benci Fernandes ini malah berusaha merayu lagi. 
Fernandes mengepalkan tangan pertanda ia sangat emosi. 

"Setelah enam tahun berlalu tanpa penyesalan dan kata maaf,  sekarang karena kehadiran Maria,  manusia ini mau merusak kehidupanku lagi", kini bukannya hanya mengepalkan tangannya Fernandes bahkan memukul dinding tempatnya bersandar. 
Tapi selanjutnya ia kaget sendiri. Suara dinding yang ia pukul,  membuat seorang pria yang tidur di ujung koridor tersentak bangun. 

Fernandes buru buru menepuk tangan lagi sambil memutar mutar mata dan kepalanya berpura pura terganggu oleh seekor nyamuk di sekitar kepalanya. 

"Waaah..  Walau ruangan ber-AC ternyata ada nyamuk juga ya Pak", Fernandes menyapa orang itu sekenanya sambil cengengesan karena merasa serba salah.  Muka orang itu terlihat cemberut marah karena terganggu. 
Fernandes kembali termenung. Perempuan ini benar benar berhasil membuatnya terpancing emosi kali ini. Meski telah mengubur dalam-dalam segala yang berkaitan dengan Dolores, pesan ini yang di kirim sepagi ini membuat kebenciannya terusik lagi. Perbuatan orang ini yang telah membuat ibunya akhirnya terkena serangan jantung, anak anaknya sempat drop mentalnya,dan juga yang menyebabkan  Fernandes harus berjuang sendiri menanggung akibat itu selama lebih dari enam tahun. Kini semua kepahitan itu berputar lagi bak film dokumenter di kepalanya.

"Bagimana mungkin orang ini mampu mengetik kata kata rayuan lagi setelah semua yang di perbuatnya??", Fernandes benar benar tak habis fikir.

"Kamu nggak tidur ya Luiz..?", Fernandes tersentak kaget, Maria tiba tiba sudah ada di belakangnya. Rupanya ia terbangun dan akhirnya menyusul keluar kamar melihat Fernandes tak ada lagi di sofa kamar perawatan.

"Sini...! Duduk sini Maria.. ", ajak Fernandes lembut sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.