Sabtu, 11 Mei 2019

Cinta Di Ujung Duka Chapter 16


PERTEMUAN bisa saja tiba-tiba datang tanpa awal, tetapi PERPISAHAN sepanjang zaman tak pernah tiba-tiba. Selalu ada awalnya dan berjalan sesuai arahan Sang Waktu. PERTEMUAN bisa saja terjadi tanpa rasa, tetapi PERPISAHAN selalu meninggalkan rasa. Ada bekas goresan kesedihan dan penderitaan.
_____________________________________________

Luiz Fernandes merenung sendiri lagi. Wajahnya tampak kusam penuh beban, menunduk dalam sambil terus mengepal-ngepalkan tangannya. Sebentar ia duduk, kemudian berdiri. Duduk lagi sebentar dan kemudian berdiri . Terus berulang-ulang menampakkan betapa gelisah ia saat ini.

“Hhhhhhhh,,,haruskah semuanya ini ku akhiri sekarang?”

“Tapi aku tak punya pilihan lagi!”

“Apakah aku sanggup kembali menjadi seorang ayah dan sekaligus ibu lagi untuk Halilintar dan Tobias?”

“Tapi kalau kemarin-kemarin bisa, kenapa sekarang aku harus takut?? Harusnya aku bisa!!!”

Dalam kebingungannya Luiz terus saja bertanya pada diri sendiri dan kemudian menjawab pertanyaan itu  sendiri. Ia terus berdialog dengan dirinya seperti orang yang kehilangan akal sehat.

Memang sekembalinya dari pertemuan dan reuni dengan mantan teman-teman mereka satu sekolah dulu di café Amores minggu lalu, hubungan Luiz Fernandes dan Maria Pedrosa semakin memanas saja.

Sikap serba salah karena kehadiran Loraine di café itu, yang secara tidak sengaja di tunjukkan oleh Luiz telah memicu kemarahan Maria. Meskipun sampai berakhirnya pertemuan itu, termasuk ketika Loraine akhirnya turut bergabung dengan mereka di meja 10, Luiz terus berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya, Maria sangat marah karena perhatian Luiz ternyata masih bisa teralihkan oleh wanita lain. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa Luiz Fernandes memang tak pernah mencintai dirinya. Apa yang telah berjalan selama ini, kemesraan yang tampak terjalin, hanya karena Luiz memang membutuhkan seorang pendamping menghadapi semua masalah yang sedang menghimpitnya, bukan karena ia mencintai Maria.

Puncaknya adalah ketika Halilintar kemarin membuat ulah lagi dengan sikap labilnya. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu di belakangnya ketika Maria telah menyediakan makan malam dan meminta agar Halilintar makan dulu tanpa menunggu papanya pulang dari kantor. Anak bungsu Luiz yang sedang sakit ini tak mau makan di temani Maria dan bersikeras ingin menunggu Luiz Fernades pulang dulu dari bekerja baru ia akan makan malam bersama papa nya.

“Anakmu itu sudah sangat terlalu Luiz!!! Kemarahan nya sudah seperti kemarahan seekor anjing, kamu tahu nggak??? Itu lah akibatnya kalau kamu selalu memanjakan anak saja!”, suara Maria begitu tinggi melabrak Luiz sambal mengadukan perbuatan Halilintar.

Luiz pun meradang mendengar bentakan Maria. Ia benar-benar tersinggung dengan ucapan Maria yang menyamakan anak nya dengan seekor binatang. Mukanya berubah merah seperti kepiting rebus dengan tangan terkepal kencang sekali. Terlihat sekali ia naik pitam dan murka.

“Siapa kamu Maria sehingga merasa berhak bersumpah serapah seperti itu terhadap anak ku?? Halilintar sedang sakit dan karena itu ia amat sangat gampang marah. Ibu kandungnya saja tak akan pernah berkata seperti itu pada dia!!!”, Luiz menjawab teriakan Maria tak kalah keras.

“Alexis yang mengatai aku sebagai se-onggok sampah saja, tak pernah aku bentak sekeras itu! Kamu tahu anakmu sudah sangat kurang ajar terhadap orang tua bukan hanya sekedar membanting pintu seperti Halilintar. Tapi aku tak pernah mengatakan anakmu itu seperti binatang. Kamu yang sudah sangat terlalu dengan perkatanmu. Kamu tahu itu???”, tak tahan lagi akhirnya Luiz membandingkan perbuatan Halilintar anaknya dengan apa yang di perbuat anak sulung Maria lewat ocehannya di media sosial.

“Ohh????Aku tahu sekarang..aku tahu!! Kamu sebenarnya tak pernah kehilangan cinta mu pada Dolores kan??? Kamu hanya terluka karena dia. Sekarang kamu mulai membanding-bandingkan aku dengan Dolores??”, Maria balas membentak semakin sengit. “Hubungan ini tak perlu di teruskan lagi!!!”, lanjut Maria sambal mengemasi barang-barangnya.

Sementara itu Luiz pergi ke belakang untuk mendinginkan hati, dan duduk sendiri di sana. Tiba-tiba pintu kamar anak nya terbuka dan Toby muncul. Ia menyusul ayahnya ke belakang dan kemudian duduk diam di kursi yang ada di samping Luiz Fernandes. Ia diam saja tak bersuara di sana sambil memandangi ayahnya.

“Ohhh,,,,,hhhhhhh”, Luiz menghela nafas panjang sambal menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

“ Sebenarnya , apa yang telah terjadi tadi anakku?”, akhirnya Luiz membuka suara dan bertanya pada Toby.

“Tante sekarang sering marah-marah kalau papa belum pulang dari kantor dan selalu bilang bahwa perbuatan baiknya pada kita tak di balas dengan baik oleh papa. Ia selalu mengatakan bahwa Halilintar adalah anak yang tak tahu berterimakasih ….Kami sebenarnya tak mengerti apa yang tante itu maksud, karena Halilintar hanya tak ingin makan duluan,,,hanya itu Pa”, pelan tapi sangat datar suara Toby menjelaskan. Ia pun telah mengganti sebutan “Mama” dengan kata “Tante”.

Luiz tak mungkin bisa menolak memercayai kata kata anak sulungnya ini. Toby adalah anak yang sangat perasa dan lembut hatinya. Perasaan nya sangat halus dan ia selalu menghormati siapapun terutama mereka yang lebih tua. Untuk Luiz,  penjelasan ini bukan lagi hanya sekedar informasi mengenai rentetan kejadian sebenarnya tetapi lebih dari itu telah menjelaskan bagaimana perasaan anak anak nya sekarang terhadap Maria.

...

Minggu, 05 Mei 2019

Cinta Di Ujung Duka Chapter 15

Masa lalu hanyalah sebuah kenangan untuk di jadikan pelajaran. Masa kini adalah sebuah berkat untuk masa depan. Terjebak di satu masa dan tak bergerak menuju masa setelahnya adalah sebuah langkah keliru yang dapat mengundang petaka.

_______________________________

Musik terdengar menghentak hingar-bingar. Beberapa pria terlihat bergoyang di tempat duduk masing-masing mengikuti irama lagu yang di-senandungkan dengan riang oleh tiga orang penyanyi di atas panggung. Tak terkecuali Maria Pedrosa, Luiz Fernandes dan 5 temannya.
"Ah..sepertinya kurang seru kalau aku tidak menyanyi malam ini!!”, ujar Fredo setengah berteriak. Di-tengah kegembiraan yang terbangun karena pembicaraan
seputar kampung halaman mereka, tiba tiba Fredo mengajukan sebuah ide. Saat itu Luiz Fernandes dan teman temannya memang sedang memberikan sambutan pada Fredo teman masa kecil mereka yang sedang berkunjung ke kota ini . Maria Pedrosa juga ada di sana karena mereka semua memang teman satu sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama di kota tempat Luiz Fernandes sempat tinggal, di besarkan dan melewatkan masa remajanya dulu.

Ide itu langsung di sambut dengan gembira oleh teman-temannya, termasuk Luiz. Ya, Fredo kebetulan memang bersuara bagus. Di luar pekerjaan sehari-hari, ia adalah seorang Song Leader di gereja.
Piter, salah satu teman Luiz yang sering bertindak layaknya cukong dalam acara acara seperti ini langsung berdiri memanggil waitress. Ia berbisik sebentar pada waitress sambil menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan, yang di balas anggukan kepala beberapa kali oleh sang waitress. Kemudian, meninggalkan meja no. 10 tempat mereka duduk dan berjalan ke-arah panggung dengan maksud menyampaikan pesan dari Piter pada sang MC disana. Saat mata Luiz mengikuti langkah sang waitres, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sosok seorang wanita yang duduk berdua dengan anak perempuannya. Sepertinya anak itu berusia sekitar 9 tahun. Dan mereka duduk di barisan depan dekat panggung.
Ya TUHAN….benarkah itu dia? Benarkah itu Loraine??”, bisik Luiz dalam hati. Sekelebat wanita itu memalingkan wajah melihat ke arah waitress yang melewatinya. Posisi ini membuat Luiz dapat dengan jelas mengenali wanita ini.

“Aduh! Itu benar-benar dia….!”, tiba-tiba dahi Luiz berkeringat dan mukanya pucat seketika.
Dia adalah Loraine! Adik kelas Luiz Fernandes sewaktu masih duduk di bangku sekolah yang sama dengan teman-temannya ini . Artinya, ke-lima temannya juga mengenal Loraine dengan baik. Tentu saja termasuk nona Maria Pedrosa . Ia juga dulu bersekolah di tempat yang sama. Luiz tiba-tiba gelisah dan serba salah. Melihat ke-arah panggung berarti harus juga melihat nona Loraine. Duduk membelakangi panggung berarti duduk menghadap dinding. Hallah!!...Ini posisi duduk yang akan aneh dilihat teman-temannya. Luiz benar-benar bingung dan galau. Hal ini akhirnya dapat tertangkap oleh mata Maria.

“Kamu kenapa sayang?”, bisik Maria sambil pindah posisi duduk di samping Luiz.

“Nggak…Nggak kenapa kenapa kok..”, jawab Luiz dengan nada yang terdengar sangat gugup. Maria curiga. Luiz sehat sehat saja selama dalam perjalanan ke café ini tadi. Ia pun begitu energik bercerita dengan teman-temannya di awal-awal kedatangan . Kenapa tiba-tiba ia tampak gelisah? Diam-diam mata Maria berkeliling ke seluruh ruangan café. Mata Maria dengan cepat akhirnya juga menangkap sosok Loraine.

“Hmm,,ada dia ternyata! Pantas Luiz tiba-tiba seperti ini..”, bisik Maria dalam hati sambil menatap sedih pada Luiz.

Namun Maria akhirnya memilih diam dan mengalihkan pandangannya pada Fredo sambil melontarkan pertanyaan ringan seolah ia tak menyadari keadaan Luiz saat ini.
Malam ini sebenarnya bukanlah pertemuan Luiz dan Loraine yang pertama. Mereka pernah bertemu beberapa bulan sebelumnya, di tempat ini juga. Namun saat itu, Nona Loraine sama sekali tidak mengenali Luiz. Itu terjadi beberapa tahun sejak ia berpisah dengan Dolores tetapi juga jauh sebelum kedatangan pertama Maria Pedrosa dan teman temannya menjenguk Halilintar di rumah sakit. Luiz dan Loraine pun sebenarnya sudah beberapa kali berkomunikasi dan saling menyapa melalui Whatsapp Mesenger setelah saling bertukar nomor handphone dalam pembicaraan di facebook beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Luiz menginvite pertemanan dengan Loraine, dan sebelum melakukan tindakan konfirmasi permintaan pertemanan itu, Loraine kemudian menyapa dulu dan bertanya apakah ia mengenal Luiz Fernandes. Dalam pembicaraan pertama itulah, setelah masing-masing memperkenalkan diri Luiz sempat begitu terkesan dengan kejujuran mantan adik kelas nya ini. Loraine mengatakan bahwa selama duduk di bangku SMP dulu, ia sudah sangat menyukai Luiz. Loraine bahkan mampu menyebutkan semua kebiasaan dan ciri-ciri yang dimilki Luiz Fernandes pada masa remaja. Termasuk dalam cara berpakaiaan. Fantastis menurut Luiz.

“Gila!!! Itu adalah cerita tiga puluh tahun yang lalu!! Bagaimana ia bisa mengingat sampai se-detail itu??”, teriak Luiz dalam hati saat itu.Ia seperti terkena panah tepat di jantungnya, karena pengakuan itu. Kesan itu bahkan sempat ia ceritakan pada Maria di awal awal hubungan mereka. Luiz bercerita dengan jujur bahwa ia sempat sangat tertarik pada Loraine sebelum akhirnya mengubur dalam dalam perasaannya karena menyadari situasi dan kondisi nya tak lagi mengijinkan hal itu. Ya, Luiz menyadari bahwa itu tak pantas lagi. Tapi Luiz bercerita pada Maria karena ia juga tak pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi dengan nona Loraine seperti ini. Ia pernah mendengar bahwa nona Loraine telah hijrah ke kota lain bersama suaminya.
Sebenarnya, perasaan terkesan yang ia alami lebih karena pernah memiliki masa lalu yang sangat pahit.
Ya, dulu Luiz adalah anak remaja dengan segudang pengalaman pahit.
Perjalanan hidupnya sering mengajarkan Luiz, bahwa ia tak perlu berharap pada siapapun, bahkan tak perlu berteman dengan siapapun, karena hidupnya berjalan sangat tidak wajar dan cenderung tragis. Takkan ada yang tertarik mendengar cerita nya,… apalagi sampai tertarik pada dirinya. Meskipun, dalam perjalanannya sebagai seorang remaja, Luiz beberapa kali pernah menjalin hubungan. Namun tak ada yang pernah langgeng. Luiz Fernandes sadar, hal ini hanyalah karena ia termasuk anak pintar di sekolah manapun ia pernah belajar. Ya, Luiz bahkan pernah sempat menjadi juara olimpiade matematika tingkat provinsi saat baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini setelah pindah dari kota dimana ia dan Loraine sempat berada di satu sekolah yang sama. Karena itu, menurut Luiz, banyak remaja putri hanya ingin memanfaatkan kepintarannya saja untuk bisa bersekolah dan belajar dengan lebih santai.  Perjalanan cinta yang Luiz alami di usia dewasa kemudian pun berjalan jauh lebih menyedihkan dan lebih tragis.

Puncak dari semua perjalanan mengerikan itu adalah status duda beranak dua yang kini Luiz sandang. Perjalanan yang semakin meyakinkan Luiz bahwa ia tak cukup menarik untuk di ingat, di sayangi apalagi di cintai.

“Sekarang, mari kita sambut penyanyi berikutnya… Ms. Loraineeee!!!”, tiba-tiba dengan lantang MC di atas panggung memanggil nama Loraine untuk menyanyi.

“Wow!!!…Ada dia juga ternyata…!”, teriak Piter terlihat exited sambil melihat Loraine berjalan ke atas panggung.
Sementara Luiz merasa serba salah dan salah tingkah...Maria justru sedang meradang dalam hatinya.
"Kemarin anak nya..!!! Kalau sekarang ada wanita lain yang membuat perhatian Luiz teralihkan seperti ini, maka ia bukanlah pria yang baik lagi!", bathin Maria berteriak.

Kamis, 02 Mei 2019

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 14

Dunia ini tak lebih dari panggung sandiwara. Cerita nya seringkali bisa membawa suka tapi tak jarang pula membawa duka. Satu-satunya cara untuk bahagia hanyalah dengan terus menjalaninya.

..................................................................

"Praaaaaanggg.....!!!!", Luiz Fernandes kaget mendengar suara pintu di banting dengan keras sekali. "Hmmm...sepertinya anak bungsuku kembali merajuk..", Luiz berbicara sendiri sambil memarkirkan mobilnya perlahan di garasi.
Baru saja ia akan melangkah di ambang pintu rumahnya, ia berpapasan dengan Maria Pedrosa yang berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah dengan muka yang terlihat kesal sekali.
"Luiz..!!! Sebaiknya kamu ajari anakmu berlaku sopan terhadap orang yang lebih tua. Kalau begini terus...aku menyerah saja! Anakku saja tak bisa ku urus, kenapa pula aku harus di perlakukan kasar oleh orang yang bukan anak ku??", semprotan kata kata Maria terasa menghujam jantung. Luiz terperangah.
Ya, sudah 6 bulan berlalu sejak mereka kembali dari Valencia, Halilintar memang selalu uring-uringan. Terutama sejak Luiz Fernandez memutuskan anaknya ini boleh kembali belajar di sekolah biasa. Kondisi kesehatan yang mulai membaik juga membuat Luiz yakin menghentikan teraphy chemo yang sudah di jalani sekian lama dan menggantinya dengan teraphy herbal yang di anjurkan oleh salah satu temannya. Teraphy dimana Halilintar kemudian harus merubah pola makannya. Mengingat betapa tersiksa nya proses chemo selama ini, anaknya inipun tak sulit di bujuk untuk bersedia mengikuti pola makan sayur sayuran dan buah buahan tanpa daging dan nasi putih sama sekali. Tapi sayangnya, Halilintar pun kemudian berubah menjadi labil setelah menjadi vegetarian dan setelah dimasukkan kembali untuk bersekolah. Semua jadi serba salah di matanya.  Toby pun seringkali mengeluh karena adiknya bisa tiba-tiba membentaknya dan kemudian menangis sendiri. Tapi berbeda dengan reaksi Maria, anak sulung Luiz Fernandes ini biasanya hanya diam di samping adiknya dan menunggu sampai akhirnya adiknya kemudian menangis. Kalau sudah seperti ini, dalam diam ia akan merengkuh Halilintar ke dalam pelukannya. Mengelus kepala adiknya sambil tetap diam. Ia sangat memahami kesedihan yang di alami adiknya yang sedang sakit ini.

"Maaf Pak Fernandez! Saya memang memilih tidak memberitahu teman temannya soal penyakit yang di derita Halilintar. Karena saya kuatir, teman temannya jadi membully dia dan itu bisa membuat dia kecil hati. Tapi saya tak menyangka, teman temannya jadi berharap dia ikut bermain bersama mereka karena tidak mengetahui bahwa ia sedang sakit. Dan karena ia menolak, sekarang apa yang saya kuatirkan justru terjadi...", guru kelas Halilintar akhirnya menerangkan kondisi anak terkasihnya ini dan membuat semuanya jadi jelas terang benderang. Ia memang sengaja datang menemui Nona Sylvia Theresia, guru kelas anak nya ini karena keadaan di rumahnya kini semakin tak terkendali akibat perubahan sikap Halilintar.

Malam ini Luiz duduk merenung di taman belakang rumahnya. Ia bingung harus bagaimana. Setiap hari, kini Halilintar menangis dan berteriak ingin bertemu ibunya. Kelihatan sekali kalau ia kecewa pada Nona Maria Pedrosa.
Ya, bukan hanya putera bungsunya yang berubah akhir-akhir ini. Maria juga kini terlihat tidak lagi sesabar dulu menghadapi labilnya emosi Halilintar. Bahkan Maria seringkali membanding-bandingkan puteranya sendiri dengan Toby dan Halilintar dalam kemarahannya yang meledak-ledak. Sesuatu yang kini ikut membuat Luiz kecewa pada Maria. Dalam suatu perbincangan sengit, Luiz pernah berkata, "Maria!!! Aku tak pernah memulai semua ini. Kamu kan yang datang dan menawarkan diri untuk ikut mengurus anak ku? Kenapa sekarang kamu jadi seperti menyesali semuanya?"
Luiz kembali menunduk sambil mengepalkan tangan pertanda ia dalam keadaan kalut dan sangat tertekan. Keadaan ini tak bisa ia biarkan terus berjalan. Ia harus mengakhiri semua meski ia harus mengakui itu pasti tak mudah. Tapi sejak awal ia sudah bertekad bahwa kedua permata hatinya itulah,,Tobias dan Halilintarlah yang akan jadi prioritas utama hidupnya.
Sebenarnya, Luiz bukan tidak memahami apa yang terjadi pada Maria Pedrosa. Perempuan yang awalnya terlihat sangat lembut itu juga saat ini sedang merasa sangat kehilangan ketika kedua anaknya, Alexis dan Perina memilih ikut dengan ayah mereka, mantan suami Maria dan menolak bertemu dengannya. Itu membuat Maria sangat terguncang akibat rindu yang tak tertahan pada kedua buah hatinya itu. Tak sampai di situ, Alexis kemudian seringkali menyerang Maria di sosial-media sebagai ibu yang telah membuangnya untuk seonggok sampah.

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 13

“Sang Prahara bisa datang kapan saja dan dari celah mana saja yang mungkin. Jangan serta merta mengusirnya hanya karena engkau tak menginginkannya. Mungkin saja ia datang untuk membuat mu lebih kuat dari sebelumnya!”
...........................................................................

“Ayo anak-anak, coba di periksa lagi apa yang masih terlewat? Apa sudah semua keperluan kalian di bawa?”, teriak kecil Fernandes pada Toby dan Halilintar dari pekarangan depan rumahnya.

Terlihat Maria sibuk meringkas semua tas yang akan mereka bawa dalam perjalanan ke Valencia. Sesekali ia memeriksa catatan yang telah ia buat sebelumnya. Pakaian, makanan kecil untuk di perjalanan, kotak obat Halilintar dan perangkat-perangkat game serta telepon genggam masing-masing ia periksa lagi satu persatu. Hmm…sudah semua  lengkap!

Ayah Fernandes Tuan Miguel Hector Fernandes sudah tiga kali bertelepon sejak fajar mulai menyingsing menanyakan apakah mereka sudah bersiap akan berangkat, seolah tidak sabar menantikan kedatangan Fernandes dan kedua cucunya ini.
Di tempat lain, di belakang rumah, Toby dan Halilintar sedang sibuk membujuk nenek mereka agar mau ikut dalam perjalanan liburan akhir tahun ini.

“Tidak bisa sayang…Nenek juga ada pertemuan dan acara akhir tahun bersama dengan sepupu-sepupu papa mu dari keluarga Nenek..”, demikian Nyonya Fernandes mencoba menerangkan pada kedua cucunya dengan sabar.

“ Kan ada papa kalian? Juga Nona Maria yang selama ini sudah menjaga kalian berdua seperti anak kandungnya sendiri? Kalian pasti akan menikmati liburan kali ini meski Nenek tidak turut serta…Percayalah! “.

Dengan wajah kecewa, kedua anak ini kemudian menghambur ke papa mereka di depan rumah. Toby kemudian berbicara dengan Fernandes sementara Halilintar berlari ke pelukan Maria, keduanya seolah ingin mengungkapkan dan melepaskan kekecewaan pada Fernandes dan Maria.

Setelah merasa yakin tak ada lagi yang terlupa, akhirnya merekapun berangkat. Sebelumnya mereka harus mengantar Nyonya Fernandes dulu ke rumah sepupu Luis Fernandes di bilangan kota Sierra karena di sanalah ibu Fernandes ini nanti akan menghabiskan akhir tahun. Sepanjang perjalanan, terdengar kedua buah hati nya bernyanyi dengan sangat gembira. Nona Alaura yang kali ini turut pula di bawa serta juga sangat gembira dan menikmati perjalanan sambil terus bercanda dengan Toby dan Halilintar.

“ Kami akan langsung jemput Ibu begitu kembali..! Kalau saja Ibu bisa ikut Bu…”, demikian ujar Fernandes pada ibu nya sesampai di Sierra sambil memeluk dan mencium tangan Nyonya Fernandes.
Toby dan Halilintar pun memasang wajah cemberut sambil memeluk dan mencium Nenek mereka. Berharap di detik detik terakhir Nyonya Fernandes akan berubah fikiran.

“ Hahaha, kalian jelek sekali mukanya…? Sudah…Sudah…nikmati saja perjalanan liburan kalian yaa..!”, ucap Nyonya Fernandes pada Toby dan Halilintar sambil mencium mereka berdua satu persatu.

Setelah itu, ia pun memeluk Maria Pedrosa, mencium pipinya serta berbisik ke telinga Maria, “Titip anak dan cucuku ya sayang”.
.......................................................................

Perjalanan panjang selama hampir tiga jam karena lalu lintas yang sangat padat ke Valencia mereka tempuh dengan sangat ceria. Berkali-kali mereka bernyanyi bersama sambil tertawa. Sampai akhirnya mendekati perbatasan kota Valencia, Toby dan Halilintar telah terlelap.
Selanjutnya, Maria terus menemani Fernandes bercerita banyak hal agar Fernandes tidak terlalu merasa lelah mengendarai mobil setelah Toby dan Halilintar tidak bersuara lagi.

“Bagaimana rencanamu nanti Luis? Apa kita langsung ke pantai Saplaya atau menginap dulu di rumah ayah?”, tanya Maria.

“Itu melihat keadaan saja Maria…Aku ingin berbicara banyak hal juga dengan Ayah soal kita..Mungkin membutuhkan banyak waktu. Andai Ibu ikut, tadinya kita akan langsung saja chek-in ke hotel Faradila yang sudah aku booking kemarin. Tapi karena Ibu tidak ikut, mungkin sebaiknya kita di rumah Ayah dulu barang satu atau dua hari, tergantung keadaan”, jawab Fernandes sambil tersenyum dan mencubit hidung Maria mesra.

Dalam hati, Fernandes begitu bersyukur dengan kehadiran Maria di sisinya. Membesarkan dua anak, di mana salah satunya sedang sakit parah telah benar-benar menguras energi nya. Terutama bila mengingat kondisi Halilintar. Fernandes masih ingat betul ucapan dokter soal bagaimana membantu penyembuhan buah hati yang sangat ia sayangi ini.

” Obat-obatan medis sebenarnya hanya alat untuk membantu dalam kasus kanker darah seperti yang di derita Halilintar Pak.. Semangat hidup, ketenangan bathin, kegembiraan, dan keinginan sembuh lah yang jauh lebih berperan dalam proses penyembuhan itu sendiri”, demikian sebagian kalimat yang di ucapkan dokter Gerald dalam salah satu kesempatan pasca chemo teraphy yang di lakukan beberapa waktu lalu.

Nah untuk kepentingan ini, membangkitkan semangat hidup dan membuat kondisi bathin Halilintar tetap ceria dan gembira, Luis Fernandes merasa sangat berterima kasih pada Maria yang selalu mengambil peranan sebagai ibu kandung yang sangat menyayangi Halilintar.

“Sepertinya di depan nanti ada rest area Luis,,bisakah kita beristirahat sejenak agar anak-anak bisa melemaskan otot-otot mereka karena tidur dengan posisi duduk seperti itu pasti melelahkan buat mereka?”, tanya Maria tiba tiba  menyentakkan Fernandes dari lamunan nya.

“Siap Bu komandan..!”, canda Luis sambil mengedipkan matanya pada Maria.

...........................................................................

Begitu pintu gerbang terbuka, Tuan Miguel Hector terlihat sudah berdiri di depan rumah dengan tongkatnya. Toby langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri, memeluk serta mencium dengan erat kakeknya yang memang sudah harus menggunakan tongkat untuk berjalan karena penyakit kelumpuhan yang di deritanya.

” Waduh..! Sudah tinggi sekali cucuku yang satu ini…lho? Kok ada jenggotnya Bang??”, sambil terkekeh Tuan Miguel menggoda.
Toby pun menyeringai dan akhirnya tertawa mendengar candaan kakeknya ini. Halilintar kemudian turun dari mobil bersama Maria. Dengan terus memegang erat lengan Maria, ia menghampiri kakeknya. Mata Tuan Miguel Hector Fernandes langsung berkaca-kaca membuka tangannya lebar ingin memeluk Halilintar. Terlihat sekali cucunya tak lagi punya percaya diri mendekati nya dan secara perlahan menghampiri sebelum akhirnya memeluk Tuan Miguel. Setelah itu Maria pun menunduk hormat dan mencium tangan calon mertuanya ini dengan takzim.

“Aku sudah mendengar semua perbuatan baikmu pada anak dan cucu-cucukuku…semoga TUHAN selalu menyertaimu anakku..”, dengan menangis Miguel berbicara sambil memegang kepala Maria Pedrosa.

Tanpa menghiraukan Luis Fernandes yang masih sibuk menurunkan barang-barang bawaan mereka, Tuan Miguel pun langsung menarik Toby dan Halilintar masuk ke dalam rumah.

“ Hei…kamar untuk kalian sudah di siapkan di belakang! Bawa saja semua nanti langsung ke sana ya…!,” teriak Tuan Miguel pada Luis seolah berbicara dengan seorang supir.

“ Siap Pak Bos!!!”, balas Fernandes kemudian pada ayahnya.

Mendengar pembicaraan ini, bola mata Maria berputar-putar sambil tersenyum karena heran dengan cara Tuan Miguel dan Luis berkomunikasi. Ia memang sudah mendengar bahwa Luis dan ayahnya selalu berbicara dan bercanda seperti layaknya teman sebaya. Tapi sungguh ia tak menyangka keakraban nya sampai seperti yang ia dengar barusan…Dan ia pun tertawa karena Luis kemudian memeletkan lidahnya ke arah rumah di mana tadi Tuan Miguel, Toby dan Halilintar baru saja masuk.

“Hmmm..Sepertinya aku akan merasa sangat nyaman dengan keadaan-keadaan ini…”, Maria berbisik dalam hatinya.

Jumat, 03 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 12



Penyembuhan adalah tentang menerima rasa sakit dan menemukan cara untuk berdamai dengan perasaan itu. Dalam lautan kehidupan, rasa sakit adalah gelombang pasang dan surut yang akan secara terus menerus merajutmu menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”



Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah kali ini terasa jadi sangat jauh untuk Luiz Fernandes dan Halilintar. Sepanjang jalan Halilintar muntah terus karena efek chemo yang di jalani semalam masih tetap terasa. Anak bungsu Fernandes ini sudah sangat terkuras energinya, namun masih bisa bertanya, “Pa, Nenek di rumah ya?”.

“Iya Nak, memangnya kenapa?”, tanya Fernandes bingung.

“Kalau begitu jangan langsung pulang Pa! Bisa mampir nggak ke supermarket sebentar? Tolong papa beliin makanan ringan lagi dong Pa… Kasihan Nenek nanti kalau melihat aku begini nanti”, jawab Halilintar. Ternyata ia sedang mencemaskan reaksi neneknya di rumah melihat kondisinya yang lemas karena kebanyakan muntah.

“Ok deh Bos!”, sambung Fernandes lagi sambil tersenyum penuh arti pada Toby anak sulungnya.
Toby pun hanya tersenyum pahit sambil mengurut urut leher adiknya di kursi belakang mobil.

Sesampai di rumah, di depan gerbang sudah berdiri menunggu Ny. Hector Fernandes, Nenek Halilintar dengan muka gelisah dan sangat murung. Mobil belum terparkir sempurna, Ny. Hector sudah bergegas membuka pintu belakang, dan langsung memeluk Halilintar erat sekali.

“Cucuku!... kuat sekali kamu sayang?”, ujarnya sambil menangis. “Kalau papa mu dulu, baru sakit perut saja sudah menangis terus dia itu”, tambah ibu Fernandes lagi sambil menuntun Halilintar berjalan masuk ke dalam rumah.

Dengan wajah di buat lucu sekali, dan sedikit menggoyang-goyang kepalanya, Halilintar berkata pada Neneknya, “Nenek lebay ah…Ini kan sudah 14 kali, gampil ini maaaah!”.

Fernandes buru buru mengalihkan pandangannya ke-arah lain, ada air mata yang tanpa permisi mengalir di pipinya. Ia menyusutnya perlahan dengan gerakan yang tak terlihat, dan kembali menatap puteranya dengan senyum. Begitu tabah Si Bungsu ini. 
Ia tak ingin orang lain bersedih karena keadaannya, sampai ia memaksakan diri bercanda, padahal Fernandes tahu sekali, anaknya masih sangat mual dan pasti juga pusing karena perasaan mual yang sangat mengganggu itu.

Halilintar menoleh pada Fernandes lagi, “Pa!...Kan sudah di rumah. Maskernya sudah boleh di lepas ya?”.

Dokter memang menyarankan agar Halilintar tetap mempergunakan masker pada waktu berada di tempat umum, karena pertahanan tubuhnya pada saat menjalani chemoteraphy sedang tidak ada sama sekali.

Fernandes mengangguk sambil membimbing tangan anak bungsu yang sangat ia kasihi ini masuk ke kamar tidur dan meminta Toby untuk ikut menemani Halilintar. 

Setelah itu Fernandes , pamit pada kedua anaknya akan keluar rumah sebentar untuk sebuah urusan penting.

**********************************


Sudah pukul 19:00 sore ini, dan Maria Pedrosa belum muncul juga. Ia tidak ikut pulang tadi karena harus melanjutkan pekerjaannya di rumahsakit. Saat ini, Luiz Fernandes duduk di depan rumah dan sebentar sebentar melihat ke ujung jalan berharap sepeda motor yang biasa di kendarai Maria segera terlihat.
Ya, Fernandes terlihat gelisah sekali. Ada sesuatu yang akan di kabarkannya pada Maria.

Upaya yang dilakukan Fernandes ke pihak gereja demi sebuah restu atau ijin untuk menikah lagi dengan Maria, upaya yang ke-tujuh kalinya gagal lagi hari ini.

“Kami tidak mungkin menerima perceraianmu Luiz,,karena meski sah secara hukum negara, perceraian itu kami pandang tidak sah secara hukum gereja! Kamu sendiri kan tahu hukum “”Apa yang di persatukan ALLAH tidak akan dapat di pisahkan oleh manusia kecuali karena kematian dan…zinah!”, demikian penjelasan Pdt. Hores Hesekiel Fernandes tadi sore.

“Tapi perceraian saya memang karena alasan perzinahan yang di lakukan Dolores Bapa!”, jawab Fernandes dengan suara sangat putus asa. Suaranya hampir terdengar seperti tangisan pelan bagi Pdt. Hesekiel.

“Mana??? Coba di mana itu tertulis pada Amar Putusan Pengadilan perceraianmu Luiz?? Coba tunjukkan!”, kali ini Pdt. Hesekiel suaranya meninggi dalam berbicara.

Secara jujur di dalam hati kecilnya, sebenarnya Pendeta ini sudah lama kenal Fernandes. Bahkan sejak ia masih bersekolah pada tingkat lanjutan. Ia tahu betul Fernandes tidak berdusta. 
Ia masih ingat semua. Pendeta ini masih ingat masa remaja Luiz Fernandes. 

Ketika  Miguel Hector Fernandes, ayah dari Luiz Fernandes yang adalah seorang pemeluk agama muslim memaksa Luiz untuk berpindah agama, Luiz Fernandes memilih untuk keluar dari rumah dan menggelandang  di terminal bis di kota Almeria, mengais rejeki dengan menjadi pengemudi angkutan kota disana sambil terus bersekolah di pagi hari, karena ia sangat mencintai agamanya…Kristen.

Ya, Luiz Fernandes sangat mencintai TUHAN. Dan itu bisa ia lihat sampai sekarang. Bertindak seperti pengemis, Luiz Fernandes lebih memilih terus berupaya mendapatkan pengakuan atas perceraiannya dari pihak gereja, terus berupaya menemui setiap gereja dan pendeta yang ia kenal, dari pada melakukan hal mudah, berpindah agama menjadi seorang muslim, dan bisa segera menikah dengan nona Maria. Hal itu pasti di sukai oleh kakak sepupu jauh-nya, Miguel. 

Kesulitan yang di alami Luiz saat ini mendapat pengakuan karena alasan perceraiannya ketidak-harmonisan keluarga. Itu yang tertulis pada Amar Putusan Pengadilan. Dan Sang Pendeta juga tahu alasan Luiz tidak menuliskan perzinahan Dolores sebagai alasan adalah karena pertimbangan kemanusiaan.(Baca; CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 2 )

Tapi, ia tak berdaya menolong Fernandes. Ia tahu restu dan pengakuan dari pihaknya akan memancing reaksi keras dari umat, terutama karena ia tahu betul berdasarkan penuturan Fernandes, keluarga Maria tidak menyetujui rencana pernikahan Maria dengan keponakannya ini.

Fernandes pun pamit pada Pendeta Hesekiel. Dengan wajah sangat sedih, ia hanya minta agar di doakan. Dan, di luar dugaan, Sang Pendeta menyodorkan secarik kerats yang ia sudah tulis sebelumnya.Fernandes menerima kertas itu, mencium tangan Sang Pendeta dan segera keluar dari gereja itu.

Sesampai di dalam mobil, Fernandes tak segera bergerak. Ia mengeluarkan kertas pemberian Pdt. Hesekiel dan membacanya terlebih dahulu. Hmm, hanya sebaris kalimat dari ayat Alkitab!

“Ketuklah pintu, maka kepadamu akan di bukakan…Mintalah, maka kepadamu akan di berikan!”


Tiba tiba Fernandes melihat secercah sinar yang mengganggu penglihatannya. Sinar dari lampu sepeda motor yang di kendarai Maria.

“Selamat malam Luizzz!..”, sapa Maria dari atas sepeda motornya.




Bersambung..

Rabu, 01 Februari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 11

 
 







”Meski kau punya seribu alasan untuk marah, kau masih punya satu alasan lain untuk menahannya. Alasan untuk tetap berbahagia!!”



"Jangan lupa Halilintar check in di rumahsakit hari ini jam 17:00 yaa.. ", hanya pesan itu yang di baca Fernandes di Whatsapp Messenger dari Maria.  Ia melirik arloji di tangannya.  
Hmm... Sudah pukul dua lewat sepuluh menit. Di benahi nya berkas-berkasnya,  dan segera beranjak ke ruangan Mr. Lee. 

Baru saja dia akan mengetuk pintu, Bosnya yang sedang berbicara di telepon,  melirik dan memberi kode pada Fernandes dengan mengibas-ngibaskan tangan... menutup microfon telepon sebentar dan berujar pelan hampir mirip  bahasa bibir, ”Salam pada anakmu yaa!“.

"Glekk!!...kok dia tahu aku mau bilang apa ya?",Fernandes melongo di depan pintu Mr.  James Lee. 
"Ah sudahlah...  Aku bisa telepon nanti sambil jalan", fikir Fernandes sambil berlari kecil ke ruangannya.

Ting!!  Ting!!  Notifikasi Whatsapp nya berbunyi lagi. Sambil berlari kecil menuju lift ia membaca pesannya. Maria mengingatkan perjalanan dari kantornya menuju rumah untuk menjemput Halilintar akan memakan waktu sekitar dua jam,  sementara dari rumah ke rumahsakit akan menempuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit. 

Begitu keluar lift,  Fernandes berpapasan dengan Mr. Chan yang baru kembali dari makan siang. 

"Buru buru mau ke rumahsakit ya Pak Fernandes..? ", tanya Mr. Chan.

"Iya nih Pak... Saya duluan ya", ujar Fernandes cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat ia memarkir mobil. 

Begitu mobil keluar halaman parkir,  Fernandes meraih telepon selularnya dan menelepon ibunya. 

"Kamu sudah sampai di mana Nak? Halilintar sudah berpakaian dan siap siap dari tadi. Tapi Luiz,, Kok baru siap siap di rumah saja dia sudah muntah muntah ya? ", Ibunya langsung berbicara begitu pembicaraan tersambung. Pada waktu mengatakan kata "muntah" tadi ibunya setengah berbisik. 

Hhh... Fernandes lega. Halilintar siap untuk menjalani chemo teraphy yang ke 14.
"Kau memang pantas menyandang gelar Halilintar itu anakku", bisik Fernandes pada dirinya. 

Setelah di jemput ayahnya untuk berangkat bersama ke rumahsakit dimana Maria Pedrosa sudah menunggu,  Halilintarpun masuk ruang perawatan dimana proses chemo akan berjalan.

.......................................................................

Dan akhirnya proses chemo teraphy pun selesai pada pukul 24:00 tengah malam,  setelah berjalan selama tidak kurang dari empat jam. Tak terlukiskan betapa menderitanya Si Putera Halilintar menjalani proses ini. Berulang kali muntah sepanjang proses membuatnya sangat kehilangan tenaga. Luiz Fernandes maupun Maria Pedrosa tak terhindar dari rasa sedih menyaksikan perjuangan Hallintar.

Meski begitu,  tak sedikitpun terlihat ada rasa jera di wajah Halilintar. Ia malah meminta pada ayahnya agar di belikan cemilan atau makanan kecil yang memberi tenaga ekstra padanya dan paling tidak mengalihkan perhatiannya dari aroma menusuk obat chemo yang masuk lewat nadinya dan membuatnya tak bisa berhenti muntah-muntah. 

Menjelang pagi, saat anak nya dan Maria sudah terlelap,  tiba tiba notifikasi Whatsapp nya berbunyi. Fernandes terkejut.  Ia melihat arloji di tangannya,, sudah pukul 4:00 pagi hari. 

"Siapa yang kirim pesan se-pagi ini..?? ", Fernandes bingung dan segera meraih telepon selularnya.  Tak lupa ia mengambil juga kaca-mata plus miliknya yang tergeletak di samping kepala Halilintar dan berjalan keluar kamar menuju koridor rumahsakit untuk membaca pesan itu. 

"Apa???... Mau apa Dolores mengirim pesan sepagi ini???? ", Fernandes  kaget luar biasa membaca nama dari si pengirim pesan. 

"Sayang.. ! Aku cuma mau minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesali semuanya. Sebenarnya akupun hancur dengan keadaan rumahtangga kita Luiz! 
Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu..  Aku benar benar tak rela kalau kau benar benar akan menikahi Nona Maria Pedrosa! TUHAN pun tak akan mengijinkannya Luiz!! ", muka Fernandes langsung merah padam membaca pesan dari mantan isterinya itu. 

Bukannya perduli dan bertanya tentang keadaan Halilintar, perempuan yang kini sangat di benci Fernandes ini malah berusaha merayu lagi. 
Fernandes mengepalkan tangan pertanda ia sangat emosi. 

"Setelah enam tahun berlalu tanpa penyesalan dan kata maaf,  sekarang karena kehadiran Maria,  manusia ini mau merusak kehidupanku lagi", kini bukannya hanya mengepalkan tangannya Fernandes bahkan memukul dinding tempatnya bersandar. 
Tapi selanjutnya ia kaget sendiri. Suara dinding yang ia pukul,  membuat seorang pria yang tidur di ujung koridor tersentak bangun. 

Fernandes buru buru menepuk tangan lagi sambil memutar mutar mata dan kepalanya berpura pura terganggu oleh seekor nyamuk di sekitar kepalanya. 

"Waaah..  Walau ruangan ber-AC ternyata ada nyamuk juga ya Pak", Fernandes menyapa orang itu sekenanya sambil cengengesan karena merasa serba salah.  Muka orang itu terlihat cemberut marah karena terganggu. 
Fernandes kembali termenung. Perempuan ini benar benar berhasil membuatnya terpancing emosi kali ini. Meski telah mengubur dalam-dalam segala yang berkaitan dengan Dolores, pesan ini yang di kirim sepagi ini membuat kebenciannya terusik lagi. Perbuatan orang ini yang telah membuat ibunya akhirnya terkena serangan jantung, anak anaknya sempat drop mentalnya,dan juga yang menyebabkan  Fernandes harus berjuang sendiri menanggung akibat itu selama lebih dari enam tahun. Kini semua kepahitan itu berputar lagi bak film dokumenter di kepalanya.

"Bagimana mungkin orang ini mampu mengetik kata kata rayuan lagi setelah semua yang di perbuatnya??", Fernandes benar benar tak habis fikir.

"Kamu nggak tidur ya Luiz..?", Fernandes tersentak kaget, Maria tiba tiba sudah ada di belakangnya. Rupanya ia terbangun dan akhirnya menyusul keluar kamar melihat Fernandes tak ada lagi di sofa kamar perawatan.

"Sini...! Duduk sini Maria.. ", ajak Fernandes lembut sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.