Kamis, 02 Mei 2019

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 13

“Sang Prahara bisa datang kapan saja dan dari celah mana saja yang mungkin. Jangan serta merta mengusirnya hanya karena engkau tak menginginkannya. Mungkin saja ia datang untuk membuat mu lebih kuat dari sebelumnya!”
...........................................................................

“Ayo anak-anak, coba di periksa lagi apa yang masih terlewat? Apa sudah semua keperluan kalian di bawa?”, teriak kecil Fernandes pada Toby dan Halilintar dari pekarangan depan rumahnya.

Terlihat Maria sibuk meringkas semua tas yang akan mereka bawa dalam perjalanan ke Valencia. Sesekali ia memeriksa catatan yang telah ia buat sebelumnya. Pakaian, makanan kecil untuk di perjalanan, kotak obat Halilintar dan perangkat-perangkat game serta telepon genggam masing-masing ia periksa lagi satu persatu. Hmm…sudah semua  lengkap!

Ayah Fernandes Tuan Miguel Hector Fernandes sudah tiga kali bertelepon sejak fajar mulai menyingsing menanyakan apakah mereka sudah bersiap akan berangkat, seolah tidak sabar menantikan kedatangan Fernandes dan kedua cucunya ini.
Di tempat lain, di belakang rumah, Toby dan Halilintar sedang sibuk membujuk nenek mereka agar mau ikut dalam perjalanan liburan akhir tahun ini.

“Tidak bisa sayang…Nenek juga ada pertemuan dan acara akhir tahun bersama dengan sepupu-sepupu papa mu dari keluarga Nenek..”, demikian Nyonya Fernandes mencoba menerangkan pada kedua cucunya dengan sabar.

“ Kan ada papa kalian? Juga Nona Maria yang selama ini sudah menjaga kalian berdua seperti anak kandungnya sendiri? Kalian pasti akan menikmati liburan kali ini meski Nenek tidak turut serta…Percayalah! “.

Dengan wajah kecewa, kedua anak ini kemudian menghambur ke papa mereka di depan rumah. Toby kemudian berbicara dengan Fernandes sementara Halilintar berlari ke pelukan Maria, keduanya seolah ingin mengungkapkan dan melepaskan kekecewaan pada Fernandes dan Maria.

Setelah merasa yakin tak ada lagi yang terlupa, akhirnya merekapun berangkat. Sebelumnya mereka harus mengantar Nyonya Fernandes dulu ke rumah sepupu Luis Fernandes di bilangan kota Sierra karena di sanalah ibu Fernandes ini nanti akan menghabiskan akhir tahun. Sepanjang perjalanan, terdengar kedua buah hati nya bernyanyi dengan sangat gembira. Nona Alaura yang kali ini turut pula di bawa serta juga sangat gembira dan menikmati perjalanan sambil terus bercanda dengan Toby dan Halilintar.

“ Kami akan langsung jemput Ibu begitu kembali..! Kalau saja Ibu bisa ikut Bu…”, demikian ujar Fernandes pada ibu nya sesampai di Sierra sambil memeluk dan mencium tangan Nyonya Fernandes.
Toby dan Halilintar pun memasang wajah cemberut sambil memeluk dan mencium Nenek mereka. Berharap di detik detik terakhir Nyonya Fernandes akan berubah fikiran.

“ Hahaha, kalian jelek sekali mukanya…? Sudah…Sudah…nikmati saja perjalanan liburan kalian yaa..!”, ucap Nyonya Fernandes pada Toby dan Halilintar sambil mencium mereka berdua satu persatu.

Setelah itu, ia pun memeluk Maria Pedrosa, mencium pipinya serta berbisik ke telinga Maria, “Titip anak dan cucuku ya sayang”.
.......................................................................

Perjalanan panjang selama hampir tiga jam karena lalu lintas yang sangat padat ke Valencia mereka tempuh dengan sangat ceria. Berkali-kali mereka bernyanyi bersama sambil tertawa. Sampai akhirnya mendekati perbatasan kota Valencia, Toby dan Halilintar telah terlelap.
Selanjutnya, Maria terus menemani Fernandes bercerita banyak hal agar Fernandes tidak terlalu merasa lelah mengendarai mobil setelah Toby dan Halilintar tidak bersuara lagi.

“Bagaimana rencanamu nanti Luis? Apa kita langsung ke pantai Saplaya atau menginap dulu di rumah ayah?”, tanya Maria.

“Itu melihat keadaan saja Maria…Aku ingin berbicara banyak hal juga dengan Ayah soal kita..Mungkin membutuhkan banyak waktu. Andai Ibu ikut, tadinya kita akan langsung saja chek-in ke hotel Faradila yang sudah aku booking kemarin. Tapi karena Ibu tidak ikut, mungkin sebaiknya kita di rumah Ayah dulu barang satu atau dua hari, tergantung keadaan”, jawab Fernandes sambil tersenyum dan mencubit hidung Maria mesra.

Dalam hati, Fernandes begitu bersyukur dengan kehadiran Maria di sisinya. Membesarkan dua anak, di mana salah satunya sedang sakit parah telah benar-benar menguras energi nya. Terutama bila mengingat kondisi Halilintar. Fernandes masih ingat betul ucapan dokter soal bagaimana membantu penyembuhan buah hati yang sangat ia sayangi ini.

” Obat-obatan medis sebenarnya hanya alat untuk membantu dalam kasus kanker darah seperti yang di derita Halilintar Pak.. Semangat hidup, ketenangan bathin, kegembiraan, dan keinginan sembuh lah yang jauh lebih berperan dalam proses penyembuhan itu sendiri”, demikian sebagian kalimat yang di ucapkan dokter Gerald dalam salah satu kesempatan pasca chemo teraphy yang di lakukan beberapa waktu lalu.

Nah untuk kepentingan ini, membangkitkan semangat hidup dan membuat kondisi bathin Halilintar tetap ceria dan gembira, Luis Fernandes merasa sangat berterima kasih pada Maria yang selalu mengambil peranan sebagai ibu kandung yang sangat menyayangi Halilintar.

“Sepertinya di depan nanti ada rest area Luis,,bisakah kita beristirahat sejenak agar anak-anak bisa melemaskan otot-otot mereka karena tidur dengan posisi duduk seperti itu pasti melelahkan buat mereka?”, tanya Maria tiba tiba  menyentakkan Fernandes dari lamunan nya.

“Siap Bu komandan..!”, canda Luis sambil mengedipkan matanya pada Maria.

...........................................................................

Begitu pintu gerbang terbuka, Tuan Miguel Hector terlihat sudah berdiri di depan rumah dengan tongkatnya. Toby langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri, memeluk serta mencium dengan erat kakeknya yang memang sudah harus menggunakan tongkat untuk berjalan karena penyakit kelumpuhan yang di deritanya.

” Waduh..! Sudah tinggi sekali cucuku yang satu ini…lho? Kok ada jenggotnya Bang??”, sambil terkekeh Tuan Miguel menggoda.
Toby pun menyeringai dan akhirnya tertawa mendengar candaan kakeknya ini. Halilintar kemudian turun dari mobil bersama Maria. Dengan terus memegang erat lengan Maria, ia menghampiri kakeknya. Mata Tuan Miguel Hector Fernandes langsung berkaca-kaca membuka tangannya lebar ingin memeluk Halilintar. Terlihat sekali cucunya tak lagi punya percaya diri mendekati nya dan secara perlahan menghampiri sebelum akhirnya memeluk Tuan Miguel. Setelah itu Maria pun menunduk hormat dan mencium tangan calon mertuanya ini dengan takzim.

“Aku sudah mendengar semua perbuatan baikmu pada anak dan cucu-cucukuku…semoga TUHAN selalu menyertaimu anakku..”, dengan menangis Miguel berbicara sambil memegang kepala Maria Pedrosa.

Tanpa menghiraukan Luis Fernandes yang masih sibuk menurunkan barang-barang bawaan mereka, Tuan Miguel pun langsung menarik Toby dan Halilintar masuk ke dalam rumah.

“ Hei…kamar untuk kalian sudah di siapkan di belakang! Bawa saja semua nanti langsung ke sana ya…!,” teriak Tuan Miguel pada Luis seolah berbicara dengan seorang supir.

“ Siap Pak Bos!!!”, balas Fernandes kemudian pada ayahnya.

Mendengar pembicaraan ini, bola mata Maria berputar-putar sambil tersenyum karena heran dengan cara Tuan Miguel dan Luis berkomunikasi. Ia memang sudah mendengar bahwa Luis dan ayahnya selalu berbicara dan bercanda seperti layaknya teman sebaya. Tapi sungguh ia tak menyangka keakraban nya sampai seperti yang ia dengar barusan…Dan ia pun tertawa karena Luis kemudian memeletkan lidahnya ke arah rumah di mana tadi Tuan Miguel, Toby dan Halilintar baru saja masuk.

“Hmmm..Sepertinya aku akan merasa sangat nyaman dengan keadaan-keadaan ini…”, Maria berbisik dalam hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar