Masa lalu hanyalah sebuah kenangan untuk di jadikan pelajaran. Masa kini adalah sebuah berkat untuk masa depan. Terjebak di satu masa dan tak bergerak menuju masa setelahnya adalah sebuah langkah keliru yang dapat mengundang petaka.
_______________________________
Musik terdengar menghentak hingar-bingar. Beberapa pria terlihat bergoyang di tempat duduk masing-masing mengikuti irama lagu yang di-senandungkan dengan riang oleh tiga orang penyanyi di atas panggung. Tak terkecuali Maria Pedrosa, Luiz Fernandes dan 5 temannya.
"Ah..sepertinya kurang seru kalau aku tidak menyanyi malam ini!!”, ujar Fredo setengah berteriak. Di-tengah kegembiraan yang terbangun karena pembicaraan
seputar kampung halaman mereka, tiba tiba Fredo mengajukan sebuah ide. Saat itu Luiz Fernandes dan teman temannya memang sedang memberikan sambutan pada Fredo teman masa kecil mereka yang sedang berkunjung ke kota ini . Maria Pedrosa juga ada di sana karena mereka semua memang teman satu sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama di kota tempat Luiz Fernandes sempat tinggal, di besarkan dan melewatkan masa remajanya dulu.
Ide itu langsung di sambut dengan gembira oleh teman-temannya, termasuk Luiz. Ya, Fredo kebetulan memang bersuara bagus. Di luar pekerjaan sehari-hari, ia adalah seorang Song Leader di gereja.
Piter, salah satu teman Luiz yang sering bertindak layaknya cukong dalam acara acara seperti ini langsung berdiri memanggil waitress. Ia berbisik sebentar pada waitress sambil menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan, yang di balas anggukan kepala beberapa kali oleh sang waitress. Kemudian, meninggalkan meja no. 10 tempat mereka duduk dan berjalan ke-arah panggung dengan maksud menyampaikan pesan dari Piter pada sang MC disana. Saat mata Luiz mengikuti langkah sang waitres, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sosok seorang wanita yang duduk berdua dengan anak perempuannya. Sepertinya anak itu berusia sekitar 9 tahun. Dan mereka duduk di barisan depan dekat panggung.
Ya TUHAN….benarkah itu dia? Benarkah itu Loraine??”, bisik Luiz dalam hati. Sekelebat wanita itu memalingkan wajah melihat ke arah waitress yang melewatinya. Posisi ini membuat Luiz dapat dengan jelas mengenali wanita ini.
“Aduh! Itu benar-benar dia….!”, tiba-tiba dahi Luiz berkeringat dan mukanya pucat seketika.
Dia adalah Loraine! Adik kelas Luiz Fernandes sewaktu masih duduk di bangku sekolah yang sama dengan teman-temannya ini . Artinya, ke-lima temannya juga mengenal Loraine dengan baik. Tentu saja termasuk nona Maria Pedrosa . Ia juga dulu bersekolah di tempat yang sama. Luiz tiba-tiba gelisah dan serba salah. Melihat ke-arah panggung berarti harus juga melihat nona Loraine. Duduk membelakangi panggung berarti duduk menghadap dinding. Hallah!!...Ini posisi duduk yang akan aneh dilihat teman-temannya. Luiz benar-benar bingung dan galau. Hal ini akhirnya dapat tertangkap oleh mata Maria.
“Kamu kenapa sayang?”, bisik Maria sambil pindah posisi duduk di samping Luiz.
“Nggak…Nggak kenapa kenapa kok..”, jawab Luiz dengan nada yang terdengar sangat gugup. Maria curiga. Luiz sehat sehat saja selama dalam perjalanan ke café ini tadi. Ia pun begitu energik bercerita dengan teman-temannya di awal-awal kedatangan . Kenapa tiba-tiba ia tampak gelisah? Diam-diam mata Maria berkeliling ke seluruh ruangan café. Mata Maria dengan cepat akhirnya juga menangkap sosok Loraine.
“Hmm,,ada dia ternyata! Pantas Luiz tiba-tiba seperti ini..”, bisik Maria dalam hati sambil menatap sedih pada Luiz.
Namun Maria akhirnya memilih diam dan mengalihkan pandangannya pada Fredo sambil melontarkan pertanyaan ringan seolah ia tak menyadari keadaan Luiz saat ini.
Malam ini sebenarnya bukanlah pertemuan Luiz dan Loraine yang pertama. Mereka pernah bertemu beberapa bulan sebelumnya, di tempat ini juga. Namun saat itu, Nona Loraine sama sekali tidak mengenali Luiz. Itu terjadi beberapa tahun sejak ia berpisah dengan Dolores tetapi juga jauh sebelum kedatangan pertama Maria Pedrosa dan teman temannya menjenguk Halilintar di rumah sakit. Luiz dan Loraine pun sebenarnya sudah beberapa kali berkomunikasi dan saling menyapa melalui Whatsapp Mesenger setelah saling bertukar nomor handphone dalam pembicaraan di facebook beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Luiz menginvite pertemanan dengan Loraine, dan sebelum melakukan tindakan konfirmasi permintaan pertemanan itu, Loraine kemudian menyapa dulu dan bertanya apakah ia mengenal Luiz Fernandes. Dalam pembicaraan pertama itulah, setelah masing-masing memperkenalkan diri Luiz sempat begitu terkesan dengan kejujuran mantan adik kelas nya ini. Loraine mengatakan bahwa selama duduk di bangku SMP dulu, ia sudah sangat menyukai Luiz. Loraine bahkan mampu menyebutkan semua kebiasaan dan ciri-ciri yang dimilki Luiz Fernandes pada masa remaja. Termasuk dalam cara berpakaiaan. Fantastis menurut Luiz.
“Gila!!! Itu adalah cerita tiga puluh tahun yang lalu!! Bagaimana ia bisa mengingat sampai se-detail itu??”, teriak Luiz dalam hati saat itu.Ia seperti terkena panah tepat di jantungnya, karena pengakuan itu. Kesan itu bahkan sempat ia ceritakan pada Maria di awal awal hubungan mereka. Luiz bercerita dengan jujur bahwa ia sempat sangat tertarik pada Loraine sebelum akhirnya mengubur dalam dalam perasaannya karena menyadari situasi dan kondisi nya tak lagi mengijinkan hal itu. Ya, Luiz menyadari bahwa itu tak pantas lagi. Tapi Luiz bercerita pada Maria karena ia juga tak pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi dengan nona Loraine seperti ini. Ia pernah mendengar bahwa nona Loraine telah hijrah ke kota lain bersama suaminya.
Sebenarnya, perasaan terkesan yang ia alami lebih karena pernah memiliki masa lalu yang sangat pahit.
Ya, dulu Luiz adalah anak remaja dengan segudang pengalaman pahit.
Perjalanan hidupnya sering mengajarkan Luiz, bahwa ia tak perlu berharap pada siapapun, bahkan tak perlu berteman dengan siapapun, karena hidupnya berjalan sangat tidak wajar dan cenderung tragis. Takkan ada yang tertarik mendengar cerita nya,… apalagi sampai tertarik pada dirinya. Meskipun, dalam perjalanannya sebagai seorang remaja, Luiz beberapa kali pernah menjalin hubungan. Namun tak ada yang pernah langgeng. Luiz Fernandes sadar, hal ini hanyalah karena ia termasuk anak pintar di sekolah manapun ia pernah belajar. Ya, Luiz bahkan pernah sempat menjadi juara olimpiade matematika tingkat provinsi saat baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini setelah pindah dari kota dimana ia dan Loraine sempat berada di satu sekolah yang sama. Karena itu, menurut Luiz, banyak remaja putri hanya ingin memanfaatkan kepintarannya saja untuk bisa bersekolah dan belajar dengan lebih santai. Perjalanan cinta yang Luiz alami di usia dewasa kemudian pun berjalan jauh lebih menyedihkan dan lebih tragis.
Puncak dari semua perjalanan mengerikan itu adalah status duda beranak dua yang kini Luiz sandang. Perjalanan yang semakin meyakinkan Luiz bahwa ia tak cukup menarik untuk di ingat, di sayangi apalagi di cintai.
“Sekarang, mari kita sambut penyanyi berikutnya… Ms. Loraineeee!!!”, tiba-tiba dengan lantang MC di atas panggung memanggil nama Loraine untuk menyanyi.
“Wow!!!…Ada dia juga ternyata…!”, teriak Piter terlihat exited sambil melihat Loraine berjalan ke atas panggung.
Sementara Luiz merasa serba salah dan salah tingkah...Maria justru sedang meradang dalam hatinya.
"Kemarin anak nya..!!! Kalau sekarang ada wanita lain yang membuat perhatian Luiz teralihkan seperti ini, maka ia bukanlah pria yang baik lagi!", bathin Maria berteriak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar