Kamis, 02 Mei 2019

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 14

Dunia ini tak lebih dari panggung sandiwara. Cerita nya seringkali bisa membawa suka tapi tak jarang pula membawa duka. Satu-satunya cara untuk bahagia hanyalah dengan terus menjalaninya.

..................................................................

"Praaaaaanggg.....!!!!", Luiz Fernandes kaget mendengar suara pintu di banting dengan keras sekali. "Hmmm...sepertinya anak bungsuku kembali merajuk..", Luiz berbicara sendiri sambil memarkirkan mobilnya perlahan di garasi.
Baru saja ia akan melangkah di ambang pintu rumahnya, ia berpapasan dengan Maria Pedrosa yang berjalan tergopoh-gopoh keluar rumah dengan muka yang terlihat kesal sekali.
"Luiz..!!! Sebaiknya kamu ajari anakmu berlaku sopan terhadap orang yang lebih tua. Kalau begini terus...aku menyerah saja! Anakku saja tak bisa ku urus, kenapa pula aku harus di perlakukan kasar oleh orang yang bukan anak ku??", semprotan kata kata Maria terasa menghujam jantung. Luiz terperangah.
Ya, sudah 6 bulan berlalu sejak mereka kembali dari Valencia, Halilintar memang selalu uring-uringan. Terutama sejak Luiz Fernandez memutuskan anaknya ini boleh kembali belajar di sekolah biasa. Kondisi kesehatan yang mulai membaik juga membuat Luiz yakin menghentikan teraphy chemo yang sudah di jalani sekian lama dan menggantinya dengan teraphy herbal yang di anjurkan oleh salah satu temannya. Teraphy dimana Halilintar kemudian harus merubah pola makannya. Mengingat betapa tersiksa nya proses chemo selama ini, anaknya inipun tak sulit di bujuk untuk bersedia mengikuti pola makan sayur sayuran dan buah buahan tanpa daging dan nasi putih sama sekali. Tapi sayangnya, Halilintar pun kemudian berubah menjadi labil setelah menjadi vegetarian dan setelah dimasukkan kembali untuk bersekolah. Semua jadi serba salah di matanya.  Toby pun seringkali mengeluh karena adiknya bisa tiba-tiba membentaknya dan kemudian menangis sendiri. Tapi berbeda dengan reaksi Maria, anak sulung Luiz Fernandes ini biasanya hanya diam di samping adiknya dan menunggu sampai akhirnya adiknya kemudian menangis. Kalau sudah seperti ini, dalam diam ia akan merengkuh Halilintar ke dalam pelukannya. Mengelus kepala adiknya sambil tetap diam. Ia sangat memahami kesedihan yang di alami adiknya yang sedang sakit ini.

"Maaf Pak Fernandez! Saya memang memilih tidak memberitahu teman temannya soal penyakit yang di derita Halilintar. Karena saya kuatir, teman temannya jadi membully dia dan itu bisa membuat dia kecil hati. Tapi saya tak menyangka, teman temannya jadi berharap dia ikut bermain bersama mereka karena tidak mengetahui bahwa ia sedang sakit. Dan karena ia menolak, sekarang apa yang saya kuatirkan justru terjadi...", guru kelas Halilintar akhirnya menerangkan kondisi anak terkasihnya ini dan membuat semuanya jadi jelas terang benderang. Ia memang sengaja datang menemui Nona Sylvia Theresia, guru kelas anak nya ini karena keadaan di rumahnya kini semakin tak terkendali akibat perubahan sikap Halilintar.

Malam ini Luiz duduk merenung di taman belakang rumahnya. Ia bingung harus bagaimana. Setiap hari, kini Halilintar menangis dan berteriak ingin bertemu ibunya. Kelihatan sekali kalau ia kecewa pada Nona Maria Pedrosa.
Ya, bukan hanya putera bungsunya yang berubah akhir-akhir ini. Maria juga kini terlihat tidak lagi sesabar dulu menghadapi labilnya emosi Halilintar. Bahkan Maria seringkali membanding-bandingkan puteranya sendiri dengan Toby dan Halilintar dalam kemarahannya yang meledak-ledak. Sesuatu yang kini ikut membuat Luiz kecewa pada Maria. Dalam suatu perbincangan sengit, Luiz pernah berkata, "Maria!!! Aku tak pernah memulai semua ini. Kamu kan yang datang dan menawarkan diri untuk ikut mengurus anak ku? Kenapa sekarang kamu jadi seperti menyesali semuanya?"
Luiz kembali menunduk sambil mengepalkan tangan pertanda ia dalam keadaan kalut dan sangat tertekan. Keadaan ini tak bisa ia biarkan terus berjalan. Ia harus mengakhiri semua meski ia harus mengakui itu pasti tak mudah. Tapi sejak awal ia sudah bertekad bahwa kedua permata hatinya itulah,,Tobias dan Halilintarlah yang akan jadi prioritas utama hidupnya.
Sebenarnya, Luiz bukan tidak memahami apa yang terjadi pada Maria Pedrosa. Perempuan yang awalnya terlihat sangat lembut itu juga saat ini sedang merasa sangat kehilangan ketika kedua anaknya, Alexis dan Perina memilih ikut dengan ayah mereka, mantan suami Maria dan menolak bertemu dengannya. Itu membuat Maria sangat terguncang akibat rindu yang tak tertahan pada kedua buah hatinya itu. Tak sampai di situ, Alexis kemudian seringkali menyerang Maria di sosial-media sebagai ibu yang telah membuangnya untuk seonggok sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar