PERTEMUAN bisa saja tiba-tiba datang tanpa awal, tetapi PERPISAHAN sepanjang zaman tak pernah tiba-tiba. Selalu ada awalnya dan berjalan sesuai arahan Sang Waktu. PERTEMUAN bisa saja terjadi tanpa rasa, tetapi PERPISAHAN selalu meninggalkan rasa. Ada bekas goresan kesedihan dan penderitaan.
_____________________________________________
Luiz Fernandes merenung sendiri lagi. Wajahnya tampak kusam penuh beban, menunduk dalam sambil terus mengepal-ngepalkan tangannya. Sebentar ia duduk, kemudian berdiri. Duduk lagi sebentar dan kemudian berdiri . Terus berulang-ulang menampakkan betapa gelisah ia saat ini.
“Hhhhhhhh,,,haruskah semuanya ini ku akhiri sekarang?”
“Tapi aku tak punya pilihan lagi!”
“Apakah aku sanggup kembali menjadi seorang ayah dan sekaligus ibu lagi untuk Halilintar dan Tobias?”
“Tapi kalau kemarin-kemarin bisa, kenapa sekarang aku harus takut?? Harusnya aku bisa!!!”
Dalam kebingungannya Luiz terus saja bertanya pada diri sendiri dan kemudian menjawab pertanyaan itu sendiri. Ia terus berdialog dengan dirinya seperti orang yang kehilangan akal sehat.
Memang sekembalinya dari pertemuan dan reuni dengan mantan teman-teman mereka satu sekolah dulu di café Amores minggu lalu, hubungan Luiz Fernandes dan Maria Pedrosa semakin memanas saja.
Sikap serba salah karena kehadiran Loraine di café itu, yang secara tidak sengaja di tunjukkan oleh Luiz telah memicu kemarahan Maria. Meskipun sampai berakhirnya pertemuan itu, termasuk ketika Loraine akhirnya turut bergabung dengan mereka di meja 10, Luiz terus berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya, Maria sangat marah karena perhatian Luiz ternyata masih bisa teralihkan oleh wanita lain. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa Luiz Fernandes memang tak pernah mencintai dirinya. Apa yang telah berjalan selama ini, kemesraan yang tampak terjalin, hanya karena Luiz memang membutuhkan seorang pendamping menghadapi semua masalah yang sedang menghimpitnya, bukan karena ia mencintai Maria.
Puncaknya adalah ketika Halilintar kemarin membuat ulah lagi dengan sikap labilnya. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu di belakangnya ketika Maria telah menyediakan makan malam dan meminta agar Halilintar makan dulu tanpa menunggu papanya pulang dari kantor. Anak bungsu Luiz yang sedang sakit ini tak mau makan di temani Maria dan bersikeras ingin menunggu Luiz Fernades pulang dulu dari bekerja baru ia akan makan malam bersama papa nya.
“Anakmu itu sudah sangat terlalu Luiz!!! Kemarahan nya sudah seperti kemarahan seekor anjing, kamu tahu nggak??? Itu lah akibatnya kalau kamu selalu memanjakan anak saja!”, suara Maria begitu tinggi melabrak Luiz sambal mengadukan perbuatan Halilintar.
Luiz pun meradang mendengar bentakan Maria. Ia benar-benar tersinggung dengan ucapan Maria yang menyamakan anak nya dengan seekor binatang. Mukanya berubah merah seperti kepiting rebus dengan tangan terkepal kencang sekali. Terlihat sekali ia naik pitam dan murka.
“Siapa kamu Maria sehingga merasa berhak bersumpah serapah seperti itu terhadap anak ku?? Halilintar sedang sakit dan karena itu ia amat sangat gampang marah. Ibu kandungnya saja tak akan pernah berkata seperti itu pada dia!!!”, Luiz menjawab teriakan Maria tak kalah keras.
“Alexis yang mengatai aku sebagai se-onggok sampah saja, tak pernah aku bentak sekeras itu! Kamu tahu anakmu sudah sangat kurang ajar terhadap orang tua bukan hanya sekedar membanting pintu seperti Halilintar. Tapi aku tak pernah mengatakan anakmu itu seperti binatang. Kamu yang sudah sangat terlalu dengan perkatanmu. Kamu tahu itu???”, tak tahan lagi akhirnya Luiz membandingkan perbuatan Halilintar anaknya dengan apa yang di perbuat anak sulung Maria lewat ocehannya di media sosial.
“Ohh????Aku tahu sekarang..aku tahu!! Kamu sebenarnya tak pernah kehilangan cinta mu pada Dolores kan??? Kamu hanya terluka karena dia. Sekarang kamu mulai membanding-bandingkan aku dengan Dolores??”, Maria balas membentak semakin sengit. “Hubungan ini tak perlu di teruskan lagi!!!”, lanjut Maria sambal mengemasi barang-barangnya.
Sementara itu Luiz pergi ke belakang untuk mendinginkan hati, dan duduk sendiri di sana. Tiba-tiba pintu kamar anak nya terbuka dan Toby muncul. Ia menyusul ayahnya ke belakang dan kemudian duduk diam di kursi yang ada di samping Luiz Fernandes. Ia diam saja tak bersuara di sana sambil memandangi ayahnya.
“Ohhh,,,,,hhhhhhh”, Luiz menghela nafas panjang sambal menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
“ Sebenarnya , apa yang telah terjadi tadi anakku?”, akhirnya Luiz membuka suara dan bertanya pada Toby.
“Tante sekarang sering marah-marah kalau papa belum pulang dari kantor dan selalu bilang bahwa perbuatan baiknya pada kita tak di balas dengan baik oleh papa. Ia selalu mengatakan bahwa Halilintar adalah anak yang tak tahu berterimakasih ….Kami sebenarnya tak mengerti apa yang tante itu maksud, karena Halilintar hanya tak ingin makan duluan,,,hanya itu Pa”, pelan tapi sangat datar suara Toby menjelaskan. Ia pun telah mengganti sebutan “Mama” dengan kata “Tante”.
Luiz tak mungkin bisa menolak memercayai kata kata anak sulungnya ini. Toby adalah anak yang sangat perasa dan lembut hatinya. Perasaan nya sangat halus dan ia selalu menghormati siapapun terutama mereka yang lebih tua. Untuk Luiz, penjelasan ini bukan lagi hanya sekedar informasi mengenai rentetan kejadian sebenarnya tetapi lebih dari itu telah menjelaskan bagaimana perasaan anak anak nya sekarang terhadap Maria.
...