Senin, 30 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 10











“Meratapi dan menyesali masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Bangkit dan perbaiki setiap kesalahan yang ada”.







“Saya fikir, tindakan ini bukanlah tindakan bijaksana. Customer kita akan menganggap perusahaan kita terlalu arogan dengan mengajukan Surat seperti ini. Mereka sudah memberikan lahan mereka untuk di dirikan signage bagi kita sebagai sarana iklan Pak!”, Fernandes menjelaskan argumentasinya dengan berapi-api pada Marketing Head Division, Mr. Tommy Chan.

“Lantas menurut Bapak, kita harus bagaimana? Ini permintaan Ibu pemilik perusahaan ini…Saya bisa apa?”, jawab Mr. Tommy Chan memelas.

“Tidak apa apa Pak,,Kita tetap melaksanakan perintah tersebut. Tetapi jangan begini redaksinya..Ini terlalu arogan! Tolong di rubah menjadi bentuk Tanda Terima saja , dan bukan syarat pendirian fasilitas signage”, tambah Fernandes lagi.

“Ya sudah Pak, saya percaya Bapak tahu yang terbaik. Jangan sampai langkah saya menghalangi terobosan apapun yang divisi bapak lakukan. Ok! Saya akan minta sekretaris saya mengedit redaksinya dan nanti langsung di ajukan ke Bapak lagi..Saya permisi dulu!”, Mr. Chan akhirnya pamit keluar ruangan Fernandes.

Fernandes menarik nafas dalam.. Hampir saja Surat itu terkirim ke customer mereka. Dan ia bisa membayangkan reaksi dari orang orang seperti Tuan Adolfo atau Tuan Alvaro membaca redaksi itu.

Setengah jam kemudian, Neva sekretaris Mr. Tommy Chan datang lagi dan menyodorkan selembar Surat. Fernandes membaca kata demi kata yang tertulis di Surat tersebut dengan teliti, mencoret dan menambahkan beberapa kata dan akhirnya menanda-tanganinya.

“Looks Ok Neva,,Terimakasih ya! Dan tolong bilang terima kasih juga pada Mr. Chan..Kalau sudah selesai, beritahu saya segera ya, saya akan atur orang saya untuk mengeksekusinya”, ujar Fernandes sambil menyerahkan Surat itu kembali pada Neva.

Ting!...Ting! Bunyi notifikasi Whatsapp Messenger di telepon nya. Fernandes meraih telepon nya dan melihat. 

“Luiz..!”, hanya kata itu yang ada di kolom pesan. Ia melihat ke atas screen dan..”hmm..”.
 
Amara Oliveria Bonaro adalah sepupu dari pihak ayahnya. Ibu Amara, Nyonya Verdelita Fernandes yang menikah dengan seorang terpandang bernama Alfredo Bonaro adalah kakak kandung ayah Fernandes. 
Kakak sepupunya yang sedang sibuk menyusun disertasi untuk program doctoral nya ini memang kebiasaan hanya mengetik namanya saja ketika membuka percakapan di chatting. 
Amara ini adalah sepupunya yang ia rasa paling dekat dengan dirinya di antara sepupu-sepupunya yang lain. Fernandes tersenyum membacanya..

“Iya kakak ku yang cantik?”, Fernandes mengetik balasan dengan sangat cepat.

Hampir lima belas menit ia habiskan berbalas-balasan pesan dengan Amara yang belakangan membuat wajahnya muram. Kakak sepupunya ini memberitahu bahwa berita miring tentang dirinya sebenarnya bersumber dari cerita bohong yang di hembuskan oleh Leandro adiknya. Ya, Leandro Ritchie Fernandes adalah adik kandung dari Luiz Fernandes. 
Menurut Amara, Leandro lah yang sering mengatakan bahwa Luiz Fernandes suka sekali berganti-ganti wanita. Berita miring ini tentu saja membuat beberapa keluarga tidak senang dan bahkan merasa Luiz Fernandes sudah melalui jalan yang salah.

“Terus menurut Kakak bagaimana?”, tanya Fernandes ingin menyelidik pendapat dan pandangan Kakak sepupu yang ia sayangi ini.

“Ya menurut ku, kamu nggak usah fikirkan lah Luiz. Ke Mama sih sedapat mungkin Kakak sudah klarifikasi apa yang sebenarnya. Tapi yaaah,,ke orang lain memang bukan urusan kakak sih. Sepanjang apa yang sedang kamu jalani sudah benar menurut kamu, jalani saja Luiz”, Amara dengan cepat membalas.

Fernandes termenung sesaat. Entah untuk alasan apa Leandro melakukan ini. Padahal meski sejak pertama Halilintar jatuh sakit Leandro tidak menghubungi nya sama sekali apalagi menjenguk, Fernandes tidak ingin berfikir negative pada adiknya ini. Ia justru mengatakan pada ibunya kalau Leandro sedang sibuk sekali.

Tok..Tok..Tok! Pintu ruangan kerja Fernandes di ketuk meski sedang terbuka lebar. Fernandes tersenyum melihat orang yang berdiri di depan pintu. Mr. James Lee.

“Apa yang Pak Fernandes fikirkan hmm? Muka sampai di tekuk seperti itu Pak Fernandes..? Nggak enak di lihat orang lho!”, sambil tersenyum Mr. Lee berjalan masuk ke ruangan Fernandes dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan Fernandes.

Bos-nya yang satu ini memang sering kali datang ke ruangan nya untuk sekedar bercakap-cakap. Kadang Fernandes yang bercerita panjang lebar tentang keadaannya maupun keadaan anaknya. 
Di saat lain Mr. Lee yang banyak bercerita tentang dirinya. Fernandes tidak berani untuk menyimpulkan bahwa mereka cukup akrab, namun dalam keadaan tertentu yang memaksa Fernandes mengambil keputusan keputusan pribadi, meski tidak berhubungan dengan pekerjaan, Mr. Lee orang yang sering ia minta pendapat.

“Benar kata sepupu anda Pak Fernandes!.. Anda tidak perlu membiarkan penilaian orang mempengaruhi keputusan dan jalan hidup anda kalau anda memang sudah meyakini itu benar. Apalagi setahu saya, anda ini rajin sekali berdoa. Saya fikir, anda pasti mendoakan dulu keputusan anda sebelum mengeksekusinya kan?”, Mr. Lee memberi tanggapan serius setelah mendengar penuturan Fernandes.

Fernandes kemudian menarik nafas panjang. Terlihat ia lega sekali. Pendapat dua orang ini yang jelas ber-pendidikan tinggi dan ber-wawasan luas rasanya cukup sebagai pertimbangan dan kekuatan baginya.

Mr. Lee kemudian membicarakan maksud kedatangannya ke ruangan Fernandes sebelumnya. Mereka berdiskusi cukup alot. Terlihat Fernandes sampai mengambil secarik kertas, mencorat coret dan menggambar di sana-sini sambil berbicara memberi penjelasan. Tak cukup satu lembar, ia pun mengambil lagi kertas lainnya. Mr. Lee pun memanggut manggut tanda mengerti apa yang Fernandes sampaikan.

Tak lama, Mr. Lee tersenyum sambil berdiri. Raut wajahnya terlihat sangat puas. Kemudian ia pun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Fernandes.

“Saya beruntung bertemu anda Pak Fernandes! Saya tidak habis fikir Mafioso-mafioso itu tidak dapat melihat potensi yang anda miliki…”, Mr. Lee menutup pembicaraan dengan suara mantap sambil bersalaman dengan Fernandes.

“Ah Bapak terlalu berlebihan mengungkapkannya Pak…”, dengan raut muka malu Fernandes menjawab sambil tersenyum pada Mr. Lee.

Sepeninggal Mr. Lee, Fernandes membuka laptopnya dan memeriksa beberapa file yang sebelumnya telah ia buat.

Ting..! Ting..! Notifikasi berbunyi lagi. Ia melihat, kali ini dari orang yang ia tunggu tunggu. Maria Pedrosa!





CINTA DI UJUNG DUKA Chapter 9







“Cinta adalah seberapa baik engkau dapat menyembunyikan tangis. Seberapa berhasil engkau mengubahnya menjadi sebuah tawa”.


Seperti biasa, pagi ini Luiz Fernandes berkendara menuju kantornya sambil mendengar lagu The Power Of Love. Wajahnya tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian malam, hari ini tepat satu bulan yang lalu. Ya pada pukul tujuh malam tanggal 29 September 2016 menjadi momen yang sangat berkesan baginya.

Luiz Fernandes gelisah luar biasa. Sebentar sebentar ia melirik arloji di tangannya. Sebelum duduk di taman ini di belakang rumahnya, ia sudah memberi pesan pada Ibunya, pada Toby dan Halilintar, bila Maria Pedrosa pulang dari bekerja, tolong beritahu bahwa ia menunggu di taman belakang. Ia bertekad akan memberanikan diri bicara serius dengan Maria kali ini.

Bayangan seseorang terlihat akan keluar dari pintu belakang rumah, dan keringat Fernandes tiba tiba menjadi luar biasa deras keluar. Ia panik

”TUHAN! Bantu aku agar berani kali ini. Beri petunjukmu ya TUHAN!”, Fernandes berbisik pada dirinya sendiri.

Akhirnya yang di nanti-nanti benar-benar keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju Fernandes. Maria Pedrosa terlihat sudah mandi dan berdandan setelah pulang bekerja tadi. Dan,,,,,

”Oh TUHAN! Dia berdandan…”, bisik Fernandes lagi entah panik karena apa.

“Kamu sudah lama pulang Luiz?”, sapa Maria dengan senyumannya yang khas sambil duduk di kursi taman di depan Fernandes.

”Hmm,,I..Iya Maria! Hmm..aku..aku…”,Fernandes terdengar sangat gugup sekali.

”Aku..sengaja pulang lebih awal hari ini”. Akhirnya ia mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Hahahaha…kamu kenapa Luiz?”, Maria tertawa lucu sekali melihat kegugupan Fernandes. 

“Kamu persis seperti copet yang akan di proses verbal polisi sehabis beraksi dan tertangkap! Kamu kenapa?”, lanjut Maria lagi.

Fernandes tersenyum kecut. Ia tahu, tingkahnya jadi sangat konyol kalau begini. Tapi mau bagaimana? Ia tak sanggup melawan debaran jantungnya yang jadi tambah kelewatan nakalnya. Berdetak tanpa irama, persis bedug yang di pukul anak-anak kecil di malam takbiran.

“Maria…ehmm…aku.. aku mau bicara se..seriuss dddengan kkkamu mmmalam ini be..bebe..bolehkan? Tapi…ehm…ehm…aku..harap..jjjangan sa….salah paham yaaa?”, kata kata ini jadi tak jelas artinya karena Fernandes luar biasa takut memulai topik yang sebenarnya ingin ia bicarakan. 

Maria memalingkan muka ke sisi yang lain sekejap, tersenyum senyum lucu dan berbisik sendiri di dalam hati.

 “Hmmm…sepertinya aku tahu Luiz mau bicara apa! Matanya tak bisa berdusta”. 

Kali ini dia benar benar ingin menggoda Fernandes lebih jauh. Ia memasang muka cemas terlebih dahulu dan berpaling lagi menghadap Fernandes.

“Ma..ma..maaf Luiz….!Mungkin aku terlalu lama pulang ya? Sehingga aku ku…ku…rang sesuai me..me..nurut penilaianmu mengurus Halilintar? Kalaupun kkkkamu mau pecat aku sekarang…aku ppppasrah Luizz!..”, Maria pura-pura meniru kegugupan Fernandes dan bertingkah seolah menjadi sangat khawatir akan di pecat.

Mata Fernandes pun terbeliak karena kaget dengan reaksi Maria. Ia tak menyangka Maria akan salah paham sebelum ia berbicara banyak.

” Aduh…! Bukan..Bukan itu Maria! Sumpah demi TUHAN bukan itu!!!”, cepat sekali Fernandes berbicara sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

Maria berpaling lagi dan melepaskan rasa lucu dalam hatinya sambil tersenyum. Ia tak ingin Fernandes melihat senyumannya kali ini.

“Terus? Ini masalah apa Luiz?...Bicaralah! Aku terikat kontrak kerja denganmu sampai dengan tanggal  Dua Puluh Tiga Mei Dua Ribu Tujuh Belas. Aku wajib mendengar kalau ada keluhan mu atas kinerjaku”, Maria sengaja menekankan soal Kontrak Pekerjaan di antara mereka berdua untuk menggoda Luiz Fernandes lagi.

“Beughhhhhh…!!!”, di ingatkan bahwa mereka terikat kontrak kerja secara professional membuat Fernandes lemas dan berniat mengurungkan saja niat nya berbicara malam ini. Ia tak boleh melanggar itu dan menyalah gunakan kontrak kerja itu. 

Tapi tunggu dulu!!!! Tadi ia sekilas sempat melihat senyum Maria yang di sembunyikan saat berpaling sebentar.

“Jangan..Jangan??”, Fernandes menarik nafas lega setelah menyadari bahwa Maria pasti sedang mengerjainya. 

“Maria tahu apa yang akan aku bicarakan!”, bisik hati Fernandes sambil memandang dalam ke mata Maria.

Di pandangi seperti itu, Maria salah tingkah dan mukanya memerah. Kini, ia yang merasa tertangkap basah seperti copet yang ingin melarikan diri dari kejaran polisi.

“Apaan sih Luiz??..Kenapa kamu memandang seperti itu?”, tanya Maria sambil tertunduk sangat malu.

Luiz Fernandes tersenyum. Ia paham situasinya sekarang, dan ia ingin menikmati permainan yang di ciptakan Maria ini. Ia mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Maria, terus memandang matanya… 
Pelan namun pasti, ia memajukan wajahnya mendekati wajah Maria..

Dekat…semakin dekat..semakin dekat sampai nafas hangat nya dapat di rasakan Maria. Tinggal satu centimeter lagi jarak antara bibir Fernandes dan hidung Maria, tiba-tiba Fernandes berdiri, berbalik membelakangi Maria dan berkata dengan suara tegas.

 ”Aku memang merasa Kontrak Kerja itu harus di tinjau ulang Maria!”.

Mengingat momen itu, Fernandes terus tersenyum lebar. Malam itu Maria menangis haru saat Fernandes mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Maria. Dan sebagai jawaban, pada momen itu juga Maria hanya menunjukkkan kartu identitasnya yang sudah resmi tertulis berstatus janda.

“Hmm..janda memang lebih yahud di banding gadis yaa?”, canda Fernandes kemudian membuat Maria tergelak dan mencubit Fernandes keras sekali.

“Aduh…ampun…ampun!”, Fernandes meringis karena Maria tak mau melepaskan cubitannya.

“Ayo bilang bahwa kamu tak akan meninggalkan janda ini untuk alasan apapun! Cepat..!”, Maria berpura pura galak.

“Iya..Iya…Aku bersumpah akan tetap mencintai Maria Pedrosa di dalam suka maupun duka di seluruh jalan hidupku!”, jawab Fernandes masih sambil meringis.

Siluet di balik gorden jendela belakang rumah, yang sedari tadi diam di sana, bergerak dan menghilang.

“Kalian belum tahu masalah apa yang kan kalian hadapi! Tak akan semudah membalik tangan untuk meyakinkan semua orang bahwa apa yang kalian kini rasakan benar-benar tulus anakku!”, Nyonya Alejandra Hector Fernandes bergumam sambil berjalan dari balik gorden dan mengusap air matanya.

“Papaaaa…!”, Halilintar kini berdiri di pintu memanggil Fernandes. Rupanya ia pun gelisah tidurnya malam ini dan mencari ayah nya.

Fernandes cepat cepat berdiri, menyodorkan secarik kertas pada Maria dan beranjak ke arah Halilintar dengan tergopoh gopoh.

Sepeninggal Fernandes, Maria membuka kertas itu dan mulai membaca….

"Pintaku Cinta"


Bila cinta itu nyata
Beri aku lebih dari kata
Manjakan aku lebih lama
Jangan pernah sertai dengan luka
Biar ku tau kau kini ada
Biar ku rasa cinta itu memang indah
Dan dari dirimulah itu asalnya
Karena...
Apalah arti rasa cinta
Bila kau nenti tak ada
Bila hanya sekadar kata
Kuingin wujudnya, jadilah pendamping setia
Kuingin rasakannya, jadilah belahan jiwa
Dan itu hanya denganmu,,,
Maria Pedrosa...

“Begitu lembut hatimu Luiz….Mampukah aku menolak cinta mu yang sedemikan hangat?”, Maria berbisik sambil mendekap kertas itu di dadanya.

“Cieeeee…cieeeee…….!”, Maria tersentak kaget. Ia berpaling dan….Toby ada di belakangnya. Toby tersenyum senyum melihat Maria dan memberi tahu Nenek nya memanggil Maria untuk makan malam bersama.



























Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 8







“Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk. Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya.”



Sudah pukul sebelas malam ini, dan Maria Pedrosa masih belum juga bisa terpejam. Sepulang dari Rumahsakit tadi ada begitu banyak percakapan yang berkesan baginya. Ia tersenyum senyum sendiri sambil menatap langit langit kamar mengingat semua pertanyaan pertanyaan kritis dari Toby sepanjang perjalanan pulang. 

Begitu juga dengan pertanyaan pertanyaan si kecil Halilintar. Ia begitu takjub dengan cara Fernandes memberi penjelasan pada kedua anaknya. Begitu terperinci, sabar dan penuh inspirasi. 

Fernandes terdengar begitu piawai memacu semangat kedua puteranya lewat semua penjelasan penjelasannya meski sambil mengemudi kendaraan mereka. 

Tak lupa, Fernandes pun dengan cara nya yang sangat pintar, selalu mengajak kedua buah hatinya itu untuk mengagungkan TUHAN karena semua perbuatan kasih yang telah mereka terima. Melihat ini semua, Maria teringat mendiang ayahnya sendiri. Airmatanya menetes…

“Hhh, kalau saja kau masih hidup Ayah…Pasti ayah pun tersenyum melihat kebahagiaanku sekarang”, bisik Maria pelan.

Paginya, Maria tersentak bangun. Ia melihat Alaura Sang Asisten Rumahtangga Luiz Fernandes tak lagi ada di sampingnya. Berarti sudah siang! Maria pun tergopoh gopoh keluar kamar, melirik sekilas pada jam dinding di ruang tamu. Sudah pukul 6:00! Hmm, ia melihat Fernandes sudah sibuk menata tas kerjanya, sambil memberi arahan dan instruksi pada Toby terkait jam pulang sekolahnya, sementara Toby pun terlihat sedang sibuk memasang dasi dan berdandan. Setelah berteriak kecil mengucapkan selamat pagi pada semua, Maria pun langsung masuk kamar mandi.

Setelah selesai berdandan, Maria keluar kamar dan siap berangkat bekerja. Ia melihat, Luiz Fernandes , Toby dan Halilintar sudah duduk di meja makan menunggunya sarapan bersama. Maria tersenyum lagi pada mereka dan bergabung, mengambil posisi duduk di kursi sebelah Fernandes.

Sebelum sarapan Luiz Fernandes membuka Alkitab di tangannya, membaca satu ayat dari sana dengan suara keras. Kemudian meminta semua memberi tanggapan atau kesan tentang ayat yang baru di bacakannya. 

“Ya, Saudara Tobias Halden Fernandes! Silahkan..”, Fernandes mempersilahkan ketika Toby mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Dan Toby pun berbicara.

Acara membaca kitab suci di tutup oleh Luiz Fernandes dengan doa sekaligus doa untuk sarapan yang akan mereka santap pagi ini. 

TUHAN..Hamba hamba MU ini datang dan menundukkan kepala di hadapan hadirat MU yang suci. Kami mau ucapkan rasa syukur yang tak terhingga untuk semua ungkapan kasih yang telah ENGKAU tunjukkan pada keluarga kami hingga kami pun dapat tetap menikmati sukacita menjalani hidup meski di tengah cobaan dan problem yang melanda kami. Hari ini pun kami tak ingin melepaskan tangan kami dari tuntunanMU yang kuat ya TUHAN! Ijinkan kami terus berharap dan berpasrah pada MU dan mohon kiranya ENGKAU mau mengajar kami untuk dapat selalu menyenangkan hati MU melalui semua tindakan, tutur kata maupun cara kami berfikir. Kami percaya meski raga kami di rongrong oleh ketidak sempurnaan, roh kudus MU dapat selalu ada untuk kami dan mengingatkan kami di seluruh jalan dan hembusan nafas kami hari ini. Mohon juga ya TUHAN, sudilah kiranya memberi berkat MU atas makanan yang sebentar lagi akan kami santap ini, agar dapat menjadi kekuatan, kesegaran dan tenaga dinamis bagi kami. Hamba hamba Mu ini adalah manusia manusia bodoh dan tidak sempurna,,karena itu kami masih sering kali melakukan perkara perkara  yang tidak ENGKAU perkenan. Mohon juga kira nya ENGKAU sudi berbelas kasihan atas kami dan mengampuni kami ya TUHAN. Kami pun  sudah selayaknya harus juga mengampuni siapapun yang bersalah atas kami.
Akhirnya,,seluruh kehidupan kami,  permohonan bodoh dan tak sempurna ini kami serahkan dalam tangan MU ya TUHAN dan kami sampaikan ini hanya karena pengorbanan Putera MU, Yesus Kristus yang kami kasihi,,,Amiiin!”

Maria kaget dalam hati. Ia mendengar getaran pada suara Fernandes di sepanjang doa yang ia sampaikan.

Ajaib, ia pun melirik Alaura yang beragama muslim ikut menyatakan amin dengan suara sangat pelan di akhir doa Fernandes tadi. Maria pun sempat melihat Luiz Fernandes menghapus sudut matanya sekilas sebelum mulai bersantap.

“Oh,,Luiz! Andai saja aku telah mengenalmu seperti ini sejak lama”, Maria membathin sedih.

Siang ini, saat makan di Rumahsakit tempatnya bekerja, Verna Rosalba, sahabat Maria mendekati dan berbisik, “Bagaimana keadaan anaknya Pak Fernandes sekarang Kak?”.

“Sedikit membaik Ros..hari kamis nanti dia akan menjalani chemo teraphy lagi”, jawab Maria.

“Bagaimana awalnya sih Kak? Kok bisa tiba tiba begitu? Terdiagnosa penyakit berbahaya memang tidak ada gejala gejala awal ya Kak?”, tanya Rosalba lagi.

Maria pun bercerita bahwa Halilintar itu sebenarnya ada di bawah pengawasan Luiz Fernandes sejak berusia delapan tahun. Dan tak ada sedikitpun tanda tanda ia akan mengidap penyakit seperti itu. Namun pada akhir tahun dua ribu lima belas lalu, Luiz Fernandes mengalami masalah dengan perusahaan Italia tempatnya bekerja yang mengakibatkan ia harus mengajukan Surat Pengunduran diri pada waktu yang sama. 

Demi penyelamatan keadaan finansial, Luiz Fernandes pun sempat bergabung dengan sebuah perusahaan kontraktor milik saudaranya. Namun konsekwensinya adalah ia harus mau melakukan perjalanan dinas keluar kota apabila di butuhkan. 

Karena itu Fernandes akhirnya menghubungi Dolores Poldie mantan isterinya dan berharap ia bisa menitipkan kedua anaknya pada mantan isterinya itu untuk sementara waktu. 
Namun baru sebulan itu berlangsung Fernandes mendapat telepon bahwa anak bungsunya Helio Nestor Fernandes yang biasa ia panggil Halilintar itu mengalami masalah dengan penglihatannya sebelah kanan.

Karena itu, ia langsung pulang dan begitu melihat keadaanya, ia pun langsung melarikan Halilintar ke rumahsakit. Tapi sungguh mengagetkan, dokter yang menangani Halilintar menyatakan bahwa meski baru satu malam, Halilintar telah kehilangan penglihatannya sebelah kanan. Dokter pun merekomendasikan agar Halilintar yang baru berusia sepuluh tahun itu, segera di bawa ke rumah sakit yang khusus menangani mata anak karena ia menemukan ada nanah di dalam kornea mata Halilintar.
Di rumah sakit mata yang di tunjuk tersebut keadaan mata Halilintar justru semakin hari semakin memburuk bahkan sampai mengalami pembengkakan luar biasa. Hampir tiga bulan Luiz Fernandes dan Halilintar di pingpong kesana kemari oleh para dokter mata yang menangani kasusnya untuk mengetahui apa penyebab kerusakan fatal dari mata Halilintar. 

Pemeriksaan demi pemeriksaan yang sangat menyakitkan di lalui namun tetap tidak di temukan jawaban. Tak terhitung lagi entah berapa kali Luiz Fernandes harus meraung-raung menangis dan memohon kepada para dokter agar segera menemukan akar masalah mata anaknya itu, karena tak tahan melihat penderitaan dan tangisan perih dari Halilintar. Tak terhitung pula entah berapa ratus atau bahkan ribu Euro yang telah di habiskan untuk menjalani semua proses pemeriksaan.

Sampai pada akhirnya semua dokter menyerah dan mengatakan bahwa mata Halilintar tak mungkin lagi terselamatkan. Jalan satu satunya hanya operasi pencangkokan protesa atau bola mata palsu pada mata Halilintar untuk mencegah penyakit itu menjalar ke mata yang kiri.

Pada saat itulah, salah satu dokter mencurigai adanya titik titik putih pada bola mata Halilintar yang rusak. Ia pun segera merekomendasikan agar Halilintar di bawa ke Rumah Sakit Pusat Khusus Kanker Di Spanyol untuk menjalani lagi Test MRI, yang akhirnya di lanjutkan dengan Test BMP ( Bone Marrow Puncture). 

“Dan…dari sini lah seluruh ceritanya dimulai Ros! Kalau kamu ingin melihat video nya, aku punya di HP ini Ros”, Maria mengakhiri ceritanya sambil menunjukkan videonya pada Rosalba.

“Ya ampun…TUHAN!”, Verna Rosalba menyusut airmatanya setelah mendengar seluruh cerita Maria temannya.