Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 4




Luiz Fernandes kini bingung lagi. Haruskah ia tersenyum atau menangis. Satu sudut matanya basah oleh kebahagiaan, sudut lainnya basah oleh kekhawatiran.


Fernandes kemudian duduk lagi di sebelah Maria.  
"Bagaimana soal persidanganmu Maria?". Maria langsung menghela nafas, 

"Itulah Luiz,,semuanya kini jadi semakin mudah dengan panduan dari Bapak Alfredo temanmu itu. Panitera pengadilan bilang, tinggal 2 atau 3 kali sidang lagi, sudah bisa sampai pada putusan". 

Wow...! Fernandes langsung membathin, ternyata Alfredo jauh hebat dari Farel temannya. Sidang perceraian yang harus ia jalani lebih dari setahun dulu dengan Farel bisa hanya 6 bulan di jalani Maria dengan bantuan Alfredo.
Tangan Maria kemudian di kibaskan di wajah Fernandes, "Nah, kok kamu yang sekarang melamun?? Ayooo..mikirin apa?".

"Lah?? Terus,, kalau khabarnya seperti ini kenapa kamu terlihat sedih? Nahhh..aku tahu, pasti kamu berat meninggalkan suamimu itu kan? Kamu sudah jalani hidup dengan dia hampir enam belas tahun. Wajar kalau kamu jadi galau Maria. Tapi masih ada waktu...Sebelum putusan, kamu masih bisa batalkan gugatan kamu. Cobalah kamu fikirkan lagi Maria...fikirkan juga perasaan dan masa depan Alexis dan Perina", lanjut Fernandes sambil menatap dalam mata Maria Pedrosa.

"Tak akan pernah Luiz!..Tak akan! Aku melakukan ini justru untuk masa depan putera puteriku. Dengan kondisi rumah tangga porak poranda seperti selama ini, bagaimana aku bisa menanamkan hal hal yang benar pada mereka? Fikiran mereka setiap hari justru terus teracuni dengan hal hal negative Luiz! Coba bayangkan salah satu contoh terbaliknya dunia rumah tanggaku,, Bruno mantan ku mengatakan dalam keberatannya atas gugatanku bahwa kalaupun ia bekerja mencari uang selama ini hanya untuk membantu bebanku sebagai pencari nafkah!", jelas Maria dengan berapi-api. "Apa???..", mata Fernandes membeliak mendengar penuturan Maria. 

"Dia? Sebagai lelaki? Dia hanya membantu meringankan bebanmu? Hahahaha...", Fernandes tertawa keras sekali sambil membungkuk.

"Maaf..Maaf Maria! Bukan menertawakan nasibmu. Dia benar benar menuliskan itu di Nota Keberatannya? Aduh... Dia nggak pernah belajar apa?? Bahwa imam dalam rumah tangga itu sekaligus pencari nafkah adalah suami? Hahaha...Mantanmu lucu sekali Maria...Maaf,,,maaf! ", airmata Fernandes sampai menetes menahan gelak tawanya.

Maria cemberut dengan reaksi Fernandes, namun bisa memahami. 

Ia pun melanjutkan, "Sebagai bukti terbaliknya dunia yang terbangun selama ini, kedua putera puteriku sekarang justru melihat bahwa aku lah yang telah berbuat jahat dengan menggugat cerai ayah mereka Luiz...", Maria mulai terisak dan matanya pun basah. Fernandes tetap diam dan tekun mendengarkan.

"Anehnya, mereka justru memutuskan tidak mau ikut denganku Luiz! Huuuuu....", kini Maria benar benar menangis.

"Sudah...sudahlah Maria, nanti saja di lanjutkan ceritanya kalau kamu tidak sanggup. Simpan saja dulu", tangan Fernandes kemudian menepuk lembut punggung tangan Maria Pedrosa. 
Ia meraih tissue yang ada di meja dan memberikannya pada Maria. Di perlakukan seperti itu Maria pun lebih tenang. 
Meski masih terisak, ia kini bisa berbicara pelan, "Suratnya..? Surat Perjanjian Kontrak Kerjanya mana Luiz? Sini biar aku tanda tangani..". Maria sudah bisa tersenyum meski pahit. 
Fernandes kemudian memandang dalam mata Maria, berdiri dan berjalan ke meja kerjanya di sudut ruangan, sambil berkata, "Sudah lama jadi Maria.. Satu hal! Kelihatannya kondisi Halilintar butuh penanganan dan kontrol dua puluh empat jam. Karena itu aku berharap kamu bisa tinggal sementara di sini. Kamar di belakang sudah aku siapkan juga. Hmmm...satu lagi! Karena tidak ada wanita selain kami disini, untuk mencegah fitnah, aku juga sudah ambil tenaga asisten rumah tangga yang akan tidur satu kamar denganmu nanti. Barusan juga aku sudah berhasil membujuk ibu dan nenekku untuk tinggal sementara di rumah ini,.kalaupun ibu tidak mau selamanya.".
Fernandes menjelaskan secara terperinci sambil menyerahkan lembar Surat Perjanjian di tangannya. 

Maria melongo dan terdiam. "Se-detail itu kamu memikirkannya Luiz? Bagaimana kamu bisa menambah pengeluaran dengan mengambil tenaga asisten rumah tangga pula Luiz? Uangnya?..Uangnya ada Luiz?" Maria menatap Fernandes dengan khawatir.

"Jangan khawatir Maria...Satu minggu lalu aku sudah menanda tangani kontrak kerja yang baru dengan perusahaan Taiwan. Salarynya dua kali...hmmm...iya mungkin lebih dua kali dari salary di perusahaan Italy yang lama", terang Fernandes sambil tersenyum lembut.

"Begitu erat kamu di topang oleh TUHAN Luiz...tak heran sih! Kamu begitu baik pada semua orang dan tak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Kamu dan anak anak juga begitu tekun berdoa dan beribadah..Syukurlah!".

"Oh iya Maria, tadi pagi aku juga sudah transfer €280 ke rekeningmu ya. Itu jumlah yang ada di Surat itu kan?", tambah Fernandes sambil mengintip Surat yang ada di tangan Maria sekilas.

 "Iya..€280! Kalau ada biaya biaya tambahan dalam perjalanan waktu..kamu sebutkan saja ya..Aku akan transfer di setiap akhir bulan berikut gaji bulan selanjutnya."

Maria tercengang. Ia berdiri dan langsung menghambur ke arah Fernandes, memeluknya dan berbisik, "Luiz...apakah kamu selalu se-detail ini?"

Fernandes bisa merasakan airmata Maria menetes di pundaknya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar