Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 6









“Menangis tak akan membuatmu hancur, berteriak tak akan membuatmu di benci oleh TUHAN”










“Papaaaa, sakit Pa…”, teriak pilu Halilintar ketika jarum besar itu menusuk tulang panggulnya. Fernandes menangis sejadi jadinya di luar Ruang Tindakan Rumah Sakit SLOAN INTERNATIONAL mendengar teriakan itu. 
Ya, tindakan Bone Marrow Puncture atau BMP memang sangat mengerikan. Ia bahkan mendengar seorang bapak sebelum Halilintar, yang baru saja menjalani tindakan yang sama juga menagis tidak saja ketika menjalani tetapi bahkan sebelum tindakan itu di lakukan.  Sampai sampai pihak keluarga membantu menguatkan Bapak ini dengan meminta fasillitas Hipnoteraphy terlebih dahulu agar si Bapak dapat di bujuk menjalani tindakan yang sangat mengerikan itu. Ini karena , meski tindakan dilakukan dengan proses pembiusan, pasien tetap merasakan sakitnya seperti apa yang baru di dengarnya dari teriakan Halilintar.

Fernandes hanya bisa melipat tangannya di dada dan terus berdoa sambil menangis sesunggukan semoga anak yang sangat Ia kasihi ini tetap kuat melewati semua proses pengobatan. Ia tak di ijinkan berada di samping Halilintar dan memegang tangannya karena dalam proses tindakan lain sebelumnya yang juga menimbulkan tangis keras anaknya, Fernandes hampir jatuh pingsan  hingga beberapa perawat Rumah Sakit tersebut harus kerepotan menolongnya.

”Kau jauh lebih kuat dari aku, Anakku!!..”, demikian Fernandes terus berbisik pada dirinya seraya airmatanya terus jatuh bercucuran.

Ia ingat tadi, Halilintar sempat bertanya dalam perjalanan dari Ruang Perawatan ke Ruang Tindakan ini, “Kalau di bius itu artinya,,,habis itu aku bobo ya Pa?..Berarti,,bilangin dokternya dong pa, kalau nanti udah di suntikin biusnya, aku di kasih waktu berdoa dulu.”

Halilintar memang tak pernah merengek untuk tidak menjalani semua proses pengobatannya meski pada saat nya ia pun menangis menahan rasa sakit yang hebat yang harus ia derita. Tak seperti anak anak lain se-usianya yang mungkin akan jera menghadapi setiap rasa sakit berikutnya setelah merasakan rasa sakit terdahulu, Halilintar seperti berdiri tegak, kokoh, tabah dan  terus menatap rasa sakitnya…meski kadang sambil menangis.

Fernandes takut-takut, mengintip ke dalam. Ada dua orang dokter dan tiga orang perawat di dalam ruangan,  selain Maria di samping Halilintar yang tertidur dalam proses bius tadi. Hhhhh….Ia beruntung memiliki Maria di sampingnya di saat seperti ini. Kepercayaan Halilintar pada Maria juga sedikit banyak telah memberi anak itu kekuatan lebih dalam menghadapi semua proses-proses semacam ini.

Sementara Fernandes tahu juga, bahwa kekuatan dirinyalah sebagai ayah yang menjadi tiang utama keberanian dan kekuatan anaknya itu. 

Tadi Fernandes sempat mengingatkan Halilintar, sehabis menjalani BMP , mereka akan pergi rekreasi ke pantai La Concha di San Sebastian. Dan Halilintar tersenyum begitu indah. Tak lupa ia sempat juga melirik lucu menggoda Maria. “Mama di ajak nggak ya Pa?’.
 
Maria memang telah meminta Halilintar untuk memanggilnya dengan sebutan Mama dan bukan lagi Tante.

”Okelah..kalau Mama nggak di ajak, kalian akan makan apa saja yang ada di pinggir jalan nanti. Tidak ada bekal kue coklat yang biasa!”, Maria terlihat pura-pura ngambek, dan Halilintar langsung tertawa terbahak kemudian berbisik, “Ih Mamaaaaa, jangan kue coklatnya dong yang jadi senjata…Papa juga entar tersiksa kalau nggak ada kue itu”
Mereka bertiga pun tersenyum lebar. Lewat tengah hari, telephone selular Fernandes berbunyi.  

“Hmm..Toby sudah waktunya pulang rupanya”. Lewat telephone selularnya pula, Fernandes segera memesan pengemudi tranportasi on-line menjemput anak sulungnya itu untuk menyusul mereka ke Rumah Sakit.

“Gimana adik pa? Nangis nggak dia?”, begitu sampai, Toby langsung mencecar Fernandes dengan pertanyaan. Fernandes yang masih menyisakan pilu bersandar ditembok sambil mengngguk lemah.

Terlihat Toby mengintip sebentar ke dalam Ruang Tindakan dan,,,ia pun menangis. 

“Kita ngak boleh lemah dan nangis seperti ini Pa,,,nanti adik jadi takut dan ikut lemah”, ujar Toby sesunggukan sambil memeluk Fernandes.

Anak sulungnya ini memang jadi lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak empat belas tahun. Ia tempat Fernandes mencurahkan kegalauan dan kekhawatiran hatinya selama ini. Toby kadang bisa dengan tekun dan diam terus mendengarkan Fernandes bercerita, dan setelah itu memeluk Fernandes tanpa berbicara apapun. Ia bahkan bisa tiba tiba sekuat batu karang saat Fernandes tiba tiba limbung dan membutuhkan tempat bersandar seperti yang terjadi saat ini.

Sebenarnya, ini tindakan BMP kedua yang di jalani Halilintar sejak di temukan nya penyakit kanker Hemapagositosys Syndrome (HPS) pada darah nya tiga bulan lalu. Ini di lakukan ntuk memastikan semua proses chemo teraphy selama ini efektif. Tak murah pasti. Namun bagi Fernandes, kekuatan Toby anak sulungnya, kehadiran Maria dan tentu saja ketabahan Halilintar sendiri telah mendorong dia untuk sanggup menjalani semua proses ini termasuk untuk menguatkan mereka secara finansial. Pertolongan TUHAN juga adalah kunci yang membuat Fernandes masih terlihat berdiri dengan kepala tegak meski dengan badai dan penderitaan se-mengerikan ini.

“Sudah yuk…”, bisik Maria ketika Ia dan Halilintar akhirnya terlihat keluar dari Ruang Tindakan yang langsung di sambut peluk dan ciuman dari Fernandes maupun Toby. Mereka bertiga berjalan seiring dengan kursi roda yang di duduki Halilintar menuju ruang perawatan. 

Ya, meski telah usai, Halilintar masih harus menginap satu malam lagi untuk memastikan keadaanya pasca tindakan BMP tersebut.

“Papa langsung keluar dulu ya Tob beli makan siang buat kita! Kamu temanin mereka dulu ya Nak..”, ujar Fernandes yang di balas anggukan kepala oleh Toby.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar