“Menangis tak akan membuatmu hancur, berteriak tak akan membuatmu di benci oleh TUHAN”
“Papaaaa, sakit Pa…”, teriak pilu Halilintar ketika
jarum besar itu menusuk tulang panggulnya. Fernandes menangis sejadi jadinya di
luar Ruang Tindakan Rumah Sakit SLOAN INTERNATIONAL mendengar teriakan itu.
Ya,
tindakan Bone Marrow Puncture atau BMP memang sangat mengerikan. Ia bahkan
mendengar seorang bapak sebelum Halilintar, yang baru saja menjalani tindakan
yang sama juga menagis tidak saja ketika menjalani tetapi bahkan sebelum
tindakan itu di lakukan. Sampai sampai
pihak keluarga membantu menguatkan Bapak ini dengan meminta fasillitas
Hipnoteraphy terlebih dahulu agar si Bapak dapat di bujuk menjalani tindakan
yang sangat mengerikan itu. Ini karena , meski tindakan dilakukan dengan proses
pembiusan, pasien tetap merasakan sakitnya seperti apa yang baru di dengarnya
dari teriakan Halilintar.
Fernandes
hanya bisa melipat tangannya di dada dan terus berdoa sambil menangis
sesunggukan semoga anak yang sangat Ia kasihi ini tetap kuat melewati semua
proses pengobatan. Ia tak di ijinkan berada di samping Halilintar dan memegang
tangannya karena dalam proses tindakan lain sebelumnya yang juga menimbulkan
tangis keras anaknya, Fernandes hampir jatuh pingsan hingga beberapa perawat Rumah Sakit tersebut harus
kerepotan menolongnya.
”Kau jauh lebih kuat
dari aku, Anakku!!..”,
demikian Fernandes terus berbisik pada dirinya seraya airmatanya terus jatuh
bercucuran.
Ia
ingat tadi, Halilintar sempat bertanya dalam perjalanan dari Ruang Perawatan ke
Ruang Tindakan ini, “Kalau di bius itu
artinya,,,habis itu aku bobo ya Pa?..Berarti,,bilangin dokternya dong pa, kalau
nanti udah di suntikin biusnya, aku di kasih waktu berdoa dulu.”.
Halilintar
memang tak pernah merengek untuk tidak menjalani semua proses pengobatannya
meski pada saat nya ia pun menangis menahan rasa sakit yang hebat yang harus ia
derita. Tak seperti anak anak lain se-usianya yang mungkin akan jera menghadapi
setiap rasa sakit berikutnya setelah merasakan rasa sakit terdahulu, Halilintar
seperti berdiri tegak, kokoh, tabah dan terus menatap rasa sakitnya…meski kadang
sambil menangis.
Fernandes
takut-takut, mengintip ke dalam. Ada dua orang dokter dan tiga orang perawat di
dalam ruangan, selain Maria di samping
Halilintar yang tertidur dalam proses bius tadi. Hhhhh….Ia beruntung memiliki
Maria di sampingnya di saat seperti ini. Kepercayaan Halilintar pada Maria juga
sedikit banyak telah memberi anak itu kekuatan lebih dalam menghadapi semua
proses-proses semacam ini.
Sementara
Fernandes tahu juga, bahwa kekuatan dirinyalah sebagai ayah yang menjadi tiang
utama keberanian dan kekuatan anaknya itu.
Tadi
Fernandes sempat mengingatkan Halilintar, sehabis menjalani BMP , mereka akan
pergi rekreasi ke pantai La Concha di San Sebastian. Dan Halilintar tersenyum
begitu indah. Tak lupa ia sempat juga melirik lucu menggoda Maria. “Mama di ajak nggak ya Pa?’.
Maria
memang telah meminta Halilintar untuk memanggilnya dengan sebutan Mama dan
bukan lagi Tante.
”Okelah..kalau Mama
nggak di ajak, kalian akan makan apa saja yang ada di pinggir jalan nanti.
Tidak ada bekal kue coklat yang biasa!”, Maria terlihat pura-pura ngambek, dan Halilintar
langsung tertawa terbahak kemudian berbisik, “Ih Mamaaaaa, jangan kue coklatnya dong yang jadi senjata…Papa juga
entar tersiksa kalau nggak ada kue itu”.
Mereka bertiga pun tersenyum
lebar. Lewat
tengah hari, telephone selular Fernandes berbunyi.
“Hmm..Toby sudah waktunya
pulang rupanya”. Lewat telephone selularnya pula, Fernandes segera memesan pengemudi
tranportasi on-line menjemput anak sulungnya itu untuk menyusul mereka ke Rumah
Sakit.
“Gimana adik pa?
Nangis nggak dia?”,
begitu sampai, Toby langsung mencecar Fernandes dengan pertanyaan. Fernandes
yang masih menyisakan pilu bersandar ditembok sambil mengngguk lemah.
Terlihat
Toby mengintip sebentar ke dalam Ruang Tindakan dan,,,ia pun menangis.
“Kita ngak boleh
lemah dan nangis seperti ini Pa,,,nanti adik jadi takut dan ikut lemah”, ujar Toby sesunggukan sambil
memeluk Fernandes.
Anak
sulungnya ini memang jadi lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak empat
belas tahun. Ia tempat Fernandes mencurahkan kegalauan dan kekhawatiran hatinya
selama ini. Toby kadang bisa dengan tekun dan diam terus mendengarkan Fernandes
bercerita, dan setelah itu memeluk Fernandes tanpa berbicara apapun. Ia bahkan
bisa tiba tiba sekuat batu karang saat Fernandes tiba tiba limbung dan
membutuhkan tempat bersandar seperti yang terjadi saat ini.
Sebenarnya,
ini tindakan BMP kedua yang di jalani Halilintar sejak di temukan nya penyakit
kanker Hemapagositosys Syndrome (HPS) pada darah nya tiga bulan lalu. Ini di
lakukan ntuk memastikan semua proses chemo teraphy selama ini efektif. Tak
murah pasti. Namun bagi Fernandes, kekuatan Toby anak sulungnya, kehadiran
Maria dan tentu saja ketabahan Halilintar sendiri telah mendorong dia untuk
sanggup menjalani semua proses ini termasuk untuk menguatkan mereka secara
finansial. Pertolongan TUHAN juga adalah kunci yang membuat Fernandes masih
terlihat berdiri dengan kepala tegak meski dengan badai dan penderitaan
se-mengerikan ini.
“Sudah yuk…”, bisik Maria ketika Ia dan
Halilintar akhirnya terlihat keluar dari Ruang Tindakan yang langsung di sambut
peluk dan ciuman dari Fernandes maupun Toby. Mereka bertiga berjalan seiring
dengan kursi roda yang di duduki Halilintar menuju ruang perawatan.
Ya,
meski telah usai, Halilintar masih harus menginap satu malam lagi untuk
memastikan keadaanya pasca tindakan BMP tersebut.
“Papa langsung keluar
dulu ya Tob beli makan siang buat kita! Kamu temanin mereka dulu ya Nak..”, ujar Fernandes yang di balas
anggukan kepala oleh Toby.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar