Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 5










Cinta seyogya nya selalu mendatangkan bahagia, meski tak selalu berujung sama. Namun, ternyata ada cinta yang datang tak pada tempatnya, tak pada waktunya, karena itu tak dengan restu orang pada umumnya. Cinta ini kadang memang tak datangkan bahagia, tapi tahu akan beristirahat di mana pada ujungnya, Bahagia!.




“Hallo Nak..Apa kabar?”, sapa Fernandes pada anak kurus di sebelah Maria. Anak ini kemudian merungkut senyum tanpa membalas sapaan Fernandes.

Maria melihat sekilas pada Alexis dan berujar,” Hallo juga Om, begitu dong jawabnya Nak..!”

Maria melirik lagi pada Fernandes dan tersenyum manis. “Dia memutuskan ikut bersamaku Luiz, karena memang anak ini tak pernah dekat dengan papa nya selama ini. Tapi sepertinya kau harus membantuku juga mengenai dia Luiz!”.

Fernandes mengulurkan tangan meraih gelas, minum seteguk dan sambal menatap lembut Alexis, “Nanti saja kita bicarakan itu Maria”, lanjut Fernandes tanpa melihat pada Maria.

“Sepertinya kamu suka main game..biasanya suka main game apa Nak?”

“Ya main apa saja yang ada di internet Om”, Alexis mulai menjawab meski suaranya hampir tak terdengar.

“Iya..ya! Di internet memang ada apa saja. Terutama untuk game, mereka menyediakan apa saja yang kita mau”, Fernandes sedikit memonyongkan bibirnya sambal berbicara membuat Alexis terlihat menahan tawa. 

“Tapi kamu tahu nggak Nak? Disana juga kadang ada jebakan dan racun yang bisa merusak kita penggunanya? Itu bisa muncul kapan saja tanpa permisi di layar computer sewaktu kita asyik bermain?”, ujar Fernandes mencoba membuka percakapan dengan topik khusus.

Alexis mengernyitkan kening, memutar bola matanya lucu, tapi kemudian tersenyum sambil mengangguk tanda mengerti yang di maksud Fernandes.

“Kalau main playstation kamu suka nggak Bang?”, Fernandes mulai dengan panggilan khusus pada 

Alexis yang langsung di jawab kali ini, “Suka sekali Om! Kalau main aku suka pakai Bayern Munchen. Mainnya bagus, apalagi kalau Roben staminanya nggak turun!”

Fernandes kemudian mengibaskan tangan ke atas memanggil pelayan resto tempat mereka saat ini duduk dan meminta bill dengan kode khusus.

“Dari sini, coba kita mampir ke rumah Om ya? Anak anak Om senangnya main playstation lho..Om juga! Om suka pakai Real Madrid kalau main. Oh iya, tadi kamu suka nya Bayern Munchen ya? Sepertinya kamu nggak bakalan menang deh kalau lawan Om..Nanti kamu lawan anak Om yang paling kecil aja, namanya Halilintar Bang..”, Fernandes menantang Alexis dengan lirikan lucu setelah mengetahui anak ini sudah terlihat nyaman bercakap-cakap dengan dia.

Mereka bertiga kemudian berjalan keluar dari tempat tersebut, setelah Fernandes membayar di kasir. Sambil berjalan, Maria yang sejak tadi senyum senyum saja mendengar percakapan Fernandes dan Alexis, mencubit pelan lengan Fernandes.

“Luizzzzz,,seandainya saja! Hhhh, kok kamu selalu bisa membaca apa yang ada di fikiranku, ha?”, sambil tetap tersenyum Maria berbisik pelan dan manja. 

Fernandes ikut tersenyum sambil tetap berbicara dengan Alexis, “ Kalau main internet, biasanya di warnet ya Bang? Di daerah mana?”

Maria terus termenung membayangkan saat pertama Ia memperkenalkan Fernandes dan Alexis tiga bulan lalu. Sejak itu ada begitu banyak momen yang indah di ciptakan Fernandes bersama keluarganya dan Alexis. Bahkan beberapa kali Fernandes berhasil bercakap-cakap berdua saja dengan Alexis tanpa kehadiran Maria. Setiap pagi Alexis ikut rutinitas membaca kitab suci bersama Fernandes, Toby dan Halilintar di samping saat saat mereka pergi ke pantai juga untuk berekreasi bersama. Saat itu, Maria sempat menjadi sangat yakin, Alexis akan kembali menjadi anak yang baik, karena tidak lagi bergaul bersama anak anak nakal yang sering membujuknya melakukan hal hal negative sebelumnya. 

Sampai pada suatu saat, Maria mengambil keputusan yang salah dengan menjemput Alexis kembali dan pergi berdua saja menghadiri suatu pertemuan. 

Sejak itu, tiba tiba Alexis kembali berontak. Beberapa kali Maria kehilangan kontak dan harus bersusah payah mencari sampai menemukan Alexis bergaul lagi dengan teman teman yang sebelumnya sempat ia tinggalkan.

“Oh TUHAN, mengapa aku sebodoh itu?”, isak tangis Maria terdengar sangat pelan di pundak Fernandes.

“Sudahlah Maria..Pada dasarnya Alexis adalah anak yang baik. Nanti ia akan menyadari betapa engkau menyayangi dia. Jangan khawatir Maria”, Fernandes hanya bisa menghibur Maria dengan cara ini meski ia pun ragu dengan apa yang ia ucapkan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar