Cinta seyogya nya selalu mendatangkan bahagia, meski tak selalu
berujung sama. Namun, ternyata ada cinta yang datang tak pada tempatnya, tak
pada waktunya, karena itu tak dengan restu orang pada umumnya. Cinta ini kadang
memang tak datangkan bahagia, tapi tahu akan beristirahat di mana pada
ujungnya, Bahagia!.
“Hallo
Nak..Apa kabar?”, sapa Fernandes pada anak kurus di
sebelah Maria. Anak ini kemudian merungkut senyum tanpa membalas sapaan
Fernandes.
Maria melihat sekilas
pada Alexis dan berujar,” Hallo juga Om,
begitu dong jawabnya Nak..!”
Maria melirik lagi pada
Fernandes dan tersenyum manis. “Dia
memutuskan ikut bersamaku Luiz, karena memang anak ini tak pernah dekat dengan
papa nya selama ini. Tapi sepertinya kau harus membantuku juga mengenai dia
Luiz!”.
Fernandes mengulurkan
tangan meraih gelas, minum seteguk dan sambal menatap lembut Alexis, “Nanti saja kita bicarakan itu Maria”,
lanjut Fernandes tanpa melihat pada Maria.
“Sepertinya
kamu suka main game..biasanya suka main game apa Nak?”
“Ya
main apa saja yang ada di internet Om”, Alexis mulai menjawab
meski suaranya hampir tak terdengar.
“Iya..ya!
Di internet memang ada apa saja. Terutama untuk game, mereka menyediakan apa
saja yang kita mau”, Fernandes sedikit memonyongkan bibirnya
sambal berbicara membuat Alexis terlihat menahan tawa.
“Tapi
kamu tahu nggak Nak? Disana juga kadang ada jebakan dan racun yang bisa merusak
kita penggunanya? Itu bisa muncul kapan saja tanpa permisi di layar computer
sewaktu kita asyik bermain?”, ujar Fernandes mencoba
membuka percakapan dengan topik khusus.
Alexis mengernyitkan
kening, memutar bola matanya lucu, tapi kemudian tersenyum sambil mengangguk
tanda mengerti yang di maksud Fernandes.
“Kalau
main playstation kamu suka nggak Bang?”, Fernandes mulai dengan
panggilan khusus pada
Alexis yang langsung di jawab kali ini, “Suka sekali Om! Kalau main aku suka pakai
Bayern Munchen. Mainnya bagus, apalagi kalau Roben staminanya nggak turun!”
Fernandes kemudian
mengibaskan tangan ke atas memanggil pelayan resto tempat mereka saat ini duduk
dan meminta bill dengan kode khusus.
“Dari
sini, coba kita mampir ke rumah Om ya? Anak anak Om senangnya main playstation
lho..Om juga! Om suka pakai Real Madrid kalau main. Oh iya, tadi kamu suka nya
Bayern Munchen ya? Sepertinya kamu nggak bakalan menang deh kalau lawan
Om..Nanti kamu lawan anak Om yang paling kecil aja, namanya Halilintar Bang..”,
Fernandes menantang Alexis dengan lirikan lucu setelah mengetahui anak ini
sudah terlihat nyaman bercakap-cakap dengan dia.
Mereka bertiga kemudian
berjalan keluar dari tempat tersebut, setelah Fernandes membayar di kasir.
Sambil berjalan, Maria yang sejak tadi senyum senyum saja mendengar percakapan
Fernandes dan Alexis, mencubit pelan lengan Fernandes.
“Luizzzzz,,seandainya
saja! Hhhh, kok kamu selalu bisa membaca apa yang ada di fikiranku, ha?”,
sambil tetap tersenyum Maria berbisik pelan dan manja.
Fernandes ikut tersenyum
sambil tetap berbicara dengan Alexis, “
Kalau main internet, biasanya di warnet ya Bang? Di daerah mana?”
Maria terus termenung
membayangkan saat pertama Ia memperkenalkan Fernandes dan Alexis tiga bulan
lalu. Sejak itu ada begitu banyak momen yang indah di ciptakan Fernandes
bersama keluarganya dan Alexis. Bahkan beberapa kali Fernandes berhasil
bercakap-cakap berdua saja dengan Alexis tanpa kehadiran Maria. Setiap pagi
Alexis ikut rutinitas membaca kitab suci bersama Fernandes, Toby dan Halilintar
di samping saat saat mereka pergi ke pantai juga untuk berekreasi bersama. Saat
itu, Maria sempat menjadi sangat yakin, Alexis akan kembali menjadi anak yang
baik, karena tidak lagi bergaul bersama anak anak nakal yang sering membujuknya
melakukan hal hal negative sebelumnya.
Sampai pada suatu saat,
Maria mengambil keputusan yang salah dengan menjemput Alexis kembali dan pergi
berdua saja menghadiri suatu pertemuan.
Sejak itu, tiba tiba
Alexis kembali berontak. Beberapa kali Maria kehilangan kontak dan harus
bersusah payah mencari sampai menemukan Alexis bergaul lagi dengan teman teman
yang sebelumnya sempat ia tinggalkan.
“Oh
TUHAN, mengapa aku sebodoh itu?”, isak tangis Maria
terdengar sangat pelan di pundak Fernandes.
“Sudahlah
Maria..Pada dasarnya Alexis adalah anak yang baik. Nanti ia akan menyadari
betapa engkau menyayangi dia. Jangan khawatir Maria”,
Fernandes hanya bisa menghibur Maria dengan cara ini meski ia pun ragu dengan
apa yang ia ucapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar