Luiz Fernandes kini bingung lagi. Haruskah ia tersenyum
atau menangis. Satu sudut matanya basah oleh kebahagiaan, sudut lainnya basah
oleh kekhawatiran.
"Bagaimana
keadaan Halilintar, Luiz?", begitu pintu terbuka, Maria langsung
bertanya dengan tatapan khawatir dan nafas menderu.
"Wow..wow..wow...!
Santai Neng! Masuk dan duduk saja dulu. Aku akan buatkan teh panas, sementara
jas dan jaketmu gantung saja di sudut sana", potong Fernandes
menenangkan sambil membantu membukakan sarung tangan Maria dan menuntun
tangannya duduk di ruang tamunya.
Telapak tangan Maria terasa sangat dingin.
Sambil berjalan, Maria terus menatap mata Fernandes ingin segera mendapat
jawaban atas pertanyaannya. Sambil tersenyum, Fernandes bergerak menuju dapur.
Tak lama, ia pun datang dengan segelas teh hangat di tangannya. Di letakkannya
gelas itu di hadapan Maria sambil menatap lembut.
"Halilintar sudah agak tenang..memang sempat beberapa kali demam 3
hari belakangan ini dan mengeluh matanya yang buta itu sakit lagi. Tapi hari
ini dia sudah lebih tenang. Ada Toby yang terus menghibur dan menguatkannya.
Kamu bagaimana? Maaf dua hari yang lalu tak mengerti maksud pembicaraanmu di
telephone. Suaramu tak begitu jelas mungkin karena signal", Fernandes
memulai pembicaraan sambil menghempaskan bokongnya dan duduk di sebelah Maria.
Krreeeetttttt,,,,pintu kamar berbunyi, Toby keluar dari kamar dan langsung menghambur ke ruang tamu. Mungkin karena mendengar ada yang datang.
Toby
menghampiri, mencium tangan Maria dan bertanya, " Tante baik baik saja?", Maria mengangguk tersenyum dan
Toby langsung pamit lagi ke dapur karena adiknya minta minum.
"Bujuk adikmu cepat tidur malam ini ya Tob, dia butuh banyak istirahat tuh!", Fernandes berbisik pelan saat ia melihat Toby sudah kembali dari dapur menuju ke kamar tidur mereka.
"Baik pah..", jawab Toby
mengacungkan jempolnya sambil mengangguk tersenyum pada Maria Pedrosa.
Baru
saja Fernandes akan membuka mulutnya berbicara kembali, lagu "The Power of
Love" nada dering telephone selular miliknya berbunyi tiba tiba.
Fernandes
melihat layar telephonenya sekilas dan bergumam, "Hmm,, telephone dari Ibuku, Maria...sebentar yaaa?",
Maria mengangguk sambil berdiri dan memberi kode dia akan menjenguk Halilintar
dan Toby di kamar mereka.
"Ya Bu..? Ada apa tumben malam malam ibu telephone?", Fernandes mulai berbicara.
Di ujung sana terdengar isak tangis Ibunya sebelum mulai berbicara, "Bagaimana keadaanmu anakku? Bagaimana Halilintar? Tadi siang Toby telephone dan bilang si bungsumu itu berulang kali demam beberapa hari ini? Ibu terus memikirkanmu Nak? Begitu berat bebanmu dalam keadaan seperti ini...".
Fernandes menghela nafas sebentar dan menjawab
sambil berjalan kemudian berdiri di dekat jendela sudut ruang tamunya, "Ibu jangan terlalu memikirkan kami di
sini Bu. Seharusnya Ibu mau saya jemput kesini, biar fikiranku tidak terbagi
dua."
Maria kemudian keluar dari kamar, dan berjalan
menuju sofa, Fernandes melirik sebentar ke Maria dan melanjutkan pembicaraan
dengan ibunya.
Sementara Fernandes berbicara di telephone, Maria duduk sambil
terus memandang lekat pada Fernandes. "Hhhh,,lelaki
ini terlihat lebih tua sekarang. Gurat ketua-an kini terlihat lebih jelas
akibat deraan masalah yang tak kunjung reda. Tapi lelaki ini tetap lembut.
Duh...ia begitu tegar dan baik meski banyak orang sering berkata buruk
tentangnya..", Maria terus membathin.
Kebaikan dan kelembutan Luiz
Fernandes memang bisa terlihat dari perilaku kedua anaknya yang sangat
menyayangi ayah mereka. Tentu hal ini karena Fernandes terus berusaha dekat
dengan mereka secara emosi. Begitupun bila Maria melihat dari sikap Ibu
Fernandes.
"Weiiiiiii....!!",
Fernandes tiba tiba mengibaskan tangan di wajah Maria.
"Melamun aja....! Mikirin apa
sih??", lanjut Fernandes sambil tersenyum menatap Maria.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar