Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 8







“Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk. Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya.”



Sudah pukul sebelas malam ini, dan Maria Pedrosa masih belum juga bisa terpejam. Sepulang dari Rumahsakit tadi ada begitu banyak percakapan yang berkesan baginya. Ia tersenyum senyum sendiri sambil menatap langit langit kamar mengingat semua pertanyaan pertanyaan kritis dari Toby sepanjang perjalanan pulang. 

Begitu juga dengan pertanyaan pertanyaan si kecil Halilintar. Ia begitu takjub dengan cara Fernandes memberi penjelasan pada kedua anaknya. Begitu terperinci, sabar dan penuh inspirasi. 

Fernandes terdengar begitu piawai memacu semangat kedua puteranya lewat semua penjelasan penjelasannya meski sambil mengemudi kendaraan mereka. 

Tak lupa, Fernandes pun dengan cara nya yang sangat pintar, selalu mengajak kedua buah hatinya itu untuk mengagungkan TUHAN karena semua perbuatan kasih yang telah mereka terima. Melihat ini semua, Maria teringat mendiang ayahnya sendiri. Airmatanya menetes…

“Hhh, kalau saja kau masih hidup Ayah…Pasti ayah pun tersenyum melihat kebahagiaanku sekarang”, bisik Maria pelan.

Paginya, Maria tersentak bangun. Ia melihat Alaura Sang Asisten Rumahtangga Luiz Fernandes tak lagi ada di sampingnya. Berarti sudah siang! Maria pun tergopoh gopoh keluar kamar, melirik sekilas pada jam dinding di ruang tamu. Sudah pukul 6:00! Hmm, ia melihat Fernandes sudah sibuk menata tas kerjanya, sambil memberi arahan dan instruksi pada Toby terkait jam pulang sekolahnya, sementara Toby pun terlihat sedang sibuk memasang dasi dan berdandan. Setelah berteriak kecil mengucapkan selamat pagi pada semua, Maria pun langsung masuk kamar mandi.

Setelah selesai berdandan, Maria keluar kamar dan siap berangkat bekerja. Ia melihat, Luiz Fernandes , Toby dan Halilintar sudah duduk di meja makan menunggunya sarapan bersama. Maria tersenyum lagi pada mereka dan bergabung, mengambil posisi duduk di kursi sebelah Fernandes.

Sebelum sarapan Luiz Fernandes membuka Alkitab di tangannya, membaca satu ayat dari sana dengan suara keras. Kemudian meminta semua memberi tanggapan atau kesan tentang ayat yang baru di bacakannya. 

“Ya, Saudara Tobias Halden Fernandes! Silahkan..”, Fernandes mempersilahkan ketika Toby mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Dan Toby pun berbicara.

Acara membaca kitab suci di tutup oleh Luiz Fernandes dengan doa sekaligus doa untuk sarapan yang akan mereka santap pagi ini. 

“TUHAN..Hamba hamba MU ini datang dan menundukkan kepala di hadapan hadirat MU yang suci. Kami mau ucapkan rasa syukur yang tak terhingga untuk semua ungkapan kasih yang telah ENGKAU tunjukkan pada keluarga kami hingga kami pun dapat tetap menikmati sukacita menjalani hidup meski di tengah cobaan dan problem yang melanda kami. Hari ini pun kami tak ingin melepaskan tangan kami dari tuntunanMU yang kuat ya TUHAN! Ijinkan kami terus berharap dan berpasrah pada MU dan mohon kiranya ENGKAU mau mengajar kami untuk dapat selalu menyenangkan hati MU melalui semua tindakan, tutur kata maupun cara kami berfikir. Kami percaya meski raga kami di rongrong oleh ketidak sempurnaan, roh kudus MU dapat selalu ada untuk kami dan mengingatkan kami di seluruh jalan dan hembusan nafas kami hari ini. Mohon juga ya TUHAN, sudilah kiranya memberi berkat MU atas makanan yang sebentar lagi akan kami santap ini, agar dapat menjadi kekuatan, kesegaran dan tenaga dinamis bagi kami. Hamba hamba Mu ini adalah manusia manusia bodoh dan tidak sempurna,,karena itu kami masih sering kali melakukan perkara perkara  yang tidak ENGKAU perkenan. Mohon juga kira nya ENGKAU sudi berbelas kasihan atas kami dan mengampuni kami ya TUHAN. Kami pun  sudah selayaknya harus juga mengampuni siapapun yang bersalah atas kami.
Akhirnya,,seluruh kehidupan kami,  permohonan bodoh dan tak sempurna ini kami serahkan dalam tangan MU ya TUHAN dan kami sampaikan ini hanya karena pengorbanan Putera MU, Yesus Kristus yang kami kasihi,,,Amiiin!”

Maria kaget dalam hati. Ia mendengar getaran pada suara Fernandes di sepanjang doa yang ia sampaikan.

Ajaib, ia pun melirik Alaura yang beragama muslim ikut menyatakan amin dengan suara sangat pelan di akhir doa Fernandes tadi. Maria pun sempat melihat Luiz Fernandes menghapus sudut matanya sekilas sebelum mulai bersantap.

“Oh,,Luiz! Andai saja aku telah mengenalmu seperti ini sejak lama”, Maria membathin sedih.

Siang ini, saat makan di Rumahsakit tempatnya bekerja, Verna Rosalba, sahabat Maria mendekati dan berbisik, “Bagaimana keadaan anaknya Pak Fernandes sekarang Kak?”.

“Sedikit membaik Ros..hari kamis nanti dia akan menjalani chemo teraphy lagi”, jawab Maria.

“Bagaimana awalnya sih Kak? Kok bisa tiba tiba begitu? Terdiagnosa penyakit berbahaya memang tidak ada gejala gejala awal ya Kak?”, tanya Rosalba lagi.

Maria pun bercerita bahwa Halilintar itu sebenarnya ada di bawah pengawasan Luiz Fernandes sejak berusia delapan tahun. Dan tak ada sedikitpun tanda tanda ia akan mengidap penyakit seperti itu. Namun pada akhir tahun dua ribu lima belas lalu, Luiz Fernandes mengalami masalah dengan perusahaan Italia tempatnya bekerja yang mengakibatkan ia harus mengajukan Surat Pengunduran diri pada waktu yang sama. 

Demi penyelamatan keadaan finansial, Luiz Fernandes pun sempat bergabung dengan sebuah perusahaan kontraktor milik saudaranya. Namun konsekwensinya adalah ia harus mau melakukan perjalanan dinas keluar kota apabila di butuhkan. 

Karena itu Fernandes akhirnya menghubungi Dolores Poldie mantan isterinya dan berharap ia bisa menitipkan kedua anaknya pada mantan isterinya itu untuk sementara waktu. 
Namun baru sebulan itu berlangsung Fernandes mendapat telepon bahwa anak bungsunya Helio Nestor Fernandes yang biasa ia panggil Halilintar itu mengalami masalah dengan penglihatannya sebelah kanan.

Karena itu, ia langsung pulang dan begitu melihat keadaanya, ia pun langsung melarikan Halilintar ke rumahsakit. Tapi sungguh mengagetkan, dokter yang menangani Halilintar menyatakan bahwa meski baru satu malam, Halilintar telah kehilangan penglihatannya sebelah kanan. Dokter pun merekomendasikan agar Halilintar yang baru berusia sepuluh tahun itu, segera di bawa ke rumah sakit yang khusus menangani mata anak karena ia menemukan ada nanah di dalam kornea mata Halilintar.
Di rumah sakit mata yang di tunjuk tersebut keadaan mata Halilintar justru semakin hari semakin memburuk bahkan sampai mengalami pembengkakan luar biasa. Hampir tiga bulan Luiz Fernandes dan Halilintar di pingpong kesana kemari oleh para dokter mata yang menangani kasusnya untuk mengetahui apa penyebab kerusakan fatal dari mata Halilintar. 

Pemeriksaan demi pemeriksaan yang sangat menyakitkan di lalui namun tetap tidak di temukan jawaban. Tak terhitung lagi entah berapa kali Luiz Fernandes harus meraung-raung menangis dan memohon kepada para dokter agar segera menemukan akar masalah mata anaknya itu, karena tak tahan melihat penderitaan dan tangisan perih dari Halilintar. Tak terhitung pula entah berapa ratus atau bahkan ribu Euro yang telah di habiskan untuk menjalani semua proses pemeriksaan.

Sampai pada akhirnya semua dokter menyerah dan mengatakan bahwa mata Halilintar tak mungkin lagi terselamatkan. Jalan satu satunya hanya operasi pencangkokan protesa atau bola mata palsu pada mata Halilintar untuk mencegah penyakit itu menjalar ke mata yang kiri.

Pada saat itulah, salah satu dokter mencurigai adanya titik titik putih pada bola mata Halilintar yang rusak. Ia pun segera merekomendasikan agar Halilintar di bawa ke Rumah Sakit Pusat Khusus Kanker Di Spanyol untuk menjalani lagi Test MRI, yang akhirnya di lanjutkan dengan Test BMP ( Bone Marrow Puncture). 

“Dan…dari sini lah seluruh ceritanya dimulai Ros! Kalau kamu ingin melihat video nya, aku punya di HP ini Ros”, Maria mengakhiri ceritanya sambil menunjukkan videonya pada Rosalba.

“Ya ampun…TUHAN!”, Verna Rosalba menyusut airmatanya setelah mendengar seluruh cerita Maria temannya.





CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 7



“Sewaktu tidak ada lagi harapan di depan mu, maka diamlah! Tetapi apabila masih ada setitik peluang  yang bisa engkau dapatkan, berteriaklah sekencang mungkin!”



Begitu kembali dengan tiga bungkus nasi di tangannya, Fernandes memanggil Toby keluar ruang perawatan dan memintaya segera mencuci tangan dahulu. Di dalam, Maria Pedrosa sedang asyik berbicara sambil tersenyum senyum dengan Halilintar.

“Ayoooo…Lagi pada ngomongin apa sih?’, sapa Fernandes pada mereka berdua sambil tersenyum membuka bungkus nasi yang baru di belinya yang dibalas dengan lirikan lucu oleh Maria dan Halilintar. Tak lama Toby pun muncul dan bergabung dengan mereka. 

“Ini lho Luiz…! Halilintar bilang, ia berubah pikiran. Dari pada kita ke San Sebastian lebih baik  perjalanannya di tunda saja sampai akhir tahun nanti. Dia ingin sekali mengunjungi kakeknya ke Valencia. Disana juga kan ada pantai Saplaya. Apalagi ini sudah bulan Oktober. Kan tinggal dua bulan lagi saja”, lanjut Maria lagi sambil menyuapkan nasi sedikit pada Halilintar dan kemudian menyuap untuk dirinya sendiri seolah mewakili berbicara pada Luiz Fernandes.

“Hmm,,ide yang bagus itu Pa! Aku juga ingin melihat keadaan kakek. Rasanya asyik bicara sama kakek tentang sejarah Pa..”, tukas Toby pula setelah mendengar penuturan Maria.

“Bagaimana keadaanmu anakku?”, tanya Fernandes pada Halilintar lembut seolah tidak menanggapi usulan Maria dan Toby puteranya.

“Masih pusing Pa... Memangnya aku tadi nangis nangis ya Pa waktu di bius? Kata Kak Toby aku begitu…”, jawab Halilintar lemah.

“Iya Nak…Tapi kamu nggak ingat kan? Berarti nggak apa apa dong? Oh iya…Memang nya kamu mau kita ke Valencia aja akhir tahun nanti?”, tanya Fernandes lagi sambil mengelus kepala anak bungsunya.

“Iya Pa..! Boleh nggak?”, mata Halilintar menyelidik ragu ragu mengatakan ini pada ayahnya.

“Tentu saja boleh anakku,,Tapi bagaimana dengan rencana kita ke San Sebastian? Nggak usah aja Nak?”, lanjut Fernandes lagi. Halilintar pun mengangguk di ikuti senyum Maria dan Toby di sampingnya.

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat lagi kalau makannya sudah selesai ya sayang. Papa mau telephone kantor sebentar”,kata Fernandes sambil meraih telepon selular miliknya di meja kecil dekat tempat tidur Halilintar. 
Ia berjalan keluar kamar sambil menekan nomor telepon Mr. James Lee yang adalah Bos-nya di kantor.

“Hallo Pak Fernandes, bagaimana kabar anak anda? Sudah selesaikah tindakannya?”, suara dari seberang langsung terdengar menyapa ramah begitu tersambung.

“Sudah selesai Pak..Dan dia baik baik saja meski masih sedikit pusing akibat pengaruh bius tadi. Hanya…Mungkin saya terpaksa masuk kantor agak siang besok. Anak saya masih harus di rawat satu malam lagi untuk memastikan keadaannya baik baik saja pasca tindakan itu. Bagaimana Pak? Apakah Bapak keberatan?”, Luiz Fernandes memberi informasi yang jelas pada Bosnya itu sembari meminta izin untuk masuk agak siang ke kantor besok.

“Tentu saja tidak apa Pak Fernandes..System Organisasi yang Bapak rancang amat mudah di jalankan anak buah Bapak. Anda tidak perlu terlalu risau. Mereka mengerti apa yang harus di lakukan. Take your time…”, jawab Mr. Lee dengan cepat menanggapi permintaan ijin Fernandes.

Baru saja ia menutup pembicaraanya, telepon di tangannya berbunyi kembali.

”Hmm..Ibu!”, bisik Fernandes pelan setelah melihat siapa yang ber-telepon.

“Ya bu?”, jawab Fernandes yang langsung di balas oleh Ibunya.

“Bagaimana cucuku Luiz…? Baik baik sajakah? Apakah dia menangis tadi? Pasti sakit sekali jarum sebesar itu menusuk tulang kan Luiz..?”, Ibunya langsung mencecar Fernandes dengan sederet pertanyaan.

Fernandes pun tersenyum, “Tenang saja Ibu..Dia baik baik saja. Apakah Ibu dan Nenek sudah makan siang?”

“Tenang…Tenang!! Kamu di sana kan lihat dia! Ibu kan tidak! Bagaimana bisa tenang? Terus..?Sekarang dia sedang apa Luiz?....Hallo…? Luiz! Hallo!”, Ibunya seperti tidak sabar terus berbicara dan bertanya dengan suara yang cemas.

“Sudahlah Ibu..Percaya saja. Halilintar jauh lebih kuat dari kita semua. Sekarang dia baru saja mau istirahat setelah makan siang. Ibu kok tidak jawab pertanyaanku? Ibu dan Nenek sudah makan siang kan? Nona Alaura masak kan?”, Fernandes bertanya lagi sambil menyebut nama Asisten Rumah Tangga yang ia pekerjakan di rumahnya.

“Sudah Nak…Ya! Alaura juga masak kok. Ya sudah kalau begitu. Kapan dia bisa di bawa pulang?”, lanjut Ibunya lagi yang langsung di balas dengan keterangan lengkap oleh Fernandes. 
Seraya ia menutup pembicaraan di telepon Fernandes melihat Dr.Diane Constance yang menangani anaknya berjalan melintas tidak jauh darinya. Sepertinya hendak melakukan kunjungan ke ruang perawatan di seberang sana.

Fernandes kemudian duduk di bawah pohon tidak jauh dari pintu Ruang Perawatan Halilintar. Ia mengeluarkan lagi telepon selular miliknya tapi kali ini dia tidak hendak me nelepon seseorang. Ia ingin menuliskan sesuatu. 

Airmatanya kemudian jatuh sambil menulis….


Semarak matamu berhias bintang kejora
Indah senyummu bagai permata
Engkau putra Sang Halilintar yang perkasa
Yang hadir binarkan ceria dan tawa
Mengapa sinarmu begitu redup wahai buah hatiku tercinta
Mengapa mendung bisa tutupi indah senyummu yang ceria
Pedih hatiku lihat engkau meringis menderita
Sang angkara murka yang datang t'lah buat kekasihku merana
Oh Khalik Semesta..
Tolong pindahkan semua yang ia rasa
Ijinkan itu semua aku yang menanggungnya..
Dan bukan dia..
Kalau pun itu harus ku bayar dengan nyawa,,aku rela
Ku mohon Ya TUHAN pencipta Alam Semesta..
Hadirkan lagi senyuman indah si bintang kejora..
Jangan ijinkan ia menangis lagi dan sengsara..