Minggu, 29 Januari 2017

CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 7



“Sewaktu tidak ada lagi harapan di depan mu, maka diamlah! Tetapi apabila masih ada setitik peluang  yang bisa engkau dapatkan, berteriaklah sekencang mungkin!”



Begitu kembali dengan tiga bungkus nasi di tangannya, Fernandes memanggil Toby keluar ruang perawatan dan memintaya segera mencuci tangan dahulu. Di dalam, Maria Pedrosa sedang asyik berbicara sambil tersenyum senyum dengan Halilintar.

“Ayoooo…Lagi pada ngomongin apa sih?’, sapa Fernandes pada mereka berdua sambil tersenyum membuka bungkus nasi yang baru di belinya yang dibalas dengan lirikan lucu oleh Maria dan Halilintar. Tak lama Toby pun muncul dan bergabung dengan mereka. 

“Ini lho Luiz…! Halilintar bilang, ia berubah pikiran. Dari pada kita ke San Sebastian lebih baik  perjalanannya di tunda saja sampai akhir tahun nanti. Dia ingin sekali mengunjungi kakeknya ke Valencia. Disana juga kan ada pantai Saplaya. Apalagi ini sudah bulan Oktober. Kan tinggal dua bulan lagi saja”, lanjut Maria lagi sambil menyuapkan nasi sedikit pada Halilintar dan kemudian menyuap untuk dirinya sendiri seolah mewakili berbicara pada Luiz Fernandes.

“Hmm,,ide yang bagus itu Pa! Aku juga ingin melihat keadaan kakek. Rasanya asyik bicara sama kakek tentang sejarah Pa..”, tukas Toby pula setelah mendengar penuturan Maria.

“Bagaimana keadaanmu anakku?”, tanya Fernandes pada Halilintar lembut seolah tidak menanggapi usulan Maria dan Toby puteranya.

“Masih pusing Pa... Memangnya aku tadi nangis nangis ya Pa waktu di bius? Kata Kak Toby aku begitu…”, jawab Halilintar lemah.

“Iya Nak…Tapi kamu nggak ingat kan? Berarti nggak apa apa dong? Oh iya…Memang nya kamu mau kita ke Valencia aja akhir tahun nanti?”, tanya Fernandes lagi sambil mengelus kepala anak bungsunya.

“Iya Pa..! Boleh nggak?”, mata Halilintar menyelidik ragu ragu mengatakan ini pada ayahnya.

“Tentu saja boleh anakku,,Tapi bagaimana dengan rencana kita ke San Sebastian? Nggak usah aja Nak?”, lanjut Fernandes lagi. Halilintar pun mengangguk di ikuti senyum Maria dan Toby di sampingnya.

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat lagi kalau makannya sudah selesai ya sayang. Papa mau telephone kantor sebentar”,kata Fernandes sambil meraih telepon selular miliknya di meja kecil dekat tempat tidur Halilintar. 
Ia berjalan keluar kamar sambil menekan nomor telepon Mr. James Lee yang adalah Bos-nya di kantor.

“Hallo Pak Fernandes, bagaimana kabar anak anda? Sudah selesaikah tindakannya?”, suara dari seberang langsung terdengar menyapa ramah begitu tersambung.

“Sudah selesai Pak..Dan dia baik baik saja meski masih sedikit pusing akibat pengaruh bius tadi. Hanya…Mungkin saya terpaksa masuk kantor agak siang besok. Anak saya masih harus di rawat satu malam lagi untuk memastikan keadaannya baik baik saja pasca tindakan itu. Bagaimana Pak? Apakah Bapak keberatan?”, Luiz Fernandes memberi informasi yang jelas pada Bosnya itu sembari meminta izin untuk masuk agak siang ke kantor besok.

“Tentu saja tidak apa Pak Fernandes..System Organisasi yang Bapak rancang amat mudah di jalankan anak buah Bapak. Anda tidak perlu terlalu risau. Mereka mengerti apa yang harus di lakukan. Take your time…”, jawab Mr. Lee dengan cepat menanggapi permintaan ijin Fernandes.

Baru saja ia menutup pembicaraanya, telepon di tangannya berbunyi kembali.

”Hmm..Ibu!”, bisik Fernandes pelan setelah melihat siapa yang ber-telepon.

“Ya bu?”, jawab Fernandes yang langsung di balas oleh Ibunya.

“Bagaimana cucuku Luiz…? Baik baik sajakah? Apakah dia menangis tadi? Pasti sakit sekali jarum sebesar itu menusuk tulang kan Luiz..?”, Ibunya langsung mencecar Fernandes dengan sederet pertanyaan.

Fernandes pun tersenyum, “Tenang saja Ibu..Dia baik baik saja. Apakah Ibu dan Nenek sudah makan siang?”

“Tenang…Tenang!! Kamu di sana kan lihat dia! Ibu kan tidak! Bagaimana bisa tenang? Terus..?Sekarang dia sedang apa Luiz?....Hallo…? Luiz! Hallo!”, Ibunya seperti tidak sabar terus berbicara dan bertanya dengan suara yang cemas.

“Sudahlah Ibu..Percaya saja. Halilintar jauh lebih kuat dari kita semua. Sekarang dia baru saja mau istirahat setelah makan siang. Ibu kok tidak jawab pertanyaanku? Ibu dan Nenek sudah makan siang kan? Nona Alaura masak kan?”, Fernandes bertanya lagi sambil menyebut nama Asisten Rumah Tangga yang ia pekerjakan di rumahnya.

“Sudah Nak…Ya! Alaura juga masak kok. Ya sudah kalau begitu. Kapan dia bisa di bawa pulang?”, lanjut Ibunya lagi yang langsung di balas dengan keterangan lengkap oleh Fernandes. 
Seraya ia menutup pembicaraan di telepon Fernandes melihat Dr.Diane Constance yang menangani anaknya berjalan melintas tidak jauh darinya. Sepertinya hendak melakukan kunjungan ke ruang perawatan di seberang sana.

Fernandes kemudian duduk di bawah pohon tidak jauh dari pintu Ruang Perawatan Halilintar. Ia mengeluarkan lagi telepon selular miliknya tapi kali ini dia tidak hendak me nelepon seseorang. Ia ingin menuliskan sesuatu. 

Airmatanya kemudian jatuh sambil menulis….


Semarak matamu berhias bintang kejora
Indah senyummu bagai permata
Engkau putra Sang Halilintar yang perkasa
Yang hadir binarkan ceria dan tawa
Mengapa sinarmu begitu redup wahai buah hatiku tercinta
Mengapa mendung bisa tutupi indah senyummu yang ceria
Pedih hatiku lihat engkau meringis menderita
Sang angkara murka yang datang t'lah buat kekasihku merana
Oh Khalik Semesta..
Tolong pindahkan semua yang ia rasa
Ijinkan itu semua aku yang menanggungnya..
Dan bukan dia..
Kalau pun itu harus ku bayar dengan nyawa,,aku rela
Ku mohon Ya TUHAN pencipta Alam Semesta..
Hadirkan lagi senyuman indah si bintang kejora..
Jangan ijinkan ia menangis lagi dan sengsara..














CINTA DI UJUNG DUKA CHAPTER 6









“Menangis tak akan membuatmu hancur, berteriak tak akan membuatmu di benci oleh TUHAN”










“Papaaaa, sakit Pa…”, teriak pilu Halilintar ketika jarum besar itu menusuk tulang panggulnya. Fernandes menangis sejadi jadinya di luar Ruang Tindakan Rumah Sakit SLOAN INTERNATIONAL mendengar teriakan itu. 
Ya, tindakan Bone Marrow Puncture atau BMP memang sangat mengerikan. Ia bahkan mendengar seorang bapak sebelum Halilintar, yang baru saja menjalani tindakan yang sama juga menagis tidak saja ketika menjalani tetapi bahkan sebelum tindakan itu di lakukan.  Sampai sampai pihak keluarga membantu menguatkan Bapak ini dengan meminta fasillitas Hipnoteraphy terlebih dahulu agar si Bapak dapat di bujuk menjalani tindakan yang sangat mengerikan itu. Ini karena , meski tindakan dilakukan dengan proses pembiusan, pasien tetap merasakan sakitnya seperti apa yang baru di dengarnya dari teriakan Halilintar.

Fernandes hanya bisa melipat tangannya di dada dan terus berdoa sambil menangis sesunggukan semoga anak yang sangat Ia kasihi ini tetap kuat melewati semua proses pengobatan. Ia tak di ijinkan berada di samping Halilintar dan memegang tangannya karena dalam proses tindakan lain sebelumnya yang juga menimbulkan tangis keras anaknya, Fernandes hampir jatuh pingsan  hingga beberapa perawat Rumah Sakit tersebut harus kerepotan menolongnya.

”Kau jauh lebih kuat dari aku, Anakku!!..”, demikian Fernandes terus berbisik pada dirinya seraya airmatanya terus jatuh bercucuran.

Ia ingat tadi, Halilintar sempat bertanya dalam perjalanan dari Ruang Perawatan ke Ruang Tindakan ini, “Kalau di bius itu artinya,,,habis itu aku bobo ya Pa?..Berarti,,bilangin dokternya dong pa, kalau nanti udah di suntikin biusnya, aku di kasih waktu berdoa dulu.”. 

Halilintar memang tak pernah merengek untuk tidak menjalani semua proses pengobatannya meski pada saat nya ia pun menangis menahan rasa sakit yang hebat yang harus ia derita. Tak seperti anak anak lain se-usianya yang mungkin akan jera menghadapi setiap rasa sakit berikutnya setelah merasakan rasa sakit terdahulu, Halilintar seperti berdiri tegak, kokoh, tabah dan  terus menatap rasa sakitnya…meski kadang sambil menangis.

Fernandes takut-takut, mengintip ke dalam. Ada dua orang dokter dan tiga orang perawat di dalam ruangan,  selain Maria di samping Halilintar yang tertidur dalam proses bius tadi. Hhhhh….Ia beruntung memiliki Maria di sampingnya di saat seperti ini. Kepercayaan Halilintar pada Maria juga sedikit banyak telah memberi anak itu kekuatan lebih dalam menghadapi semua proses-proses semacam ini.

Sementara Fernandes tahu juga, bahwa kekuatan dirinyalah sebagai ayah yang menjadi tiang utama keberanian dan kekuatan anaknya itu. 

Tadi Fernandes sempat mengingatkan Halilintar, sehabis menjalani BMP , mereka akan pergi rekreasi ke pantai La Concha di San Sebastian. Dan Halilintar tersenyum begitu indah. Tak lupa ia sempat juga melirik lucu menggoda Maria. “Mama di ajak nggak ya Pa?’.
 
Maria memang telah meminta Halilintar untuk memanggilnya dengan sebutan Mama dan bukan lagi Tante.

”Okelah..kalau Mama nggak di ajak, kalian akan makan apa saja yang ada di pinggir jalan nanti. Tidak ada bekal kue coklat yang biasa!”, Maria terlihat pura-pura ngambek, dan Halilintar langsung tertawa terbahak kemudian berbisik, “Ih Mamaaaaa, jangan kue coklatnya dong yang jadi senjata…Papa juga entar tersiksa kalau nggak ada kue itu”. 
Mereka bertiga pun tersenyum lebar. Lewat tengah hari, telephone selular Fernandes berbunyi.  

“Hmm..Toby sudah waktunya pulang rupanya”. Lewat telephone selularnya pula, Fernandes segera memesan pengemudi tranportasi on-line menjemput anak sulungnya itu untuk menyusul mereka ke Rumah Sakit.

“Gimana adik pa? Nangis nggak dia?”, begitu sampai, Toby langsung mencecar Fernandes dengan pertanyaan. Fernandes yang masih menyisakan pilu bersandar ditembok sambil mengngguk lemah.

Terlihat Toby mengintip sebentar ke dalam Ruang Tindakan dan,,,ia pun menangis. 

“Kita ngak boleh lemah dan nangis seperti ini Pa,,,nanti adik jadi takut dan ikut lemah”, ujar Toby sesunggukan sambil memeluk Fernandes.

Anak sulungnya ini memang jadi lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak empat belas tahun. Ia tempat Fernandes mencurahkan kegalauan dan kekhawatiran hatinya selama ini. Toby kadang bisa dengan tekun dan diam terus mendengarkan Fernandes bercerita, dan setelah itu memeluk Fernandes tanpa berbicara apapun. Ia bahkan bisa tiba tiba sekuat batu karang saat Fernandes tiba tiba limbung dan membutuhkan tempat bersandar seperti yang terjadi saat ini.

Sebenarnya, ini tindakan BMP kedua yang di jalani Halilintar sejak di temukan nya penyakit kanker Hemapagositosys Syndrome (HPS) pada darah nya tiga bulan lalu. Ini di lakukan ntuk memastikan semua proses chemo teraphy selama ini efektif. Tak murah pasti. Namun bagi Fernandes, kekuatan Toby anak sulungnya, kehadiran Maria dan tentu saja ketabahan Halilintar sendiri telah mendorong dia untuk sanggup menjalani semua proses ini termasuk untuk menguatkan mereka secara finansial. Pertolongan TUHAN juga adalah kunci yang membuat Fernandes masih terlihat berdiri dengan kepala tegak meski dengan badai dan penderitaan se-mengerikan ini.

“Sudah yuk…”, bisik Maria ketika Ia dan Halilintar akhirnya terlihat keluar dari Ruang Tindakan yang langsung di sambut peluk dan ciuman dari Fernandes maupun Toby. Mereka bertiga berjalan seiring dengan kursi roda yang di duduki Halilintar menuju ruang perawatan. 

Ya, meski telah usai, Halilintar masih harus menginap satu malam lagi untuk memastikan keadaanya pasca tindakan BMP tersebut.

“Papa langsung keluar dulu ya Tob beli makan siang buat kita! Kamu temanin mereka dulu ya Nak..”, ujar Fernandes yang di balas anggukan kepala oleh Toby.